
Selesai makan malam, Faris dan Herman menahan Adinda bersama Budiman untuk tidak pulang. Tia memutuskan keluar dari ruangan VVIP tersebut. Sedangkan Malik masih stay bersama anak-anaknya.
Di malam ini mereka membahas tentang keadaan perusahaan. Terutama pada peneroran Gilang. Adinda sangat tenang ketika membahas soal itu. Adinda tahu kalau dirinya memang diserang habis-habisan. Ia sudah memiliki strategi sebelum terjadi penusukan itu. Ia tidak akan cerita kepada siapapun. Lalu bagaimana dengan Budiman? Budiman sendiri akan mendukung sang istri agar bisa melaksanakan kewajibannya. Budiman tidak akan ikut campur dalam masalah ini. Akan tetapi Budiman sendiri memegang penuh Adinda. Jika ada kesalahan maka Budiman akan menegurnya.
Setelah itu mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Dengan perasaan lega Adinda bersama Budiman sudah menemukan jawabannya. Tinggal kedua orang tuanya banyak mengeksekusi mereka.
"Enaknya bagaimana ya? Apakah kita memiliki anak dulu atau kuliah lebih dahulu?" tanya Budiman yang membuat Adinda menepuk jidatnya.
"Kamu itu ngomong apa sih? Memangnya usia kamu berapa? Kok ngebet banget punya anak," tanya Adinda yang tidak tahu usia sebenarnya Budiman.
"Ya seharusnya kamu menanggapi dong. Aku memang pengen punya anak. Tapi kamunya nggak mau," jawab Budiman.
"Bukannya nggak mau. Perutku rumah masih sakit. Nunggu sembuh nanti kamu bisa menghajarku dengan sesuka hatimu," ucap Adinda yang membuat Budiman bola matanya membulat sempurna. Namun hatinya sangat kegirangan sekali.
"Apakah itu benar? Apakah kamu nggak marah jika aku melakukannya terus-terusan?" tanya Budiman yang semakin semangat menunggu Adinda sembuh.
"Yang gak lah. Lagian juga tujuan menikahi itu apa? Kamu itu sangat aneh sekali. Kok bilang aku nggak pengen punya anak. Semua wanita manapun pasti mau. Kalau keadaannya kayak gini gimana? Nunggu seminggu lagi. Terus kalau kuliah gimana?" Tanya Adinda.
"Kita bisa menitipkan kepada kedua orang tua kita. Dengan catatan aku akan memberikan uang bagiku selama bekerja di Amerika kepada mereka. Aku di sana akan bekerja paruh waktu," jawab Budiman yang serius dengan keadaan.
"Kamu mau kerja apa? Memangnya kamu nggak memikirkan kisah selanjutnya bagaimana? Kamu nggak tahu perasaan aku telah memiliki anak. Aku akan rindu kepadanya dan bisa-bisa menangis karena berpisah dengan anakku itu. Lebih baik setelah kuliah kita akan memiliki anak. Jadi aku bisa membawanya sekaligus merawatnya sendiri dalam bekerja," pinta Adinda.
Tiba-tiba saja hati Budiman merasa teriris. Apa yang dikatakan oleh Adinda itu semuanya benar. Memang berpisah dengan anak sama aja berpisah raga dan jiwanya. Oleh karena itu Budiman harus mencari cara agar menunda kehamilan Adinda.
"Ya sudah kalau begitu. Aku nggak marah sama kamu. Lebih baik kita selesaikan saja S3. Lagian kita di sana masih satu apartemen."
"Maksudku begitu. Kalau kamu nggak mau ya sudah. Berat loh melepaskan seorang anak."
"Aku tahu itu. Yah mudah-mudahan saja di sana Kamu hamil dan melahirkan bayiku. Pulang-pulang kita membawa dia ke Jakarta dan memperkenalkan kepada keluarga besar kita."
"Ada-ada saja sih rencana kamu itu. Sudah malam aku ingin tidur. Lain kali kamu jangan membuat ide rencana gila seperti itu. Aku pusing. Lebih baik kita jalankan saja semuanya dengan tenang. Kalau sudah waktunya, Tuhan akan memberikan kita momongan," ucap Adinda yang mulai memejamkan kedua matanya.
Faris dan Herman yang belum tidur Masih resah dengan jawaban Adinda. Tak lama Malik datang sambil membawa snack lalu menaruhnya di meja. Malik menatap mereka sangat resah.
"Kalian kenapa Kok rasa seperti itu? Bukannya tidur malah seperti ini," tanya Malik yang menghempaskan bokongnya di kursi.
"Apakah Ayah tadi lihat Adinda yang sangat tenang sekali menghadapi masalah ini?" tanya Faris.
"Ayah tahu itu. Lalu kenapa kalian sangat keberatan sekali? Apakah kalian tidak bisa membaca wajah Adinda? Apakah kalian tidak mengenal Adinda sejak kecil bagaimana?" tanya Malik balik kepada mereka.
"Bukannya begitu kak. Ini menyangkut orang banyak di dalam perusahaan. Apalagi yang dihadapinya adalah Gilang orangnya yang nggak kaleng-kaleng sering membuat ulah," jawab Herman yang sangat ketakutan sekali.
"Nih Ayah kasih tahu siapa Adinda sebenarnya. Jika wajahnya tenang dan tidak berbicara sedikitpun. Adinda sudah memiliki rencana yang matang untuk menyerang Gilang. Adinda bukan CEO yang kaleng-kaleng. Adinda sendiri adalah memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Jadi Kalau soal begini, kalian lepaskan saja. Biarkan Adinda yang menanganinya," jelas Malik yang percaya pada putrinya itu.
"Apakah itu tidak bahaya yah?" tanya Faris.
"Bahaya sih bahaya. Tapi mau bagaimana lagi. Jika semuanya sudah terkena Adinda. Maka dia harus bertanggung jawab semuanya. Gilang belum tahu siapa sebenarnya Adinda. Kalau Adinda sudah bertindak. Bisa-bisa Gilang akan dimiskinkan begitu saja. untuk saat ini Adinda sudah memiliki banyak bukti. Bukti-bukti itu bisa dilempar ke pengadilan. Jadi mau bagaimana lagi? Yang digarisbawahi ini kalian tetaplah tenang. Jangan mudah terprovokasi oleh Gilang. Santai saja menghadapi orang seperti itu. Cepat atau lambat mereka akan tahu siapa Gilang sebenarnya. Oh ya untuk masalah tender itu, kalian jangan sampai melepaskannya. Tender itu sangat susah sekali didapatkan. Adikmu sangat beruntung sekali mendapatkan tender sebesar itu. Soal yang memberikan tender, dia adalah teman ayah. Dia sudah tahu sepak terjang Gilang. Jadi dia lebih percaya pada Adinda," jelas Malik.
"Apakah Ayah melakukan nepotisme?" tanya Faris yang mulai mencurigai Malik.
"Yang nggaklah. Kata siapa Ayah melakukan nepotisme. Ayah nggak tahu kalau Adinda mengambil tender itu. Ayah sendiri baru tahu dari dia dan mengatakan kalau putrimu itu hebat dan bisa merebut tender besar itu," jawab Malik yang sejujurnya tidak tahu apa-apa tentang tender besar itu.
"Oh jadi ayah nggak tahu soal itu. Berarti Ayah juga tidak mengetahui informasi tentang hal itu?" tanya Faris.
"Kalau masalah informasi sudah tahu. Tapi kalau masalah adikmu iku tender Ayah nggak tahu. Tahu-tahunya beberapa hari yang lalu sang panitia mengatakan Kalau Adinda benar-benar memenangkan tender tersebut," jawab Malik. "Tinggal tiga bulan lagi. Budiman dan Adinda di sini. Selanjutnya Budiman sama Adinda akan kuliah di Amerika. Aku harap kalian bisa meneruskan tender itu. Nggak main-main lho tendernya. Malahan mereka akan memberikan kontrak lima tahun kemudian. Jika dirasa cocok, mereka akan melanjutkan kerjasama hingga lima tahun kedepannya. Makanya itu kalian harus mempertahankan kualitas dan kuantitas biskuit tersebut."
"Baik kak. Aku tidak akan mengecewakan Adinda dan juga Kakak," seru Herman.
"Aku juga Ayah. Selama Adinda kuliah di sana. Aku akan bekerja keras untuk melanjutkan misi dan visi penting dari Adinda. Aku sangat bersyukur sekali mendapatkan seorang adik yang memiliki banyak keberuntungan," jelas Faris.
"Faris, apakah kamu sudah menyetujui hubungan Budiman dan juga Adinda?" Tanya Malik.