
“Aku, Andara bersama Faris. Kedua perusahaan itu akan digabung menjadi satu.”
Jawab Herman dengan serius.
“Jadi istilahnya kamu sedang menyusun strategi untuk menyerang Gilang.
Tanya Roni.
“Sepertinya untuk saat ini tidak. Perusahaannya milik Budiman itu sedang di ujung tanduk. Keluarganya Gilang ingin meminta perusahaan tersebut minta diserahkan ke tangannya. Pak Kartolo nggak mau. Mereka bersikeras kalau perusahaan tersebut akan berdiri tanpa adanya campur tangan dari mereka.”
Ucap Herman yang mengerti duduk permasalahannya.
“Sepertinya ada udang di balik batu.. Apa mungkin Kanaya juga terlibat?”
Tanya Irwan dengan serius.
“Menurutku Kanaya pasti terlibat. Nggak mungkin kalau nggak terlibat. Mungkin saja Kanaya adalah kaki tangan Gilang untuk menghabisi musuh-musuhnya. Salah satunya adalah Budiman dan juga Adinda. Mereka masih mengincar keberadaan Adinda bersama Budiman. Ini hanya prediksiku saja. Kalau benar pasti akan menjadi kenyataan. Kamu tahu kan kalau Kanaya itu sengaja mendekati Budiman dan menghancurkan secara pelan-pelan. Aku nggak paham dengan motif sebenarnya itu apa. Makanya Pak Kartolo benar-benar sangat ketakutan jika Budiman berdekatan dengan Kanaya.”
Jelas Herman dengan serius.
Kedua pria itu menyetujui penjelasan Herman. Mereka juga tidak menyangka kalau Kanaya bisa berbuat seperti itu. Entah kebetulan atau apa? Kedua perusahaan terbesar yang memiliki kontribusi untuk negara sedang diincar oleh Gilang. Sampai saat ini Herman masih belum menemukan motifnya seperti apa.
Pagi yang cerah.
Adinda yang terbangun dari tidurnya menoleh ke arah sampingnya. Wanita berbadan cantik itu tidak mengerti dengan jalan takdir hidupnya. Ia sekarang sudah resmi menjadi milik Budiman. Ia harus bertanggung jawab agar Budiman menjadi pria baik. Inilah kenapa Adinda masih bingung memikirkan caranya. Bagaimana Budiman menjadi seorang manusia yang memiliki akhlak baik.
Adinda mengangkat tangannya lalu memegang wajah Budiman. Ia menyentuh wajah Budiman dengan jari manisnya. Ia merasakan ada kesedihan yang mendalam di dalam Budiman. Mulai saat ini Adinda bersumpah tidak akan meninggalkan Budiman. Adinda tidak mau kalau orang-orang berpikir dirinya bucin kepada Budiman. Justru ia seakan mendapatkan misi untuk memperbaiki akhlak Budiman. Memang, bagi Adinda ini sangat berat sekali. Saking beratnya ia harus tegar untuk menjalani hari-harinya bersama sang suami.
Budiman yang merasakan tubuhnya disentuh langsung membuka matanya. Ia tersenyum lalu memegang tangan halus milik Adinda. Budiman sengaja mendekatkan diri, hingga berjarak beberapa senti. Budiman mengulas senyumnya sambil memandang wajah ayu nan meneduhkan itu. Budiman menatap seksama dan berkata, “Sepertinya... Wajah kita sangat mirip sekali.”
“Itu hanya ungkapanmu saja. Dari mana miripnya? Kita memiliki orang tua yang beda. Kedua orang tua kita juga tidak memiliki darah yang sama. Lalu bagaimana miripnya?”
Tanya Adinda yang membuat Budiman menahan tawanya.
“Kamu tahu, pada suster di sini mengatakan hal yang sama. Mereka bilang kalau kita ini berjodoh.”
Jawab Budiman dengan jujur.
“Kamu itu ngaco sekali. Ya sudah bangun sana. Terus mandi. Nanti Kak Tio kesini untuk menjemputmu.”
Adinda menyuruh Budiman agar mandi. Karena sebentar lagi Tio akan datang.
“Semalam, aku menyuruh Tio tidak ke sini. Aku ingin membiarkan kepulanganmu ke rumah. Aku tahu kamu sudah tidak betah lagi di rumah sakit. Makanya aku putuskan untuk libur beberapa hari kedepan.”
“Ngapain kamu libur beberapa hari kedepan? Kamu bisa libur sehari saja.”
“ Untuk merawat lukamu itu. Kamu tahu kan kalau aku dulu mengambil ekskul PMR?”
“Kamu itu memiliki banyak alasan saja. Terserah kamu.”
“Ya nggak bisa gitu dong sayang. Kamu tahu kalau aku ingin dekat. Sekalian Aku ingin mengenalmu lebih jauh lagi. Anggap saja kita berpacaran lagi.”
“Memangnya kita pernah pacaran?”
Tanya Adinda sambil memutar bola matanya dengan malas.
“Bukankah dulu kita pernah lakukan itu?”
Tanya Budiman lagi sambil mencari jawaban yang tepat.
“Menurut jejak langkahku. Aku tidak pernah pacaran sama kamu. Sudah tahu kamu itu orang yang nyebelin.”
Kesal Adinda.
“Tumben saja kamu bisa membuat kata-kata seperti itu. Kalau ketemu aku selalu saja menyatakan perang. Malahan kamu di rumahku mengusirku habis-habisan. Ya sudahlah... Capek juga ngomong sama kamu.”
Jelas Adinda.
“Yaelah.... Masa kamu nggak bisa bedain. Enaknya pacaran sebelum menikah dan sesudah menikah. Kalau begitu pergilah ke pak ustad. Lalu tanyakan saja semuanya.”
Plakkkkkk.
Adinda mulai kesal terhadap Budiman. Adinda tahu kalau Budiman pasti menjurus ke sana. Memang, otak Budiman sudah terkontaminasi dengan hal-hal yang tidak baik. Apalagi Budiman memang pandai bermain di atas ranjang.
“Ujung-ujungnya ke atas ranjang dan mengajak olahraga malam.”
Celetuk Adinda.
“Ya iyalah. Ternyata kamu pintar sekali untuk menebak itu.”
“Jangan-jangan kamu pernah mencobanya dengan Kanaya?”
Tanya Adinda yang curiga kepada Budiman.
“Memang. Aku akui iya. Dia sangat pandai sekali di atas ranjang.”
Jawab Budiman yang malas mengakui Kanaya.
“Benar dugaanku selama ini. Kamu sudah melakukannya sebelum menikah. Ternyata pria itu sama saja kecuali Kak Faris dan Paman Herman. Ditambah dengan Ayah Malik.”
“Iya, aku ngaku salah. Memangnya nggak ada maaf buat aku?”
“Semuanya pasti ada maaf. Asalkan kamu tidak boleh mengulanginya lagi. Kalau kamu mulainya lagi akan berakibat fatal dengan hidupmu sendiri. Dan itu terserah kamu.”
Jelas Adinda yang benar-benar tulus memaafkan Budiman.
Melihat ketulusan Adinda, Budiman menjadi terharu. Jujur, jarang ada wanita yang mau memaafkan masa lalu sang suami. Bahkan setelah menikah pun, Budiman masih melakukannya dengan Kanaya. Ia sengaja menyusun rencana agar bisa menikahi Kanaya dan memiliki anak.
“Terima kasih sudah maafin aku.”
Jawab Budiman.
“Ya sudah kalau begitu. Aku ingin pergi mandi terlebih dahulu.”
“Mandi sana yang segar.”
Suruh Adinda sambil memperbaiki posisi duduknya.
Kemudian Budiman beranjak bangun dan berdiri. Lalu ia memutuskan untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Rencana hari ini adalah bertemu dengan Kevin. Budiman ingin menanyakan kabar dari Adinda. Apakah Adinda bisa dibawa pulang atau tidak?
Hari ini adalah hari yang cerah buat Budiman sendiri. Ia memiliki jiwa damai untuk menjalani hari ini maupun ke depannya. Budiman mengharapkan Adinda selalu di sampingnya ketika masa-masa sulit seperti ini. Ya, bisa dikatakan Budiman itu sangat beruntung sekali. Ia adalah seorang CEO mampu menaklukkan kerasnya hati Adinda.
Selesai membersihkan tubuhnya, Budiman keluar dengan memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya. Lalu Budiman mendekati Adinda sambil bertanya, “Apakah aku sekarang sudah sangat tampan sekali?’
Adinda bingung harus menjawab apa. Dirinya sedang memikirkan perusahaannya bukan Budiman. Lalu ia mencoba mencari cara agar Budiman menjauh darinya sebentar.
“Maaf, aku sedang tidak memikirkan tentangmu.”
Ucap Adinda secara blak-blakan.
“Jadi, kamu sedang memikirkan siapa?”
Tanya Budiman yang mulai curiga.