Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 170



"Ya... menurut firasatku sih," jawab Adinda yang membantu Tia berdiri.


"Kamu jangan mengada-ngada," ucap Tia yang menginginkan Adinda berpikiran positif.


"Ya... bu. Sewaktu kami menuju kesini. Netty sendiri membuka ikatan karung itu dan membiarkannya hingga jatuh ke lantai," jelas Adinda.


"Apakah itu ular berbisa?" tanya Tia.


"Entahlah. Tapi yang aku lihat adalah ular berbisa," jawab Adinda yang membuat Tia bergidik ngeri.


"Sumpah demi apa? Kalau boleh jujur aku ingin bertemu prai tampan di dunia ini. Aku tidak ingin bertemu dengan hewan sialan itu," tambah Adinda yang kesal terhadap ular itu.


"Memangnya aku enggak tampan ya?" tanya Budiman yang sengaja mencium mulut Adinda.


"Ya elah ini orang sangat cemburu sekali sih?" tanya Adinda yang meledek Budiman.


Beberapa saat kemudian Budiman menghubungi Malik untuk segera kesini. Setelah menghubungi mereka, Budiman mengajak mereka keluar. Namun belum keluar, Malik dan lainnya masuk ke dalam ruangan tersebut.


Tanpa disadari oleh mereka, ketika Malik berjalan, ia tidak sengaja menyenggol karung itu hingga jatuh ke bawah. Adinda yang melihat itu langsung berteriak dan naik ke punggung Budiman.


"Bang... tolongin saya. Itu ularnya keluar dari karung," bisik Adinda yang membuat Budiman bergidik ngeri.


Benar saja apa yang dikatakan oleh Adinda, ular-ular yang berada di karung itu keluar semua.


Faris dan Herman langsung mengambil air softgun dari balik punggungnya.Dengan serempak, mereka memberikannya ke Adinda.


"Ini bagian kamu," ucap Herman yang mengetahui skill milik Adinda.


"Kalian sangat kejam sekali," ujar Adinda sambil memegang dada Budiman.


"Yang tidak ada berkepentingan keluar semua. Biarkan ayah yang melakukannya!" perintah Malik yang mengusir mereka keluar.


Mereka akhirnya keluar dari tempat itu. Namun Adinda meminta Budiman menurunkannya disini. Ia tidak ingin keluar sama sekali. Dengan terpaksa Budiman akhirnya menurunkan Adinda disini. Dengan langkah kaki seribu, Budiman memutuskan untuk keluar dari sana.


"Kamu kenapa tidak keluar dari sini?" tanya Malik yang mengerutkan keningnya sambil meraih pistolnya berada di belakang punggungnya.


"Oh ayah maafkan aku. Aku ingin membantu ayah membunuh mereka semuanya," jawab Adinda yang membuat Malik menggelengkan kepalanya.


"Kamu ini ada-ada saja," keluh Malik yang melihat Adinda.


Mereka akhirnya beradu skill untuk berburu ular. Mereka sengaja melakukannya agar para ular itu tidak sembunyi di tempat terpencil. Jika ada seseorang bermain disini, ular-ular itu tidak akan membunuh anak-anak maupun pengunjung.


Jujur Adinda sangat kesal terhadap Netty. Dulu ia berteman baik hingga saling berbagi satu sama lainnya. Tapi kenapa dirinya berubah drastis. Ia tiba--tiba saja menjadi antagonis. Padahal Adinda sudah sangat baik sekali. Bahkan keluarga Adinda telah menyetujui sebentar lagi akan menjadi istri dari Herman.


Dor!


Dor!


Dor!


Dor!


Suara air soft gun tersebut sangat nyaring sekali. Mereka membidik dengan tepat sasaran mengenai kepala ular. Beberapa ular yang diburunya itu mati seketika hanya dengan sekali tembak.


Sedangkan Budiman yang lainnya sudah berhasil keluar dari tempat ini. Ia pun menuju ke mobil masing-masing. Untung saja semuanya selamat dan Tia tidak terjadi apa-apa.


"Lho, dimana Adinda?" tanya Herman.


"Adinda meminta menurunkan badannya disana. Dia masih berada di dalam gedung itu," jawab Budiman tidak tahu apa yang dilakukan oleh Adinda.


"Kalian ini selalu berdebat saja sih kalau bertemu. Kalian tahu enggak kalau masa-masa sekarang sedang sulit?" tanya Andara yang kesal terhadap Budiman dan Faris.


"Enggak," jawab mereka dengan serempak.


Andara hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia lalu mendekati Tia dan memeluknya sambil mengucap rasa syukur.


"Ibu tidak apa-apa?" tanya Andara yang mengelus-elus punggung Tia dengan lembut.


"Ibu tidak apa-apa. Ibu bersyukur karena bisa bertemu dengan kamu," jawab Tia yang mengucapkan rasa syukur kepada sang pencipta.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Andara dengan rasa syukur sambil melepaskan Tia. "Lalu dimana penjahatnya?"


"Ada di dalam," seru Adinda yang mendekati mereka sambil memberikan senjata itu ke Tio.


"Siapa penjahatnya?" tanya Andara yang sangat penasaran sekali.


"Biasa. Dia yang meneror aku untuk menyerahkan beberapa tender makanan untuk prajurit," jawab Adinda.


"Masalah itu lagi. Apakah enggak bosan membahas tender itu?" tanya Andara.


"Netty belum mendapatkan semuanya. Jadi dia akan meneror terus Adinda. Jika Adinda memberikan tender itu ke Netty, otomatis Netty akan menyerahkan ke Gilang. Dengan kata lain, Gilang akan melepaskan keluarga Netty itu," jelas Herman yang sudah menganalisis kasus ini bersama Malik.


"Sungguh kejam ya?" Aku tidak pernah menyangka kalau mereka sangat jahat sekali," ucap Andara.


"Kita enggak tahu sifat manusia bagaimana? Awalnya baik bisa berubah menjadi jahat. makanya aku saranin ke kamu. Jangan mudah percaya apa yang dikatakan orang lain," jelas Adinda.


"Kalian jadi berangkat?" tanya Malik yang melihat jam.


"Jadi. Tapi masa pesawat pribadiku mundur lagi sih?" tanya Budiman yang marasa tidak enak hati dengan petugas bandara.


"Sebenarnya tidak. Pesawat kamu berangkat jam tiga sore. Aku memang sengaja memundurkannya lebih jauh lagi. Karena aku memiliki firasat yang tidak enak setelah bangun dari tidur tadi," jawab Tio yang memiliki firasat sesungguhnya.


"Terima kasih ya... kalian sudah memperhatikan ibu. Kalau begitu berangkatlah." suruh Tia berangkat menuju ke bandara.


"Waktu masih banyak. Bagaimana kalau kita makan terlbih dahulu? Sebenarnya aku sangat lapar sekali," ajak Adinda.


"Hmmmp... sepertinya jarak antara sini ke bandara sangat jauh sekali. Kalau kita makan terlebih dahulu. Kita enggak keburu. Nanti dech kalau kita bertemu dengan minimarket, aku belikan kamu roti dan susu. Agar kamu kenyang," kata Budiman yang menghitung waktu tempuh kendaraannya.


"Yang dikatakan oleh suami kamu benar. Lebih baik kamu berangkat," suruh Malik yang membenarkan apa yang dikatakan oleh Budiman.


Adinda menganggukan kepalanya dan berpamitan kepada mereka. Mereka pun memberikan pesan jangan pernah sedikit pun. Masalah ini tidak akan selesai dan semakin meruncing. Gilang ingin sekali membuat kalian hancur.


Setelah mendapatkan sebuah pesan,mereka memutuskan untuk pergi dengan tenang. Mereka berharap ketika menghadiri pesta ulang tahun Albert tidak terjadi apa-apa. Namun Adinda harus mencari cara agar mereka semuanya tunduk di bawah tangan mereka. Jika semuanya tunduk, maka mereka tidak akan membuat kekacauan.


Melihat kepergian mobil Tio, mereka sangat lega. Untung saja Adinda mau turun tangan membantu Tia. Malik sangat bersyukur sekali memiliki seorang putri yang sangat cantik sekali dan juga cerdas. malik sangat berterima kasih kepada putrinya itu.


"Apakah kalian menghubungi polisi?" tanya Malik.


"Sebaiknya jangan. Aku yakin Gilang akan melakukan yang lebih gila lagi. Ayah tahukan rekam jejak yaang dilakukan oleh Gilang bagaimana?" tanya Faris yang memperingatkan Malik.


"Kalau Gilang enggak dilaporkan ke kepolisian, nanti akan memakan korban lagi," ucap Andra.


"Bukan begitu caranya," ujar Herman sambil menepuk pundak Andra.


""Maksudnya aapa?" tanya Andra yang tidak paham dengan Herman.