
"Jika kamu capek lepaskanlah. Janganlah kamu memaksakan dirimu untuk mempertahankan pernikahan ini. Menikah itu harus dengan penuh kebahagiaan. Jangan pernah kamu menyiksa batinmu hanya demi pria yang tidak pernah mencintaimu sama sekali. Kamu cantik, baik, cerdas dan memiliki multitalenta di dunia bisnis. Sekarang kamu mencoba mempertahankan pernikahanmu? Itu salah besar putriku," jelas Tia yang memberikan nasehat kepada Adinda.
"Tapi nggak sekarang Bu. Aku akan tetap mempertahankan pernikahan ini sampai capek," ucap Adinda dengan serius.
Tia mengerutkan keningnya sambil menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa Sang Putri mempertahankan pernikahan yang menyakitkan ini? Sebagai seorang ibu dia tidak mau melihat putrinya menderita. Namun apa daya dirinya akan tetap mendukung pernikahan ini.
"Tidur gih sudah malam. Jangan kelayapan. Jaga kesehatan dengan baik. Nanti kalau sudah sakit, kamu harus opname selama seminggu," ucap Tia sambil memperingatkan putrinya agar tidak kelayapan.
Adinda pun hanya bisa meringis dan menatap wajah sang ibu. Ia mengganggukan kepalanya sambil beranjak berdiri, "Sudah malam Bu. Aku mau tidur."
"Iya," balas Tia.
Setelah itu Adinda keluar dari kamar. Adinda melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya. Ia menatap pintu kamarnya sambil bertanya dalam hati, "Apakah aku harus mempertahankan pernikahan ini?"
Tangan mungilnya langsung memegang daun pintu itu. Ia menatap kamarnya yang kosong. Apakah Budiman akan pulang malam ini?
Satu jawaban buat Adinda yaitu ENTAH. Inilah yang jadi sanksi buat Adinda sendiri. Ia masuk ke dalam dan mendengar suara gemericik dari dalam toilet. Ia mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Apakah ada orang di dalam sana? Apakah Budiman sedang mandi?"
Ceklek.
Pintu terbuka.
Seorang gadis muda keluar dari toilet sambil tersenyum manis. Ia menatap wajah Adinda sambil menyapanya, "Adinda."
Adinda baru tahu kalau ada Andara. Ia terkejut sekali dan menggelengkan kepalanya. Ia menghempaskan bokongnya di sofa singlenya.
"Kenapa kamu enggak bilang kalau kesini?" tanya Adinda.
"Maaf, aku kesini bersama Paman Herman. Aku tidak akan tinggal di apartemen sendirian," jawab Andara.
"Ya sudah. Aku sangka abangmu kesini," ucap Adinda yang menghela nafasnya.
"Aku tadi kirim pesan ke Bang Budi. Jawabannya adalah enggak akan pulang ke sini. Dia akan pulang ke rumah Kanaya," sahut Andara.
"Biarkan saja. Lebih baik aku memutuskan untuk membersihkan tubuhku. Aku sudah tidak memperdulikan abangmu lagi," ucap Adinda dengan serius.
"Maafkan aku ya," sahut Andara yang menyesal.
"Jangan pernah menyesal mengambil keputusan. Aku sekarang sudah tahu tentang pokok permasalahannya. Sekarang aku paham apa yang harus dilakukannya setelah ini," jelas Adinda.
"Jujur aku nggak bermaksud menyeretmu ke dalam masalah keluargaku. Tapi aku harus melakukannya," ucap Andara yang menyesal.
"Tidak apa-apa New. Semua orang pasti memiliki banyak masalah. Namun ada kalanya tidak semua orang bisa membantu. Bukannya diam malah menghujat. Aku harap masalah ini cepat selesai," jawab Adinda yang berharap agar masalah ini selesai. "Ya udah aku mau membersihkan tubuhku terlebih dahulu."
Andara menganggukan kepalanya. Adinda langsung masuk ke dalam dan mengisi air dalam bath up. Ia menunggu air itu sampai penuh. Di dalam hatinya ia bersumpah akan merebut Budiman dari tangan Kanaya. Adinda tidak rela jika Budiman terus-terusan dijadikan boneka sebagai balas dendam oleh keluarga Gilang.
"Lihat saja nanti kamu Kanaya! Suatu saat nanti aku akan merebut Budiman darimu! Aku tidak akan membiarkan kamu bahagia bersama Budiman. Kamu harus bersamaku mulai saat ini!" ancam Adinda dengan serius.
Setelah penuh tangan Adinda mengambil aromatherapy yang beraroma lavender. Ia menuangkan sedikit ke dalam bath up itu. Lalu Adinda segera naik ke dalam dan berendam.
Tadinya Adinda yang sedang berendam terkejut. Ia segera berteriak untuk menyuruhnya masuk ke dalam. Andara langsung ke dalam sambil berkata, "Kanaya sekarang menungguku di depan rumah ini. Dia membawa pasukan untuk mengambilku dan membunuhku."
Mata Adinda membelalak sempurna. Bagaimana bisa Kanaya sampai ke rumah ini? Ini sangat aneh sekali.
"Ini sangat aneh sekali. keluarlah… aku mau mandi dulu. Setelah ini aku akan menghadapinya," kesal Adinda yang selalu saja mendapatkan teror dari Kanaya.
"Tapi Din?" tanya Andara.
"Tenanglah. Aku tidak akan membiarkan kamu ketakutan seperti itu. Sekarang biarkan aku mandi terlebih dahulu," jawab Adinda yang menyuruh Andara keluar.
Dengan terpaksa Andara keluar dari kamar. Adinda langsung membilas tubuhnya. Ia tidak menyangka kalau Kanaya terus-terusan membuat ulah. Ketika selesai mandi Kanaya langsung masuk ke dalam kamar. Ia langsung memakai pakaian serba hitam.
Jika sedang menghadapi masalah, Adinda selalu memakai baju hitam. Ia segera menatap wajah Andara sambil tersenyum smirk. Namun bagi Andara, Adinda ortu sangat menakutkan sekali.
"Kamu kenapa tersenyum begitu?" tanya Andara.
"Memangnya senyumku sangat menyeramkan?" tanya Adinda balik.
"Yupz, namun sangat mengerikan sekali," kesal Andara kepada Adinda.
Sebelum keluar dari rumah, Adinda langsung meraih ponselnya. Ia mendapatkan pesan dari nomor yang tidak kenal dari seseorang. Matanya membulat sempurna. Bahwa isi pesan itu menyuruhnya untuk menceraikan Budiman.
Lalu Adinda membalasnya sambil berkata, "Yang namanya takdir dari Tuhan tidak akan bisa ditolak. Jika Budiman telah berjodoh denganku. Maka otomatis Budiman akan bersamaku selamanya. Lha… kamu wanita bermuka dua. Sudah menikah dengan Gilang. Tapi kamu serakah ingin mendapatkan Budiman. Cih… sampai kapanpun aku akan mempertahankan Budiman. Aku tahu semua rencanamu dengan Gilang. Jangan harap kamu bisa lepas dari tanganku!
Itulah isi dari pesan tersebut. Kalau sampai Kanaya melaporkan pesan itu ke kepolisian setempat. maka Adinda akan melaporkan banyaknya kejahatan yang sudah diperbuatnya. Bisa dikatakan Adinda memiliki kartu as Kanaya.
"Mari kita berperang," seru Adinda yang sifat bar-barnya keluar dengan sendirinya.
"Apakah kamu serius?" tanya Andara. "Dia sangat bahaya sekali?"
"Apakah kamu mau abangmu selalu ditipu selamanya? Apalagi dia sudah memiliki anak kembar dari Gilang. Apakah kamu membiarkanku membubarkan pernikahan ini? Kita nggak akan bertemu lagi seperti ini?" tanya Adinda secara bertubi-tubi.
Mendengar pertanyaan dari Adinda secara bertubi-tubi, Kanaya bergidik ngeri. Bagaimana bisa kalau sang kakak ipar seperti itu? Ia langsung menggelengkan kepalanya sambil bertanya, "Apakah kamu yakin?"
"Yakin. Jika aku ditakdirkan sama abangmu, apakah aku harus menolaknya?" tanya Adinda.
"Kalau kamu menolaknya, berarti kita tidak bisa begini?" tanya Andara.
"Iya kamu benar. Apa yang kita miliki harus dipertahankan. Bukan begitu?" tanya Adinda dengan jujur.
"Kamu benar. Memang harus dipertahankan.," jawab Andara. "Kamu kamu kemana?"
"Aku tidak kemana-mana. Aku sedang menunggu kedatangan Kanaya. Aku sangat gemas sekali sama itu orang," jawab Adinda dengan jujur.
"Apakah kamu serius?" tanya Andara.
"Ya… aku serius," jawab Adinda. "Apakah kamu takut sama dia?"