Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 91



Tepat jam 08.00 Budiman sudah pergi dari rumah. Adinda sahabat bahagia sekali pada pagi ini. Adinda mulai memberikan kepercayaan kepada Budiman sedikit demi sedikit. Ia percaya kalau Budiman sudah kembali ke settingan awalnya. Budiman akan menjadi pria yang sangat baik sekali setelah ini.


Bagaimana dengan Kanaya? Adinda sudah tidak takut lagi sama Kanaya. Baginya Kanaya adalah wanita yang tidak berguna sama sekali. Ia akan mempertahankan Budiman untuk selamanya. Lalu, bagaimana dengan Gilang? Gilang adalah sampah baginya. Adinda diam-diam sudah menyindir Gilang melalui sosial media. Adinda tidak akan melepaskan Gilang begitu saja.


Beberapa saat kemudian ponselnya Adinda berbunyi. Ia segera meraih ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu. Ia lalu mengangkat ponselnya lalu menyapanya, “Halo.”


“Din, kamu sibuk?” tanya Faris sang penelepon itu.


“Aku enggak sibuk untuk saat ini,” jawab Adinda yang menghempaskan bokongnya di tepi ranjang.


“Ke kantor Din. Aku lagi membutuhkan sesuatu,” pinta Faris.


“Memangnya ada apa kak? Ada pekerjaanku yang belum beres?” tanya Adinda.


“Pekerjaanmu sudah beres. Aku ingin kamu menghandle meeting dengan Njawe Groups,” jawab Faris yang membuat Adinda kaget.


“Lho, kenapa aku harus meeting dengan Njawe Groups?” tanya Adinda.


“Bukannya kamu sedang mengadakan kaleng makanan buat ikan tunamu itu lalu dikirim ke Eropa?” tanya Faris.


“Aku sudah mengajukan proposal itu ke kakak,” jawab Adinda.


“Masalahnya bukan itu. Kami setuju dengan proposal itu. Yang menjadi pertanyaannya, Paman Herman sekarang berada di kantor advokat. Dia diminta untuk mengurusi kasus pembunuhan yang sedang viral itu,” jawab Faris. “Aku sendiri mau bertemu dengan Tuan Satoshi.”


“Baiklah. Aku segera meluncur ke sana setelah ini,” ucap Adinda.


“Thanks ya adikku,” puji Faris.


“Sama-sama,” balas Adinda sambil mematikan ponselnya dan melemparkannya di atas ranjang.


“Hmmp.. baiklah. Aku akan pergi sendiri untuk kali ini. Untung saja perutku sudah tidak apa-apa,” jelas Adinda sambil memegang perutnya.


Adinda segera membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Ia tidak ingin menjadi wanita malas ketika sakit. Energinya selalu ada ketika berada di rumah. Ia memang dijuluki sebagai wanita sportif.


Selesai membersihkan tubuhnya, Adinda langsung memilih baju casualnya. Ia memilih kemeja berwarna cerah yaitu berwarna pink dengan dipadukan celana bahan berwarna hitam. Adinda barat sekali memakai long dress. Ia tidak begitu nyaman ketika memakainya ketika berada di kantor. Seperti biasa Adinda memakai make up tipis dan lipstick nude. Sedari lahir Adinda sangat cantik sekali.


Selesai berdandan Adinda memutuskan untuk keluar dengan memakai tas kerjanya. Ia berpapasan dengan Mbok Jum. Sebelum berangkat Adinda selalu menanyakan kabar mbok Jum dan juga keluarganya. Ia sangat senang sekali jika keluarga Mbok Jum sehat semuanya.


“Eh... mbok,” panggil Adinda.


“Iya non,” sahut Mbok Jum.


“Apakah Mila hari ini masuk kerja?” tanya Adinda.


“Hari ini dia enggak masuk kerja non. Katanya anaknya sakit non,” jawab Mbok Jum.


“Ya sudah. Terima kasih ya mbok,” ucap Adinda sambil memberikan amplop. “Ini mbok... buat Indah. Bukannya besok uang SPP harus dilunasi?”


“Ya sudah ya mbok. Aku berangkat ke kantor,” pamit Adinda.


“Hati-hati ya non,” pesan Mbok Jum.


Adinda tidak bersuara melainkan melambaikan tangannya. Ia sangat menghargai pesan Mbok Jum itu. Ia sangat berterima kasih kepada Mbok Jum. Karena hidup dan keluarganya sudah dibantu siang malam.


Siang ini Adinda berangkat ke kantor SM Company terlebih dahulu. Ia ingin bertemu dengan Faris terlebih dahulu. Ia ingin mengambil surat kerja samanya terlebih dahulu.


Di dalam perjalanan, Adinda menyetir sendiri. Jarak antara rumah dan kantor hanya membutuhkan waktu lima belas menit. Jika itu tidak macet sama sekali. Sedangkan Budiman bersama Malik sedang mengadakan rapat bersama orang Finlandia. Pertemuan yang beberapa kali ini adalah pertemuan sangat menyenangkan. Ia sangat beruntung sekali bertemu dengan sang CEO dari perusahaan terkenal di benua Eropa.


Namun di pertengahan Malik berpamitan undur diri terlebih dahulu. Ia akan mengajar tepat pukul sepuluh. Ia tidak ingin terlambat sama sekali. Karena Malik memiliki titel dosen sekaligus rektor yang sangat disiplin sekali. Budiman akhirnya melanjutkan rapat ini. Tidak menunggu waktu lama, Budiman langsung deal dengan proyek yang akan dibangun di Medan. Bukan di Medan saja, klien Budiman itu berharap akan ada pembangunan pabrik di beberapa kota besar di negara ini. Tentu saja ini sangat membahagiakan bagi Budiman.


Tepat jam sepuluh pagi, Adinda sudah sampai di kantor. Seluruh karyawan kantor heboh dan berteriak kegirangan. Mereka sangat bahagia lalu bertegur sapa bersama Adinda. Dengan hangat Adinda menyapanya satu persatu. Setelah itu Adinda langsung menuju ke ruangannya. Yang dimana ruangannya itu sekarang di tempati oleh Faris.


Adinda masuk ke dalam dan melihat Faris bersama Netty mempersiapkan beberapa bahan meeting. Ia segera mendekati mereka sambil menghempaskan tubuhnya di kursi sambil menghadap Faris.


“Berkasnya mana?” tanya Adinda sambil menatap Netty dengan serius.


Ada,” jawab Netty yang tidak sengaja melihat Adinda.


“Din,” seru Netty yang melihat Adinda sambil berkaca-kaca.


“Net,” panggil Adinda sambil merentangkan kedua tangannya.


Netty segera memeluk Adinda. Ia langsung menangis karena senang. Ia sangat bahagia bisa bertemu dengan Adinda. Beberapa hari lalu Netty melihat Adinda sangat lemah sekali. Ia tidak tega melihat Adinda seperti itu. Ia senang melihat Adinda tampil enerjik.


“Sudah beberapa kali masuk ke rumah sakit?” tanya Netty.


“Semenjak aku lulus sekolah sampai sekarang kurang lebih dua belas kali,” jawab Adinda sambil mengelus-ngekus punggung sahabat sekaligus asistennya itu.


Netty segera melepaskan Adinda dengan wajah muramnya. Ia sangat marah sekali kepada Adinda. Ia tahu kalau Adinda itu sering sekali berantem bahkan tawuran.


“Kamu tahu Mama dan Papa sangat sedih sekali ketika mengetahui kamu masuk rumah sakit saat tertusuk,” kesal Netty.


“Maaf, aku kemarin aku sengaja menolong Kak Budiman,” jawab Adinda.


“Yang dikatakan oleh Adinda benar. Adinda memang sengaja menolong Budiman yang akan ditusuk sama preman suruhannya Kanaya. Jadi Adinda disini yang menjadi korbannya,” jelas Faris yang membenarkan kejadian sesungguhnya.


“Lalu selanjutnya bagaimana?” tanya Netty.


“Lukaku sudah kering dengan obat yang telah diberikan oleh Kak Kevin. Jadi aku bisa kesana kemari,” jawab Adinda.


“Jangan sampai Budiman tahu kalau kamu sudah berkeliaran kemana-mana,” celetuk Faris.


“Memangnya dimarahin ya? Kalau Kak Budiman tahu?” tanya Netty.