Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 201



"Bukan membunuh. Tapi mereka sengaja membuat usaha korbannya lemah dan dihancurkan begitu saja," jawab Rizal.


"Bener-bener tuh orang!" geram Budiman.


"Oh iya ada satu fakta lagi. Pokoknya keluarga Gilang itu tidak ada hak ahli waris dalam perusahaan yang dirikan oleh para leluhur kita. Ya meskipun mereka masih memiliki darah keluarga ini. Bisa dipastikan keluarga Gilang tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan secuil apapun. Sebab dari dulu keluarga Gilang adalah keluarga pemberontak yang tidak menurut sama sekali. Aku mendapatkan informasi ini dari kakek Jeremy. Dia berkata blak-blakan seperti itu kepadaku. Selain itu juga kakek memintaku untuk segera menangkap Gilang dan keluarganya. Agar kami bisa hidup tenang," jelas Rizal.


Semua orang yang berada di sana sangat terkejut sekali. Bagaimana tidak? Mereka itu baru mengetahui kalau Gilang dan keluarganya tidak bisa memiliki apapun di untuk memegang perusahaan Njawe Groups.


Sejujurnya sang kakek tidak ingin membeda-bedakan antara satu dengan lainnya. Namun keserakahan Gilang dan keluarganya membuat sang kakek sangat marah sekali.


"Jujur aku sendiri sudah merasakan akan hal itu. Kakek ternyata sangat marah dengan Gilang dan keluarganya. Kakek sudah memberikan apa yang diminta oleh Gilang. Tapi keluarga Gilang tidak pernah menghargai sama sekali. Setiap main ke sana Kakek selalu mengeluh apa yang telah terjadi saat ini," ucap Budiman yang menghalangi nafasnya dengan kasar.


"Ya mau bagaimana. Kita juga tidak bisa menghentikan kegilaan Gilang. Sebenarnya sih bisa Gilang duduk di kursi perusahaan itu. Tapi Gilang sendiri tidak bisa menghentikan laju dan sering bermain banyak cewek untuk menghamburkan uang perusahaan. Dan kamu tahu satu fakta yang penting. Semakin hari perusahaan yang didirikan oleh keluarga Gilang hancur berantakan. Gilang tidak mau mempublikasikan akan hal ini kepada media. Banyak sekali karyawan yang diberhentikan secara tidak hormat karena alasan tidak jelas. Ditambah lagi karyawan pabriknya tidak dibayar selama dua bulan. Kakek sudah melihatnya itu. Beliau sudah menduga apa yang telah terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini," ungkap Rizal yang membeberkan fakta sesungguhnya.


"Begitu menyeramkan mereka berempat. Aku sendiri juga tidak menyangka hal ini terjadi. Lalu bagaimana dengan tender tujuh berlian itu jika jatuh ke tangan Gilang?" Tanya Alexandro yang mengetahui tender tujuh triliun itu.


"Jangankan tender sebesar itu. Tender yang kecil pun tidak sanggup dilakukan. Makanya aku sanksi jika perusahaannya itu bisa menjadi besar," jelas Rizal.


"Jadi kalian sudah mengetahui tentang tender makanan untuk prajurit sebanyak itu?" tanya Budiman.


"Ya aku sudah mengetahuinya. Tender itu jatuh ke tangan Adinda. Aku yakin bakatnya Adinda tidak mengecewakan banyak orang. Bahkan Adinda sendiri berhasil mendapatkan banyak tender untuk perusahaannya. Mulai dari kecil hingga besar," jawab Alexandro yang memuji kehebatan Adinda.


"Syukurlah kalau begitu. Tinggal Adinda menyerahkan dokumen-dokumen itu kepada Faris," ucap Budiman.


Satu kata untuk saat ini bagi Budiman adalah lega. Bagaimana tidak? Musuh utama sudah tertangkap polisi terlebih dahulu. Budiman sadar atas kesalahannya kepada Adinda.


Mereka melanjutkan mengobrol tentang kejadian di masa lalu yang konyol. Ternyata Alexandro bukanlah pria bertulang lunak. Nyatanya Alexandro adalah pria normal. Alexandro memiliki kelebihan yaitu bisa menggambar desain baju. Sampai detik ini usaha Alexandro sangat terkenal.


Tak lama para wanita kembali. Ketiga pria itu mulutnya menganga sempurna karena melihat pasangannya sangat cantik sekali.


Adinda yang terkesan barbar bisa menjadi anggun. Bahkan Budiman tidak bisa mengedipkan matanya.


Lain halnya dengan Alexandro. Alexandro sendiri sudah mengetahui Kalau Adinda memiliki wajah cantik. Namun kecantikannya sengaja disembunyikan agar tidak dipuji banyak pria. Adinda tahu, banyak pria yang sengaja memujinya hanya ada sesuatu hal yang dibutuhkannya saja.


"Istri lo memang cantik. Saking cantiknya, Dia jarang sekali make up seperti ini. lu seharusnya bangga terhadap dia bukan Kanaya," jelas Alexandro yang membuat Budiman mengangguk pelan.


Kedua wanita itu langsung mencari gaun yang cocok untuknya. Sedangkan Adinda sengaja memakai gaun yang tadi berwarna biru yang agak tertutup namun elegan. Adinda dibantu oleh satu karyawan Alexandro. Di dalam sana karyawan tersebut memuji Adinda berkali-kali. Hingga Adinda tersipu malu dan mengucapkan terima kasih.


Mereka bertiga akhirnya keluar dari ruang ganti tersebut. Ketiga pria itu masih tidak percaya kalau pasangannya bertambah cantik dengan gaun tersebut.


"Bang Budiman," sapa Adinda.


Budiman hanya diam saja melihat Adinda. Budiman tidak mendengar sapaan dari sang istri. Hingga akhirnya Adinda menggenggam tangan Budiman.


"Apakah kamu istriku?" tanya Budiman yang menatap wajah Adinda.


Adinda hanya bisa tersenyum dan menahan tawanya. Bagaimana bisa Budiman melupakan dirinya dalam waktu sekejap? Padahal baru beberapa jam yang lalu mereka sempat mengobrol bersama.


"Apakah kamu terkena penyakit amnesia secara tiba-tiba?" Tanya Adinda.


Budiman menggelengkan kepalanya sambil menjawab, "Aku tidak terkena penyakit amnesia. Baru kali ini aku merasakan ada sesuatu di dalam hatiku."


"Maksud kamu apa?" tanya Adinda yang tidak sengaja melihat Budiman yang grogi.


"Ada cinta untukmu. Cinta itu sengaja aku simpan di dalam hatiku ini. Aku sangat mencintaimu," jawab Budiman yang grogi dengan pernyataan cintanya itu.


Alexandro hanya menepuk jidatnya saja. Bagaimana bisa? Seorang CEO terkenal bisa grogi ketika menghadapi seorang perempuan yang sangat cantik. Bahkan Alexandro sudah membuat pernyataan Kalau Budiman adalah seorang pria yang jarang sekali mengungkapkan perasaannya. Bukannya jarang tapi tidak pernah sama sekali. Inilah yang membuat Budiman menjadi salah tingkah dihadapan Adinda.


Kedua pasangan itu hanya bisa tersenyum melihat kekonyolan Adinda. Mereka berharap kisah cinta Adinda dan Budiman akan menyatu selamanya. Tidak ada pertengkaran apapun maupun bermusuhan. Itulah yang mereka inginkan.


Tepat jam 05.00 sore, mereka memutuskan untuk pergi ke hotel Linx. Hotel itu adalah milik kakek Jeremy. Yang di mana Kakak Jeremy adalah seorang pengusaha berasal dari Belanda.


Jeremy Van Desh adalah seorang pria yang berusia senja sukses dengan berbisnis. Bayangkan saja? Beliau memang sangat piawai untuk berbisnis. Namun beliau jarang sekali terlihat di depan umum. Oleh karena itu beliau orangnya sangat tertutup dan tidak banyak bicara sama sekali.


Sedangkan Kartolo putra kandung Jeremy sangatlah berbeda. Mereka bagaikan langit dan bumi. Bahkan mereka pun jarang sekali bertatap muka. Bukan berarti mereka berantem atau marah. Mereka memiliki jalan yang berbeda namun tujuannya tetap satu. Mereka hidup di dunia bisnis selama berpuluh-puluh tahun.


Herman dan Faris sudah sampai di hotel. Mereka berdua sedang menikmati keindahan Singapura di waktu senja. Sebelum berangkat ke pernikahan Albert, mereka sedang menikmati makan sore yang sudah disediakan oleh hotel.


"Hari ini langit sangat cerah sekali," celetuk Faris.


"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" tanya Herman.