Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 208



Budiman


sengaja mengajak mereka menuju ke Changi Beach Park. Yang dimana Changi Beach


Park adalah taman pantai yang berujung di utara Changi di wilayah timur


Singapura. Taman pantai seeluas dua puluh delapan hektar ini merupakan salah


satu taman pantai yang tertua di Singapura. Selain itu juga taman itu masih


mempertahankan suasana kampung dan pedesaan di jaman dulu.


Budiman


sengaja membawanya kesini karena memiliki sebuah rumah kecil yang berada di


sekitar taman itu. Ia memang memiliki sebdang tanah hadiah ulang tahun dari


sang nenek di usia lima belas tahun. Ia berpikir dan menemukan sebuah ide untuk


membangun sebuah rumah.


Disisi


lain, Budiman sengaja membangun rumah itu dijadikan tempat persembunyiannya. Ia


memang sengaja lari dari pekerjaannya karena dikejar deadline. Disinilah


Budiman sering mendapatkan sebuah ketenangan dan memikirkan untuk menyelesaikan


banyak pekerjannya.


“Din,”


seru Andara.


“Ada


apa?” tanya Adinda.


“Aakah


kamu ingat sewaktu kita kabur kesini? Lalu kita pergi ke pantai sini hanya demi


mendapatkan ketenangan yang hakiki? Lalu ibu dan mama mulai mencari keberadaan


kita. Pulang-pulang kita diberikan sesuatu,’ jawab Andara yang sengaja menyuruh


Adinda mengingat masa lalunya itu.


“Ya


akun mengingatnya,” ucap Adinda yang tersenyum lucu.


“Hadiah


apa itu?” tanya Budiman yang mengerutkan keningnya lalu otaknya mulai


menerawang jauh.


“Kayu


rotan,” jawab Adinda.


Seketika


Tio dan Budiman teratawa jahat. Sungguh pengalaman Adinda maupun Andara


menimbulkan gelak tawa. Yang dimana para mama sedang marah dan membawa rotan.


Mereka serempak mengejar mereka hingga keliling kampung. Memang mereka sangat


konyol sekali. Bukannya takut malah mengajak para mama berolahraga siang yang


cukupp panas.


“Kalian


ini ada-ada saja,” seru Tio.


“Benar


kok. Kita berangkat diam-diam. Selesai ujian akhir sekolah, kami berangkat.


Jauh-jauh hari kami sudah memesan tiket untuk menuju kesana. Pas tepat hari


H-nya, kami berangkat tanpa sepengetahuan mereka,” jelas Andara.


“Entah


kenapa aku memiliki istri yang kocak sekaligus bar-bar? Disisi lain dia bisa


menghiburku ketika ada masalah,” puji Budiman ke Adinda.


“Kakak


baru mengetahuimya. Dulu Kak Adinda memang bar-bar. Banyak sekali pria babak belur


di tangannya. Apalagi mereka sering banget menggoda kami. Kami tidak


segan-segan turun tangan dan menghajarnya satu persatu. Bayangkan saja, mereka


saling melontarkan kata-kata sayang dan cinta kepada gank somplak dan berwibawa.


Nyatanya mereka adalah pembual,” ucap Andara dengan serius.


Mereka


tertawa lagi karena curhatan Andara. Jujur Andara merasa kesal terhadap para


pria yang dimana sering merayunya. Malahan Andara sendiri sering alergi


mendengar kata cinta dan sayang.


“Lalu


bagaimana dengan Kak Tio yang sering melontarkan banyak kata-kata cinta?” tanya


Adinda yang sengaja memancing Andara di hadapan sang kakak bersama Tio.


Wajah


Andara seketika berubah menjadi memerah. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud


oleh Adinda. Bukannya tidak mengerti, Adinda sengaja membuat Andara terjebak


dalam omongannya sendiri. Dan sekarang terbukti sendiri kalau Andara sendiri


memang terjebak.


“Hmmp...


kamu itu pandai sekali menjebak aku sih?” tanya Andara yang kesal terhadap


Adinda.


Adinda


segera membuka pintu mobilnya dan keluar. Ia tidak mau disalahkan karena


masalah ini. Ia akhirnya melihat pantai di malam hari. Sedangkan Budiman hanya


bisa tertawa terkikik. Ia sangat gemas sekali dengan Andara. Ia tidak menyangka


kalau Adinda suka menjebak sang adik dalam perasaannya sendiri.


“Sepertinya


kakak kamu itu cocok menjadi asisten kakak yang kejam ya?” celetuk Budiman.


“Maksudnya?”


tanya Andara yang mengerutkan keningnya.


“Dia


lawannya langsung takluk di tangannya secara langsung,” jawab Budiman yang


mengakui kecerdasan Adinda.


“Ya...


itu benar. Aku memang mengakui kecerdasan milik Adinda. Tapi kenapa kakak saat


itu malah memilih Kanya?” tanya Andara.


“Jangan


kamu mengingat masa lalu itu. Semua orang pasti memiliki kesalahan sama sekali.


Lebih baik kita melupakan saja. Ketimbang harus mengingatnya kembali. Walau itu


perih aku akan membuat semuanya menjadi pelajaran yang akan kita ingat hingga


akhir hayat. Suatu hari nanti, pelajaran itu akan dibutuhkan ketika anak-anak


kita dan orang sekitarnya terjebak dalam cerita yang hampir sama dengan kita,


maka kita bisa memberikan kisah ini kepada orang lain,” jelas Budiman yang


bijak.


“Nah


ini Kak Budiman kembali ke mode awal. Aku sangat menyukainya. Aku memang


menginginkan kakak kembali seperti dulu,” puji Andara.


“Hmmmp...


sepertinya kamu memiliki sesuatu yang bisa membuat aku terbius. Tapi aku


meminta maaf. Aku tidak ingin terbuai dalam pujian kamu,” ucap Budiman yang


menutar bola matanya dengan malas.


“Aish...


seharusnya terima kasih kek. Ini malah malas sekali dipuji,” ujar Andara yang


kesal.


“Apakah


kamu akan tetap disini?” tanya Budiman yang membuka pintunya.


“Aku


ingin sekali berjalan-jalan bersama Kak Tio,” jawab Andara.


“Terserah


apa katamu. Aku hanya ingin mengajak kalian untuk menghindari acara keluarga


ini. Aku tidak ingin merusak acara perkumpulan keluarga. Aku yakin Rizal akan


mengejar Adinda. Tapi Adinda sudah tidak mau sama Rizal,” ucap Budiman.


“Kak,”


ucap Andara yang mulai serius.


“Ada


apa?” tanya Budiman dengan serius.


“Istri


kakak sudah sangat baik sekali. Bahkan saking baiknya, dia berusaha mendoakan


kakak supaya kakak cepat sadar,” jelas Andara. “Aku harap kakak tidak akan


pernah mengecewakan Kak Adinda. Banyak pria yang menginginkan tipe wanita


seperti Kak Adinda. Jangan sampai Kak Adinda diambil orang begitu saja.”


Budiman


hanya menganggukan kepalanya. Ia paham apa yang dimaksud oleh sang adik. Ia


juga berterima kasih terhadap sang adik karena telah memberikan sebuah nasehat.


Nasehat yang dimana membuat dirinya secara tidak langsung mendapatkan dukungan


penuh dari Andara.


"Terima


kasih ya Nda. Terima kasih mendapatkan perhatian yang lebih dari kamu,” ucap


Budiman yang membuat Andara hanya membalas senyuman saja.


Budiman


segera keluar dari mobil. Ia segera menyusul Adinda yang sedang melihat


pemandangan pantai yang sangat indah sekali. Deburan ombak begitu sangat


mendamaikan hati bisa membuat Budiman ingin memeluk Adinda.


“Apakah


kamu tidak lapar?” tanya Budiman yang sengaja berbisik.


“Aku


sangat lapar sekali. Tapi aku tidak ingin makan di malam ini,” jawab Adinda


yang tiba-tiba saja malas makan.


“Kenapa


kamu tidak mau makan?” tanya Budiman.


“Karena


aku sendiri tidak tahu apa yang dimakan malam ini,” jawab Adinda.


“Coba


kamu sebutkan makanan apa yang bisa membuat kamu makan dengan kenyang malam


ini?” tanya Budiman.


“Ikan


bakar sama nasi goreng seafood,” jawab Adinda yang tiba-tiba saja meminta nasi


goreng seafood dan ayam bakar.


Budiman


merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang. Ia meminta dua porsi nasi goreng


seafood dengan toping yang lengkap. Selain itu juga ia meminta ayam bakar.


Adinda yang mendengar percakapan Budiman hanya bisa tersenyum. Bagaimana tidak?


Budiman sengaja menuruti keinginannya.


“Tunggu


disini. Nanti kalau sudah datang pesanannya. Kita bisa kesana,” ucap Budiman


yang membuat Adinda menganggukkan kepalanya.


“Dimana?”


tanya Adinda.