
Budiman
sengaja mengajak mereka menuju ke Changi Beach Park. Yang dimana Changi Beach
Park adalah taman pantai yang berujung di utara Changi di wilayah timur
Singapura. Taman pantai seeluas dua puluh delapan hektar ini merupakan salah
satu taman pantai yang tertua di Singapura. Selain itu juga taman itu masih
mempertahankan suasana kampung dan pedesaan di jaman dulu.
Budiman
sengaja membawanya kesini karena memiliki sebuah rumah kecil yang berada di
sekitar taman itu. Ia memang memiliki sebdang tanah hadiah ulang tahun dari
sang nenek di usia lima belas tahun. Ia berpikir dan menemukan sebuah ide untuk
membangun sebuah rumah.
Disisi
lain, Budiman sengaja membangun rumah itu dijadikan tempat persembunyiannya. Ia
memang sengaja lari dari pekerjaannya karena dikejar deadline. Disinilah
Budiman sering mendapatkan sebuah ketenangan dan memikirkan untuk menyelesaikan
banyak pekerjannya.
“Din,”
seru Andara.
“Ada
apa?” tanya Adinda.
“Aakah
kamu ingat sewaktu kita kabur kesini? Lalu kita pergi ke pantai sini hanya demi
mendapatkan ketenangan yang hakiki? Lalu ibu dan mama mulai mencari keberadaan
kita. Pulang-pulang kita diberikan sesuatu,’ jawab Andara yang sengaja menyuruh
Adinda mengingat masa lalunya itu.
“Ya
akun mengingatnya,” ucap Adinda yang tersenyum lucu.
“Hadiah
apa itu?” tanya Budiman yang mengerutkan keningnya lalu otaknya mulai
menerawang jauh.
“Kayu
rotan,” jawab Adinda.
Seketika
Tio dan Budiman teratawa jahat. Sungguh pengalaman Adinda maupun Andara
menimbulkan gelak tawa. Yang dimana para mama sedang marah dan membawa rotan.
Mereka serempak mengejar mereka hingga keliling kampung. Memang mereka sangat
konyol sekali. Bukannya takut malah mengajak para mama berolahraga siang yang
cukupp panas.
“Kalian
ini ada-ada saja,” seru Tio.
“Benar
kok. Kita berangkat diam-diam. Selesai ujian akhir sekolah, kami berangkat.
Jauh-jauh hari kami sudah memesan tiket untuk menuju kesana. Pas tepat hari
H-nya, kami berangkat tanpa sepengetahuan mereka,” jelas Andara.
“Entah
kenapa aku memiliki istri yang kocak sekaligus bar-bar? Disisi lain dia bisa
menghiburku ketika ada masalah,” puji Budiman ke Adinda.
“Kakak
baru mengetahuimya. Dulu Kak Adinda memang bar-bar. Banyak sekali pria babak belur
di tangannya. Apalagi mereka sering banget menggoda kami. Kami tidak
segan-segan turun tangan dan menghajarnya satu persatu. Bayangkan saja, mereka
saling melontarkan kata-kata sayang dan cinta kepada gank somplak dan berwibawa.
Nyatanya mereka adalah pembual,” ucap Andara dengan serius.
Mereka
tertawa lagi karena curhatan Andara. Jujur Andara merasa kesal terhadap para
pria yang dimana sering merayunya. Malahan Andara sendiri sering alergi
mendengar kata cinta dan sayang.
“Lalu
bagaimana dengan Kak Tio yang sering melontarkan banyak kata-kata cinta?” tanya
Adinda yang sengaja memancing Andara di hadapan sang kakak bersama Tio.
Wajah
Andara seketika berubah menjadi memerah. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud
oleh Adinda. Bukannya tidak mengerti, Adinda sengaja membuat Andara terjebak
dalam omongannya sendiri. Dan sekarang terbukti sendiri kalau Andara sendiri
memang terjebak.
“Hmmp...
kamu itu pandai sekali menjebak aku sih?” tanya Andara yang kesal terhadap
Adinda.
Adinda
segera membuka pintu mobilnya dan keluar. Ia tidak mau disalahkan karena
masalah ini. Ia akhirnya melihat pantai di malam hari. Sedangkan Budiman hanya
bisa tertawa terkikik. Ia sangat gemas sekali dengan Andara. Ia tidak menyangka
kalau Adinda suka menjebak sang adik dalam perasaannya sendiri.
“Sepertinya
kakak kamu itu cocok menjadi asisten kakak yang kejam ya?” celetuk Budiman.
“Maksudnya?”
tanya Andara yang mengerutkan keningnya.
“Dia
lawannya langsung takluk di tangannya secara langsung,” jawab Budiman yang
mengakui kecerdasan Adinda.
“Ya...
itu benar. Aku memang mengakui kecerdasan milik Adinda. Tapi kenapa kakak saat
itu malah memilih Kanya?” tanya Andara.
“Jangan
kamu mengingat masa lalu itu. Semua orang pasti memiliki kesalahan sama sekali.
Lebih baik kita melupakan saja. Ketimbang harus mengingatnya kembali. Walau itu
perih aku akan membuat semuanya menjadi pelajaran yang akan kita ingat hingga
akhir hayat. Suatu hari nanti, pelajaran itu akan dibutuhkan ketika anak-anak
kita dan orang sekitarnya terjebak dalam cerita yang hampir sama dengan kita,
maka kita bisa memberikan kisah ini kepada orang lain,” jelas Budiman yang
bijak.
“Nah
ini Kak Budiman kembali ke mode awal. Aku sangat menyukainya. Aku memang
menginginkan kakak kembali seperti dulu,” puji Andara.
“Hmmmp...
sepertinya kamu memiliki sesuatu yang bisa membuat aku terbius. Tapi aku
meminta maaf. Aku tidak ingin terbuai dalam pujian kamu,” ucap Budiman yang
menutar bola matanya dengan malas.
“Aish...
seharusnya terima kasih kek. Ini malah malas sekali dipuji,” ujar Andara yang
kesal.
“Apakah
kamu akan tetap disini?” tanya Budiman yang membuka pintunya.
“Aku
ingin sekali berjalan-jalan bersama Kak Tio,” jawab Andara.
“Terserah
apa katamu. Aku hanya ingin mengajak kalian untuk menghindari acara keluarga
ini. Aku tidak ingin merusak acara perkumpulan keluarga. Aku yakin Rizal akan
mengejar Adinda. Tapi Adinda sudah tidak mau sama Rizal,” ucap Budiman.
“Kak,”
ucap Andara yang mulai serius.
“Ada
apa?” tanya Budiman dengan serius.
“Istri
kakak sudah sangat baik sekali. Bahkan saking baiknya, dia berusaha mendoakan
kakak supaya kakak cepat sadar,” jelas Andara. “Aku harap kakak tidak akan
pernah mengecewakan Kak Adinda. Banyak pria yang menginginkan tipe wanita
seperti Kak Adinda. Jangan sampai Kak Adinda diambil orang begitu saja.”
Budiman
hanya menganggukan kepalanya. Ia paham apa yang dimaksud oleh sang adik. Ia
juga berterima kasih terhadap sang adik karena telah memberikan sebuah nasehat.
Nasehat yang dimana membuat dirinya secara tidak langsung mendapatkan dukungan
penuh dari Andara.
"Terima
kasih ya Nda. Terima kasih mendapatkan perhatian yang lebih dari kamu,” ucap
Budiman yang membuat Andara hanya membalas senyuman saja.
Budiman
segera keluar dari mobil. Ia segera menyusul Adinda yang sedang melihat
pemandangan pantai yang sangat indah sekali. Deburan ombak begitu sangat
mendamaikan hati bisa membuat Budiman ingin memeluk Adinda.
“Apakah
kamu tidak lapar?” tanya Budiman yang sengaja berbisik.
“Aku
sangat lapar sekali. Tapi aku tidak ingin makan di malam ini,” jawab Adinda
yang tiba-tiba saja malas makan.
“Kenapa
kamu tidak mau makan?” tanya Budiman.
“Karena
aku sendiri tidak tahu apa yang dimakan malam ini,” jawab Adinda.
“Coba
kamu sebutkan makanan apa yang bisa membuat kamu makan dengan kenyang malam
ini?” tanya Budiman.
“Ikan
bakar sama nasi goreng seafood,” jawab Adinda yang tiba-tiba saja meminta nasi
goreng seafood dan ayam bakar.
Budiman
merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang. Ia meminta dua porsi nasi goreng
seafood dengan toping yang lengkap. Selain itu juga ia meminta ayam bakar.
Adinda yang mendengar percakapan Budiman hanya bisa tersenyum. Bagaimana tidak?
Budiman sengaja menuruti keinginannya.
“Tunggu
disini. Nanti kalau sudah datang pesanannya. Kita bisa kesana,” ucap Budiman
yang membuat Adinda menganggukkan kepalanya.
“Dimana?”
tanya Adinda.