Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 130



"Gue nggak akan ingat dia lagi. Dia nggak berhak juga mendiami relung hati gue. Gue sadar orang yang penting sekarang adalah Adinda. Dia adalah pelita hidup gue untuk saat ini," jawab Budiman.


"Baguslah sekarang Lu sudah sadar dari sakit jiwamu itu. Gue sengaja bilang lu punya penyakit jiwa hanya karena mendambakan wanita ular itu. Gue siap dipecat karena ngatain lo punya sakit jiwa. Dan gue akan terbebas dari masalah kantor Njawe Group. Setelah itu gue mutusin untuk pulang kampung dan membuka peternakan ayam," ucap Tio yang tidak main-main dengan ucapannya.


Budiman meraih koran di atas meja lalu menggulungnya. Ia sangat kesal tinggal ucapan Tio yang ingin mengundurkan diri dari perusahaannya itu. Namun ia tidak marah sama sekali dengan ucapan Tio. Memang benar apa yang dikatakan oleh Tio. Kalau saat itu jiwanya sedang terguncang oleh karena wanita ular tersebut.


Plaaaaak.


Koran itu melayang berada tepat di wajah tampan Tio. Setidaknya Budiman bisa mengurangi rasa kesalnya itu. Bahkan Budiman sendiri ingin membuat sang asistennya menjadi tempe bejek. Hal itulah yang membuat Budiman sangat kesal.


"Lu kalau keluar seluruh akses gua tutup. Lu nggak akan bisa keluar dari kota ini. Lu akan menderita di kota ini tanpa bantuan dari gue," kesal Budiman yang meninggalkan Tio sendirian di sana.


Melihat kepergian Budiman, Tio malah tertawa terbahak-bahak. Jujur dirinya sangat menyukai sekali ketika mengerjai bosnya itu. Untung saja sekarang Budiman sudah berubah. Bahkan bosnya bisa dibuat bercanda habis-habisan. Jika saja bosnya tidak bisa dibuat bercanda, kemungkinan ia akan digantung di atas Monas. Itulah Budiman yang sebenarnya memiliki sifat ramah dan suka bercanda.


"Kamu kenapa?" tanya Herman yang baru saja datang dengan membawa banyaknya bungkusan nasi uduk.


"Budiman pengen memblokir aksesku untuk pergi dari Jakarta. Soalnya aku sendiri telah mengejeknya sakit jiwa. Otomatis aku bakalan dipecat. Aku bilang saja kalau dipecat akan pulang kampung dan mendirikan sebuah peternakan ayam. Ujung-ujungnya akses ku semua ditutup dan nggak boleh kemana-mana," jelas Tio yang membuat Herman tertawa.


"Kamu gila juga ya? Nggak semudah yang kamu bayangkan untuk keluar dari perusahaan besar seperti itu. Apalagi diri kamu itu memiliki talenta yang cukup unik di dalam perusahaan. Semua orang mengakui kalau kamu asisten yang sangat sabar sekali menghadapi kelakuan Budiman yang sangat aneh itu," ucap Herman yang pergi meninggalkan Tio.


Tio pun menganggukkan kepalanya dan membenarkan Apa perkataan Herman. Sejujurnya ia sendiri tidak ingin keluar dari perusahaan Itu. Mendirikan peternakan ayam tidak mudah baginya. Maka dari itu ia lebih memilih untuk menjadi asisten Budiman. Apalagi Tio sudah menemukan tambatan hatinya. Mana mungkin Tio pergi dari perusahaan Itu tanpa ada kejelasan untuk Andara.


Andara yang sudah siap memakai baju kerjanya langsung keluar dari kamar. Saat keluar, Budiman menatapnya dengan tajam. Budiman seakan-akan marah dan ingin melahap sang adik. Karena malam tadi dirinya tidak bisa tidur.


"Kakak kenapa kok kayak gitu?" tanya Andara yang tidak sengaja melihat Budiman sedang marah.


"Aku marah karena kamu tidak mengizinkanku tidur bersama Adinda," kesel Budiman.


Dengan langkah seribunya, Andara memutuskan untuk pergi dari sana. Andara tidak ingin melihat kemarahan Budiman. Karena kalau sedang mengamuk Budiman sangat menyeramkan sekali.


"Aku takut," teriak Andara yang menghebohkan seisi rumah.


Budiman hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap kepergian sang adik. Padahal ia hanya menatapnya saja belum berbuat sesuatu. Akhirnya Budiman masuk ke dalam dan melihat Adinda sudah membereskan ranjangnya.


"Kenapa sih kok pagi-pagi sudah heboh begini?" tanya Adinda yang menaruh sapu lidinya di sudut ruangan.


"Hanya tidur semalaman saja nggak bersamaku kamu sudah membuat bencana di pagi hari. Kamu kan pria bisa tidur di gambarnya Paman Herman atau Kak Faris. Lah Andara adalah seorang perempuan. Nggak bisa dong aku menyuruhnya tidur bersama mereka. Bisa-bisa aku di rujak sama mamamu nanti," kata Adinda yang memukul lengan Budiman lalu masuk ke dalam toilet.


Budiman membenarkan apa yang dikatakan oleh Adinda. Jika saja sampai terjadi maka dirinya akan diomelin habis-habisan oleh kedua orang tuanya. Terpaksa Budiman memaafkan Andara untuk tadi malam. Rencananya ia tidak akan menyuruh Andara datang ke rumah pada sore hari. Ujung-ujungnya Andara meminta untuk menginap di rumah.


Ceklek.


Pintu terbuka.


Budiman masuk ke dalam toilet dan membuat Adinda berteriak. Dan kehebohan kedua terjadi pada pasangan suami istri itu. Budiman yang tidak siap akhirnya terkena siraman air dari Adinda. Mau tidak mau Budiman membuka pakaiannya dan mandi bersama.


Di dalam toilet mereka tidak melakukan apa-apa. Mereka hanya mandi saja dan keluar. Karena pagi ini Budiman akan mengadakan meeting bersama dengan para pemegang saham utama.


"Aku pagi ini ada rapat sama pemegang saham utama. Aku harap kamu paham dan tidak meminta apapun dariku," jelas Budiman.


"Kamu itu ada-ada saja sih. Aku juga akan ikut rapat bersamamu. Karena aku sudah memiliki saham sebesar tiga puluh persen," ucap Adinda yang membuat Budiman terdiam melongo yang tidak jelas.


"Apakah itu benar? Kamu memiliki saham sebesar itu di perusahaanku," tanya Budiman yang tidak percaya dengan ucapan Adinda.


"Itu benar. Aku memang memiliki saham sebanyak itu di aku mengumpulkannya dari masa sekolahku SMA. Sedikit demi sedikit Aku membelinya di bursa saham. Dan aku sangat tertarik sekali pada perusahaanmu itu. Sebenarnya aku sendiri tidak mengerti kenapa bisa membeli saham di sana," jawab Adinda yang segera memakai baju di hadapan Budiman.


"Mati aku. Bisa-bisa kamu memecatku karena banyak kesalahan di perusahaan," ucap Budiman yang siap-siap saja menjadi gelandangan hanya karena sang istri.


"Sebenarnya aku nggak akan memencet orang begitu saja. Semuanya akan aku pikirkan sebelum mengerjakan tugas. Kalau begitu ya sudahlah. Kamu tenang saja dan tidak akan terjadi apa-apa. Semuanya itu bergantung pada tanganku ini," ujar Adinda yang membuat nyali Budiman ciut.


Jujur Budiman sangat ketakutan sekali ketika Adinda mengatakan semuanya. Budiman tidak bisa berkata apa-apa lagi. Nasibnya sekarang berada di tangan sang istri. Bisa jadi sang istri memecatnya dan mengganti CEO yang baru. Namun Apakah Adinda sekejam itu terhadap sang suami? Kita lihat saja nanti hasil meetingnya bagaimana. Karena pemegang saham terbesar di perusahaannya Budiman adalah Adinda sendiri.


"Tenanglah. Semuanya bisa diperbaiki Jika kamu mau. Jika kamu nggak mau ya sudah aku bisa menggantinya dengan orang lain. Karena aku sendiri bekerja memakai hati dan perasaan," jelas Adinda.


"Iya saja deh. Ketimbang aku disuruh tidur di luar dan tidak mendapatkan pelukan hangat darimu," ucap Budiman dengan pasrah..


"Tiba-tiba saja kamu sangat pasrah sekali pada pagi ini. Memangnya ada apa sih?" tanya Adinda yang menahan tawanya karena Budiman sudah sangat pasrah sekali tentang kehidupannya.