
“Gara-gara kamu, aku mendapatkan booster. Kamu selalu pengertian sekali dengan apa yang aku inginkan," jelas Budiman.
“Enakkan yang namanya menikah?” tanya Adinda.
“Aku pikir wanita itu hanya bisa ditiduri dan diajak bermain setiap malam. Aku harus membelikan barang-barang mewah atau mobil mewah. Sebongkah berlian dan uang tunai,” ucap Budiman yang menatap wajah Adinda.
“Enggak selamanya wanita seperti itu. Wanita itu harus tahan banting menghadapi semua kenyataan hidup ini,” jelas Adinda. “Memangnya kamu pikir wanita itu hanya hamil lalu melahirkan sebuah keturunan lalu merawatnya? Ya enggak juga kali. Perempuan itu harus memiliki skill di dalam hidupnya. Banyak sekali teman-temanku yang sudah menikah memiliki pemikiran maju. Mereka memilih berjualan online meskipun statusnya ibu rumah tangga saja. Selain itu juga perempuan harus pintar dan bisa mendeteksi ketika suaminya memiliki tanda-tanda selingkuh.”
“Ini nih bagi pria yang suka berselingkuh pasti tidak tenang,” ledek Budiman.
Adinda menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis. Kemudian Adinda meledakkan tawanya sambil memegang perutnya. Entah kenapa dirinya berkata seperti itu di hadapan Budiman. Ia lebih sering mengatakannya ke depan Andara maupun lainnya. Agar Adinda bisa memberikan teman-temannya ketika waktu berkumpul.
Seketika Adinda menghentikan tawanya. Ia langsung menatap Budiman sambil menatapnya, “Maafkan aku.”
“Kamu enggak salah dalam masalah ini. Kamu memang benar. Jadi perempuan itu harus kuat dalam segala bidang. Apalagi aku seorang CEO yang dibayang-bayangi banyak ancaman dari nomor tidak jelas,” jelas Budiman.
“Sepertinya aku harus belajar karate lagi,” ucap Adinda. “Aku juga sudah lama tidak belajar Judo.”
“Semaunya saja kamu ambil. Aku akan senang jika kamu belajar karate. Aku juga sudah lama tidak belajar Martial Art,” ucap Budiman yang membuat Adinda tercengang.
“Aku belajar itu demi jaga-jaga. Aku sering berlatih bersama Kak Irwan dan Kak Roni. Kami satu perguruan. Setahun belakangan ini aku tidak melakukan ini semuanya karena pekerjaanku banyak sekali,” jelas Adinda.
“Yang, ayo kita bulan madu,” ajak Budiman.
“Aku belum ada rencana kesana. Aku harus membereskan semua pekerjaan terlebih dahulu,” tolak Adinda yang memang sengaja tidak memberitahukan rencananya bersama Andara.
“Ya sudahlah. Tidak apa-apa. Lain kali saja. Kita akan berbulan madu setelah pekerjaan kita selesai,” jelas Budiman. “Apakah kita akan kita menginap disini?”
“Ya... aku akan menginap disini. Aku ingin merasakan deburan ombak di pagi hari,” jawab Adinda.
“Apakah kamu akan membuat seorang bayi?” tanya Budiman.
“Sepertinya tidak. Aku tidak ingin melakukannya. Karena aku sendiri sedang datang bulan,” jawab Adinda.
“Waduh,” celetuk Budiman. “Aku harus menunggu beberapa hari ke depan.”
Adinda tersenyum manis lalu menganggukkan kepalanya. Ia memang sedang datang bulan sebelum berangkat meeting. Untung saja Adinda lepas dalam cengkeraman dari Budiman, Rencananya beberapa malam ke depan ia akan beristirahat dengan tenang.
“Maafkan aku,” ucap Adinda yang tidak sengaja melihat Budiman kecewa.
“Tidak apa-apa. Lagian hampir setiap hari kita melakukannya. Kita harus beristirahat,” ucap Budiman yang sebenarnya tidak kecewa sama sekali kepada Adinda.
“Kemana?” tanya Budiman.
“Mau melihat sunset,” jawab Adinda.
Budiman tersenyum manis lalu memegang tangan Adinda. Mereka menuju ke tepi pantai sambil melihat semburat merah di awan. Mereka saling berhadapan dan tersenyum. Mereka sangat menikmati sore ini dengan baik.
“Apa kamu bahagia?” tanya Adinda.
“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu ke kamu” jawab Budiman
“Gantian ya. Aku yang tanya. Bukan kamu,” kata Adinda yang menatap wajah Budiman.
“Ya... aku memang bahagia. Aku baru merasakan kebahagiaan yang belum kurasakan,” ucap Budiman.
“Syukurlah kamu bahagia. Aku tidak ingin melihat kamu menderita seperti dulu,” ujar Adinda yang bersyukur kepada Tuhan.
Mereka memilih diam dan terus saja menatap. Adinda melihat kebahagiaan Budiman di matanya. Ia berharap Budiman bisa tersenyum kembali ketika pertama bertemu. Tak sengaja Budiman mendekatkan diri ke wajah Adinda. Tangan kekarnya menggenggam tangan Budiman. Mulut seksi Budiman tidak sengaja mencium Adinda di bawah sunset. Ia memang sengaja melakukan demi menciptakan kenangan indah bersama.
POV Budiman.
Namaku Budiman. Aku dilahirkan di Belanda. Ketika bayi aku sengaja dibawa kedua orang tuaku ke Indonesia. Aku sengaja dibesarkan di dunia bisnis. Seiring berjalannya waktu, aku mulai tumbuh dewasa. Aku mulai berkumpul bersama Herman, Faris, Roni, Irwan dan Rizal. Mereka adalah teman-temanku yang sangat mengasyikkan. Oh ya satu lagi, aku memiliki teman yang bernama Tio.
Ketika SMP aku sering sekali bermain ke rumah Faris dan Herman. Mereka memiliki usia yang sama. Namun mereka adalah paman dan keponakan. Aku sering sekali melihat Adikku bermain bersama Adinda. Adinda adalah adik kandung dari Faris. Usia kami hanya terpaut tiga tahun saja. Dahulu memang rumah kami dekat dan hanya dipisahkan dari beberapa blok saja. Mereka sangat akrab sekali dan sering bersenda gurau. Tiba-tiba saja aku melihat Adinda sangat cantik sekali. Ketika beranjak remaja aku sudah mengincarnya untuk kujadikan istri masa depanku. Namun semuanya hancur waktu Kanaya datang.
Aku berkenalan dengan Kanaya hanya sebagai teman saja. Aku tidak tahu kalau dia ingin masuk ke dalam hidupku. Aku hanya membiarkan saja. Namun Kanaya berusaha menghapus memoriku tentang Adinda. Ia memang berhasil melakukannya. Bahkan dia sengaja membenturkan aku ke keluargaku.
Semakin lama sifatku berubah. Aku yang dulu memiliki sifat anak baik hilang seketika. Sifat tempramentalku mulai tumbuh sedikit demi sedikit ketika masuk SMA. Aku gampang marah dan tidak bisa sabaran. Ya memang parah sih. Tapi mau bagaimana lagi.
Setiap bertemu dengan Adinda perasaanku ingin menghajarnya saja. Aku sengaja tidak pernah menyapanya kembali seperti dulu. Ditambah dia terlalu ikut campur masalah keluargaku. Sebenarnya sih semuanya tidak menjadi masalah. Adinda berusaha menyadarkan aku dari kehancuran. Akan tetapi Adinda belum bisa melakukannya.
Tepat usiaku yang ke dua puluh delapan, aku dikejutkan dengan pembicaraan kedua orang tuaku. Mereka ingin aku menikahi Adinda. Awalnya aku menolaknya. Karena diriku sendiri telah menjalin hubungan bersama Kanaya. Kisah cintaku yang satu ini memang konyol. Sebab Kanaya sendiri adalah perempuan yang haus dengan barang-barang branded.
Hampir setiap hari Kanaya datang ke kantor. Kanaya sendiri meminta barang-barang yang sedang happened banget. Jika aku tidak membelinya, maka Kanaya tidak menghubungiku sama sekali. Bisa dikatakan ngambek.
Waktu bergulir sangat cepat, aku terpaksa menikahi Adinda. Aku pikir Adinda adalah perempuan lemah dan tidak sempurna sama sekali. Namun semuanya salah besar. Adinda sangatlah berbeda jauh dari Kanaya. Meski Adinda memiliki segalanya, dia tidak pernah menonjolkan kekayaannya itu. Bahkan Adinda sendiri adalah wanita mandiri. Cara bicaranya juga sangat tegas sekali. Pembawaannya seperti air mengalir yang tenang. Akan tetapi dirinya memiliki bawaan diam-diam menghanyutkan.