
"Aku sudah melupakan semuanya. Sekarang aku menerima cintanya Kak Budiman. Masa lalu adalah masa lalu. Apakah aku harus kembali ke masa lalu tersebut?" tanya Adinda yang memandang Budiman yang sudah membereskan semuanya.
"Kalau begitu kamu adalah wanita yang sangat hebat sekali," jawab Herman yang tersenyum manis.
"Enggak juga. Paman mau pulang ke rumah?" tanya Adinda.
"Enggak. Aku mau pergi ke rumah Kak Husein. Kamu sudah lama enggak kesana," jawab Herman.
"Hmmmp... sepertinya nanti malam aku kesana bersama Kak Budiman. Akhir-akhir ini Paman Husein menyuruhku pergi ke rumahnya. Ada yang harus dibicarakan," ucap Adinda.
"Ya... pokoknya jangan lama-lama," ujar Herman.
Budiman yang telah selesai membereskan peralatannya langsung menatap Adinda. Ia membiarkan peralatannya itu berdiam diri di atas meja. Setelah itu Budiman segera pergi ke arah Adinda. Dengan senyum penuh menawan, Budiman menatap wajah Adinda.
Tak sengaja Adinda melihat wajah Budiman yang bahagia. Ia lalu membalas senyum Budiman sambil melambaikan tangannya. Sesampainya disana Budiman berdiri menghadap ke arah Adinda.
"Kamu mau kesana setelah ini?" tanya Budiman.
"Apakah kamu free?" tanya Adinda.
"Hmmmp... free. Pekerjaan hari ini sudah selesai semua," jawab Budiman. "Aku sedang menunggu beberapa berkas-berkas dari divisi keuangan."
"Kalau kamu free, lebih baik kamu ikut dengan kamu," ajak Herman.
"Hmmmp... kemana?" tanya Budiman.
"Ke rumah Kak Husein," jawab Herman.
"Kak Husein?" pekik Budiman. "Siapa itu Kak Husein?"
"Masa kamu enggak kenal siapa Kak Husein? Beliau adalah seorang pengacara kondang di tanah air. Beliau juga adalah kakak dari Kak Malik," jawab Herman yang meraih jasnya lalu memakainya.
"Oh... Maksudnya adalah Paman Husein. Ya... aku mengenalnya. Beliau juga kuasa hukum di perusahaan ini," ucap Budiman yang hampir melupakan siapa itu Husein.
"Kakak mau ikut dengan kami?' tanya Adinda yang menatap wajah Budiman.
"Jika kamu mengajakku," jawab Adinda. "Sepertinya kita enggak jadi kesana."
"Kenapa kamu tia-tiba saja membatalkan rencana ini?" tanya herman yang mengerutkan keningnya.
"Karena Kak Budiman jadwalnya sangat padat sekali. Aku akan mendampinginya seharian ini. Kecuali malam nanti free," jelas Adinda yang baru sadar kalau Budiman sedang sibuk.
"Baiklah. Kalau begitu aku juga membatalkan rencanaku untuk datang kesana,' celetuk Herman.
"Ya nanti kita kesana bersama-sama," jelas Herman.
"Kalau begitu baiklah," balas Budiman.
"Aku pamit terlebih dahulu. Aku harus bertemu dengan klien untuk menggantikan faris," pamit Herman yang mengambil tas yang berisi laptopnya.
Herman akhirnya meninggalkan mereka yang sedang merenung tentang masa depan perusahaan di sini. Jika Gilang terus menyerang perusahaan ini, maka akan berdampak beberapa tahun yang lalu. Ditambah lagi, Hilang tidak akan pernah menyerah untuk menjatuhkan lawannya dengan cara apapun.
"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" tanya Adinda dengan serius.
"Aku harus mencari cara agar mereka tidak menyerang perusahaan ini. karena sebentar lagi Gilang akan menyerang perusahaan. Karena dia tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya," jawab Budiman.
"Hmmmp... sepertinya itu sangat mengasyikkan sekali bagi aku.Biarkan aku yang melawannya. Jujur selama ini aku ingin membuat Gilang terkena mental," pinta Adinda.
"Kamu ini sangat menyeramkan sekali. Bagaimana bisa kamu melaksanakannya?" tanya Budiman.
"Serahkan semuanya pada Adinda.Adinda tidak akan pernah menyerah untuk membuat Gilang tunduk,' jawab Adinda yang membuat Budiman yang menganggukan kepalanya.
"Terserah kamu saja," balas Budiman.
"Bukannya kamu ada pertemuan dengan investor asing dari Inggris?" tanya Adinda.
"Nah itu dia," sahut Budiman yang mengulurkan tangannya.
"Ayo aku ikut. Anggap saja aku adalah asisten pribadimu tanpa harus dibayar," seru Adinda yang bersemangat sekali.
"Hmmp... sepertinya itu benar. Karena aku sengaja membiarkan Tio sendiri di kantor," jawab Budiman.
Adinda sengaja menyambut uluran tangan Budiman. Ia lalu berdiri dan mendekati mereka. Sebelum keluar dari perusahaan, Budiman mengajak Adinda menemui kedua orang tuanya.
"Temui mama dan papa terlebih dahulu. Ada yang harus mereka bicarakan sama kita," ajak Budiman.
Adinda menuruti keinginan Budiman untuk menemui mertuanya itu. Sepanjang perjalanan, Adinda tidak sengaja memiliki firasat. Yang dimana firasat itu sangat membahayakan hidupnya.
"Kok aku sedang melihat Gilang sedang tersenyum sinis di bayanganku? Tapi kenapa dia seperti mengikat Kak Budiman seperti tawanan? Bahkan Kak Budiman tidak sengaja disiksa oleh beberapa orang bertubuh kekar," batin Adinda yang tidak sengaja mendapatkan perasaan itu.
Memang Adinda kali ini sangat ketakutan sekali. Adinda tidak ingin kejadian ini terjadi. Kalau terjadi, Adinda merasakan kesedihan sangat mendalam sekali.
"Kamu ada apa?" tanya Budiman yang menatap Adinda yang sedari tadi hanya diam saja di depan lift.