Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 179



"Maaf nyonya. Saya disuruh oleh seseorang untuk mengajak anda pergi ke suatu tempat. Orang itu ingin sekali bertemu dengan anda," jawab pria itu.


"Siapa dia? Apakah dia masih ada hubungannya dengan Gilang?" tanya Budiman sambil mengerutkan keningnya.


"Lebih baik anda ikut saja dengan saya. Untuk lebih jelasnya, Anda semuanya akan mendapatkan informasi dari orang tersebut," pinta pria itu.


Sebenarnya Adinda dan Budiman sangat ragu sekali. Jujur mereka tidak ingin ikut dengan pria tersebut. Namun pria itu tetap memaksanya dan akhirnya mereka mengalah.


Pria itu mengajaknya ke sebuah hotel mewah. Adinda hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dalam hatinya bertanya, ada apa sebenarnya ini?


Perjalanan menuju hotel hanya membutuhkan waktu sepuluh menit saja. Mereka berdua sengaja tidak bertanya. Mereka berharap semuanya akan baik-baik saja setelah menemui orang misterius tersebut.


Sesampainya di kamar hotel, pria itu mengetuk pintu. Beberapa saat kemudian pintu kamar itu terbuka. Seorang wanita yang bersahaja menatap wajah Adinda. Adinda yang tidak sengaja melihat wanita itu langsung berteriak.


"Yuki!" teriak Adinda dengan riang gembira sambil memeluk Yuki.


Yuki pun juga berteriak karena senang bertemu dengan Adinda. Mereka berdua saling melepaskan rindu dan kehangatan. Budiman yang melihatnya hanya bisa terdiam. Dirinya tidak menyangka kalau sang istri memiliki kebahagiaan sederhana. Jujur Adinda sendiri tidak menuntut apapun dari siapa-siapa. Bahkan Adinda pun tidak menuntut dirinya untuk menjadi malaikat.


"Kamu ke mana aja? Aku sangka kamu menghilang," tanya Adinda sambil tersenyum manis.


"Jangan di sini mengobrolnya. Lebih baik kita masuk ke dalam saja. Aku memiliki kejutan buat kamu," jawab Yuki sambil memegang tangan Adinda dan mengajaknya masuk ke dalam.


"Lalu bagaimana dengan Kak Budiman?" tanya Adinda.


"Masuklah ke dalam," ajak Yuki sambil menoleh ke arah Budiman.


Sementara pria itu memutuskan untuk meninggalkan kamar tersebut. Sebelum pergi Budiman mengucapkan terima kasih kepadanya. Pria itu menoleh sebentar Dan tersenyum. Budiman segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam.


Saat di dalam, Adinda langsung mematung. Ia bingung karena melihat seorang pria yang dikenalnya itu. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hampir saja tidak bisa bernafas hanya karena melihat pria tersebut.


"Halo Adinda," sapa Rizal.


"Kak Rizal?" pekik Adinda.


"Iya ini aku. Aku adalah Rizal Sulistiono," jawab Rizal.


"Bagaimana caranya Kakak hidup? Bukannya kakak sudah meninggal?" tanya Adinda.


Budiman menghampiri Adinda dan melihat keberadaan Rizal. Jujur dirinya juga terkejut melihat Rizal yang masih hidup. Ia sengaja membuat dirinya menjadi patung dan otaknya mulai berpikir. Bagaimana caranya Rizal hidup dengan baik seperti ini?


"Kenapa lu ikut-ikutan jadi patung Bud?" tanya Rizal yang sengaja berdiri mendekati Budiman.


"Dasar lu jadi orang seenaknya saja. Lu kan sudah mati! Kenapa lu masih bisa hidup lagi!" seru Budiman yang siap-siap menghajar Rizal.


Rizal akhirnya tertawa lepas melihat Budiman. Mereka akhirnya bertarung dan saling tonjok-tonjokan. Sementara itu Adinda dan Yuki hanya bisa menghela nafasnya. Adinda menceritakan kepada Yuki kalau Rizal sama Budiman memang begitu orangnya. Maklum mereka baru saja bertemu. Hanya beberapa menit mereka memutuskan untuk berhenti. Mereka saling memeluk dan tersenyum bahagia. Kemudian mereka melepaskan diri sambil menatap pasangannya masing-masing.


"Din," panggil Budiman.


"Apa Kak?" tanya Adinda.


"Aku sudah tidak tertarik lagi. Aku lebih dari kepadamu ketimbang Kak Rizal untuk saat ini," ledek Adinda sambil melihat Rizal.


"Ah sayang sekali. Ternyata kamu ditolak mentah-mentah sama Adinda," ejek Budiman.


"Tapi aku sekarang sudah menikah. Pernikahanku tidak pernah aku beritahukan kepada media," ucap Rizal yang melepaskan Budiman lalu mendekati Yuki.


"Dengan siapa Kakak menikah?" tanya Adinda.


"Tuh temen kamu yang ngakunya sebagai hacker di agen rahasia mata-mata berada di kota Malang," jawab Rizal sambil menunjuk Yuki.


Adinda berteriak kegirangan dan memeluk mereka berdua. Di dalam pelukannya itu Adinda mendoakan Mereka berdua agar memiliki hubungan yang langgeng. Jujur saja mereka melepas rindu karena sudah tidak lama bertemu dengan Adinda. Di mata mereka Adinda sendiri adalah teman yang sangat menyenangkan sekali.


"Sekarang jelaskan padaku. Kenapa kamu masih hidup hingga sampai saat ini?" tanya Adinda yang melepaskan Rizal dan Yuki.


"Aku juga gitu. Bukannya dulu kamu pernah ditusuk sama Kanaya hingga meninggal?" tanya Budiman yang menghempaskan bokongnya lalu duduk di sofa single.


"Aku saat itu tidak mati. Pisau yang ditunjukkan oleh Kanaya sendiri tidak mengenai perutku ini. Perutku sengaja aku lapisi oleh kantung darah yang terpasang dengan baik," jawab Rizal.


"Apakah kamu sengaja memiliki trik khusus agar Kanaya melakukannya?" tanya Budiman lagi.


"Rencana pembunuhan yang dilakukan oleh Kanaya bersama Gilang aku sudah mengetahuinya terlebih dahulu. Aku tidak sengaja mendengarnya ketika berada di kampus. Mereka membuat rencana itu di taman belakang kampus. Aku mendengarkannya dengan teliti dan memutuskan untuk membuat trik pembunuhan itu," jawab Rizal yang sengaja mengambil air mineral di dalam kulkas.


"Ternyata kak Rizal memiliki otak yang sangat licik sekali," puji Adinda yang duduk di samping Budiman.


"Aku memang sengaja melakukannya. Jika tidak, mereka akan menghabisiku dengan mudah. Kamu tahu kan ambisi mereka seperti apa? Ditambah lagi mereka bekerja sama dengan beberapa mafia yang berada di Asia maupun Amerika," jelas Rizal


"Yang dikatakan oleh kak Rizal itu benar. Bukannya aku sudah memberikan data-data itu ke kamu Din?" tanya Yuki yang sengaja duduk di hadapan Adinda.


"Iya aku memang mendapatkan data-data itu. Memang gila itu orang. Bisa-bisanya Gilang menghabisi orang dengan mudah? Sekarang aku yang sedang diserang. Gilang ingin sekali merebut tender yang aku peroleh dengan susah payah," jawab Adinda.


"Aku sudah mengetahuinya itu. Aku tidak berada di Indonesia. Aku selalu mencari informasi tersebut," jelas Rizal. "Sekarang dia sengaja menyekap keluarganya Netty. Dan Netty dijadikan boneka untuk merebut tender tersebut."


"Tapi nyatanya orang suruhannya itu sedang mengalami patah tulang. Aku sengaja melemparkannya ke dinding. Gara-garanya dia adalah kurang ajar melemparkan karung yang berisikan ular berbisa ke arah kami," jelas Budiman.


"Lu kasar banget ya sama cewek!" kesal Rizal.


"Gue nggak kesel sama orang itu. Lu kan udah tahu kelemahanku apa. Kenapa lu jadi nyalahin gue?" tanya Budiman hingga membuat Rizal tertawa terbahak-bahak.


"Apakah Kak Budiman takut sama ular?" tanya Adinda.


Seketika Rizal menghentikan tawanya. Lalu Rizal menatap wajah Adinda sambil menjawab, "Iya itu benar. Tapi kelemahannya itu sengaja disimpannya dengan baik dan benar."


Budiman mengakui kelemahannya itu. Ia tidak ingin membohongi Adinda. Nyatanya Adinda tidak mempermasalahkan soal itu.


"Kabar yang aku dengar dari rumah sakit, tulang punggungnya itu ada yang patah satu. Yah bisa dikatakan dia akan berada di kursi rodanya seumur hidup," ucap Rizal yang membaca satu pesan yang berada di ponselnya itu.


"Apakah kamu serius?" tanya Yuki sambil mengerutkan keningnya.