Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 144



“Alasannya sangat signifikan. Mereka berdua takut kalau kita diserang sama Gilang dan keluarganya itu. Aku tahu Adinda tidak akan membiarkan orang-orang terdekatnya terluka hanya karena mereka. Bahkan Adinda sendiri sudah memiliki luka yang cukup dalam tentang kematian Rizal. Memang cukup perih bagi Adinda ketika mengingat kejadian itu. Yang membunuh adalah Kanaya. Tapi di belakang dia ada Gilang. Sampai sekarang motifnya Aku tidak tahu sama sekali. Aku masih mencarinya demi mendapatkan kejelasan yang sempurna dari Gilang sendiri,” jawab Herman.


“Itu terserah mereka saja. Meskipun mereka tidak melanjutkan kuliahnya S3. Mereka memiliki otak yang sangat cerdas sekali. Budiman sekarang sudah berubah. Dulu sebagai kulkas berjalan sekarang sudah tidak lagi. Kamu tahu sendiri kan kalau dia sering tersenyum kepada kita ketika di pagi hari? Sekarang Budiman sudah kembali ke masa lalunya. Aku berharap semuanya akan baik-baik saja setelah ini. Aku tidak ingin konflik ini berkelanjutan hingga sampai memiliki cucu dan cicit,” ucap Malik yang bangga terhadap Budiman.


“Setahuku kita itu tidak memiliki dendam sama Gilang. Kita juga tidak pernah meninggalnya sama sekali. Masalah bisnis jalan kita masing-masing bagaimana menjalankannya. Tapi kenapa kok akhir-akhir ini Gilang selalu menyerang SM company tanpa alasan yang jelas. Mungkinkah soal tender besar itu?” tanya Herman yang sebenarnya ingin mencurahkan isi hatinya tentang masalah Gilang menyerang perusahaannya berulang kali.


“Aku sendiri juga tidak tahu. Kalau soal tender tersebut Aku tidak pernah mempersalahkannya. Karena Adinda sudah memiliki bakat untuk meraih tender besar. Jika semuanya terjadi maka terjadilah. Hanya karena soal tender Gilang menyerang kita terus-terusan. Ini memang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kalau begitu aku merestui Adinda agar tidak pergi ke London terlebih dahulu. Masalah ini harus cepat selesai agar tidak berlarut-larut,” ucap Malik yang tidak akan membiarkan mereka berdua pergi ke London dan meninggalkan masalah ini.


“Apakah kita tanyakan saja pada Adinda? Aku sangat penasaran sekali dengan kasus ini. Berhubung malam ini cuaca sangat panas sekali. Aku memutuskan untuk berenang saja,” pamit Herman.


“Jangan berenang malam-malam. Jagalah kesehatanmu sebelum kamu sakit. Udara malam ini meskipun panas itu tidak baik bagi tubuhmu. Lebih baik kamu istirahat dan menyambut hari esok dengan lebih bahagia ketimbang hari sekarang,” tutur Malik yang tidak akan membiarkan sang adik berenang malam-malam.


“Hari besok adalah hari yang menjengkelkan. Hari besok adalah keputusan tentang nasib Budiman. Aku yakin Adinda akan memberikan jawaban terbaiknya. Karena Adinda sendiri tidak akan pernah membuat semua orang kecewa,” ujar Herman yang tidak jadi untuk berenang.


“Kalau Adinda memutuskan Budiman masih menjadi seorang CEO dari perusahaannya sendiri? Bagaimana menurut kamu?” tanya Malik yang menatap bintang di langit.


“Dasar Herman licik! Ternyata kelicikanmu bisa membuat orang gelisah menghadapimu. Kamu memang pantas menjadi penasehat untuk Adinda. Dari kita berempat hanya kamu saja yang memiliki keberanian untuk mengungkap semua kejahatan seseorang dengan bersih. Sepertinya aku harus belajar darimu dan meneliti semua orang. Agar orang-orang tersebut tidak membuat keonaran lagi,” puji Malik yang mengakui kehebatan sang adik.


“Aku sudah memberitahukan bagaimana caranya. Tapi Kakak nggak pernah mau belajar dariku. Kakak lebih memilih untuk menjadi dosen agar mensejahterakan setiap orang mencari ilmu. Tapi aku tidak marah kepada kakak. Justru pekerjaan kakak yang menjadi dosen itu bisa membuat orang-orang menjadi sangat pintar sekali,” puji Malik sebaliknya.


“Itulah perasaan kakak untuk saat ini. Kakak tidak akan pernah menyesalinya. Karena pekerjaan dosen itu adalah pekerjaan mulia. Setiap orang memiliki porsi masing-masing. Aku juga tidak akan bisa menjadi seperti kamu. Kamu juga tidak akan pernah bisa menjadi sepertiku. Itulah kenapa Tuhan memberikan kita kelebihan masing-masing. Di antara kelebihan itu kita sebagai manusia bisa melengkapinya satu dengan yang lainnya. Kamu jangan pernah minder atas pekerjaanmu itu. Kakak sangat bangga sekali kepadamu. Cita-citamu sudah tercapai untuk menjadi seorang pengacara,” tutur Malik dengan lembut.


“Semuanya itu adalah kerja keras yang harus dibayar dengan mahal. Terima kasih atas dukungannya Kak. Meskipun aku tidak pernah bertemu dengan kedua orang tuaku. Aku tidak pernah menyesalinya. Bagiku ketika kakakku adalah adalah pahlawanku. Adinda dan Faris adalah obat untuk membuat aku semangat,” ujar Herman yang berkata jujur atas keadaannya sekarang.


“Bagaimana dengan pernikahanmu itu?” tanya Malik.