
Tio mengerutkan keningnya sambil menatap Andara. Ia sendiri bingung dengan pertanyaan Andara. Ya... Tio tidak tahu kalau Andara menetap di kamar Adinda.
"Kamu kok heboh sih?" tanya Tio yang membereskan seluruh pekerjaannya.
"Iyalah. Secara aku sendiri terusir dari kamar nyamannya Adinda," jawab Andara yang mulai cemberut.
"Maksud kamu apa?" tanya Tio yang enggak paham.
"Maksudnya, aku tidak bisa tinggal di kamar Adinda yang wangi itu," jawab Andara yang membuat Tio menahan tawanya.
"Seharusnya kamu mengalah dan membiarkan Budiman sekamar dengan Adinda. Siapa tahu dalam beberapa bulan akan ada anggota baru di keluarga kamu dan juga Adinda. Jika sampai itu terjadi, maka kamu juga bahagia ujung-ujungnya," jelas Tio yang membuat Andara menganggukan kepalanya.
"Apakah aku harus memintanya?" tanya Andara yang mendekati Tio dan duduk di hadapannya.
Tio meledakkan tawanya karena pertanyaan Andara. Ia tidak menyangka kalau adiknya di bos itu memang sangat lucu sekali. Ia menggelengkan kepalanya sambil menjawab, "Kamu tidak perlu memintanya. Suatu hari nanti akan jadi."
"Kalau enggak jadi bagaimana kak?" tanya Andara.
"Pasti jadilah. Makanya kamu harus memberikan kesempatan untuk kakakmu itu untuk bercocok tanam dengan bebas. Agar kamu bisa mendapatkan keponakan baru," jelas Tio sambil menumpuk berkas-berkas itu.
"Hmmp... baiklah. Aku akan pulang ke rumah saja," ucap Andara.
"Kalau kamu sudah menetap di rumah, nantinya berangkatnya sama aku saja," pinta Tio.
"Apakah kakak tidak keberatan?" tanya Andara yang merasa tidak enak hati.
Tio berdiri sambil meraih jasnya. ia lalu memakainya dan mengkaitkan kancingnya. Setelah itu Tio memandang wajah Andara sangat manis itu.
"Semuanya tidak keberatan sama sekali," jawab Tio. "Lagian juga aku tinggal di belakang rumah. Jadinya kita bisa pergi ke kantor."
Andara menganggukan kepalanya. Ia segera berdiri dan tersenyum manis. Kalau Tio segera meninggalkan kantor itu sambil berteriak, "Ayo."
Andara segera menyusul Tio dan menyamakan langkah kakinya itu. Mereka segera masuk ke dalam lift yang membawanya ke lantai lobi. Sesampainya disana Tio langsung mengambil mobil dan menyuruh Andara masuk. Sebelum berangkat, Tio mengatakan kalau dirinya akan menjemput Adinda dan Budiman.
"Apakah kamu ingin pulang terlebih dahulu?" tanya Tio.
"Memangnya ada apa?" tanya Andara balik.
"Aku ingin menyusul Budiman sama Adinda terlebih dahulu. Sebab. Adinda sudah tidak betah lagi di rumah sakit," jawab Tio yang menancapkan gasnya menuju ke arah Tanggerang.
"Hmmp... sebaiknya aku ikut saja. Aku sendiri sudah lama tidak bertemu dengan Adinda," ucap Andara.
"Hmmp.. Apakah kamu enggak apa-apa?" tanya Tio.
"Aku enggak apa-apa kak. Besok kan hari weekend. Kerjaan juga sudah selesai. Lalu apa salahnya jika aku ikut dengan Kak Tio? Terus aku sendiri tidak pernah mengunjungi Adinda selama masuk ke rumah sakit?" tanya Andara balik.
Di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit semuanya hening tanpa suara. Hanya deru mobil yang dikendarai oleh Tio yang membuat suasana menjadi hambar. Bagaimana tidak? Tio lebih suka mengekspresikan dirinya melalui perbuatan.
Prastyo atau lebih dikenal sebagai Tio adalah pria yang bingung ketika dekat dengan seorang wanita. Ia jarang sekali berbicara dengan wanita. Beda lagi sama Budiman, Budiman orangnya humble dan humoris lebih membuat banyak wanita menggandrunginya.
Namun apa daya, setiap wanita mendekat, Budiman tidak meliriknya sama sekali. Ia sekarang sudah jenuh dengan banyak wanita menunjukkan sikap manis dan imut. Ia lebih menyukai Adinda. Ya... Adinda yang sudah memporak-porandakan hatinya.
Kembali lagi ke Tio, sang asisten tidak mengenal perempuan sama sekali. Bukan berarti Tio adalah seorang g*y. Tio masih menyukai perempuan. Yang dimana Tio saat ini sangat menyukai Andara. Namun Tio memendam rasa itu. Karena ia tahu kalau cintanya tidak akan terbalaskan.
Tio tidak tahu itu perasaan sebenarnya Andara. Memang, Andara sangat pandai sekali ketika menyembunyikan perasaannya.
Hening dalam suasana mobil membuat Andara muak. Ia tidak menyangka kalau pria yang menjadi incarannya berubah menjadi dingin. Ingin rasanya Andara melemparkan Tio ke Sungai Amazon. Sebab ia tidak menyukai keadaan seperti ini.
Di rumah sakit, Adinda bersama Budiman menunggu kedatangan Tio. Mereka sibuk pada benda pipih masing-masing. Lalu Adinda dengan isengnya membuka status pesan yang berwarna hijau.
Adinda menemukan sebuah statusnya Andara. Setelah itu Adinda tertawa renyah dan memegang pundak Budiman. Budiman terkejut dan menoleh ke ke arah Adinda sambil bertanya, "Ada apa?"
"Ada seorang gadis yang kesal pada pria incarannya. Dia itu menuliskan statusnya yang berisi aku benci jika ketika harus di hadapkan dengan pria dingin seperti ini. Ingin rasanya aku melemparkannya ke Sungai Amazon," jawab Adinda sambil menatap wajah Budiman.
Seketika Budiman tertawa akan hal itu. Budiman sebenarnya tahu status siapa itu. Namun ia sengaja tidak bercerita tentang akan hal itu. Ia membiarkan Adinda menemukannya.
"Ya... Begitulah Tio. Makanya aku sering memperingatkan kalau Andara jangan terlalu cinta sama Tio," ucap Budiman sambil menghentikan tawanya.
Adinda mengerutkan keningnya sambil memandang wajah Budiman. Selama ini Budiman tahu kalau Andara suka sama Tio? Jujur ia sangat terkejut sekali dengan pernyataan Budiman baru saja.
"Ternyata kamu tahu kisah tentang Kak Tio dan Nda?" tanya Adinda yang bingung.
"Ya... Aku tahu semuanya. Bahkan mama papa tahu. Sekarang jadi pertanyaannya apakah Tio mau dengan adikku itu?" tanya Budiman yang bingung dengan perasaan Tio.
"Memiliki seorang kekasih seperti Nda, pria mana yang akan menolaknya. Dia akan mempertahankan Nda dengan penuh suka cita. Tapi itu tergantung Kak Tio sih. Kalau aku menjadi Kak Tio, aku tidak akan melepaskan sama sekali," jelas Adinda.
"Sekarang apakah kamu suka dengan pria yang tidak memiliki track record terhadap wanita?" tanya Budiman sambil menatap mata Adinda.
"Memangnya Kak Tio?" tanya Adinda yang bingung dengan pernyataan Budiman.
"Sedari dulu kami berenam kalau sedang kumpul sering membicarakan cewek-cewek famous di sekolah kecuali Tio. Dia malah diam saja dan memilih untuk tidur. Seumur hidupnya Tio enggak pernah merasakan kalau dirinya pacaran dengan cewek manapun. Jika Andara mengatakan seperti itu, jadi wajarlah. Wanita mana yang akan betah dengan pria seperti itu? Coba kamu bayangkan jika aku seperti Tio? Kamu pasti kesal," jelas Budiman yang membuat Adinda menganggukan kepalanya.
"Iya juga sih kak. Aku juga merasakan hal yang sama. Tapi ada untungnya buat aku," celetuk Adinda.
"Untungnya bagaimana?" tanya Budiman.
"Orangnya enggak macam-macam nantinya kalau sudah menikah," jawab Adinda dengan jujur.
"Benar juga sih," ucap Budiman yang menganggukan kepalanya. "Lalu aku bagaimana?"