Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 177



"Ya makan dong neng. Kalau nggak makan ya laper. Sekarang kamu putuskan. Mau keluar apa tetap di sini? Kalau aku mah nurut kamu saja enaknya gimana?" jawab Budiman yang memberikan opsi.


"Ayo deh kita keluar. Aku ingin bangun terlebih dahulu," ucap Adinda Yang bangun dari tidurnya itu.


"Kamu nggak capek ya?" Budiman menanyakan keadaan Adinda.


"Nggak ada capeknya yang. Lagian juga aku hanya berbohong sama kamu. Enak juga ya bermain di toilet," jawab Adinda.


"Yay... Sudah mendapatkan service yang enak akhirnya tidak menjadi marah lagi. Terima kasih ya. Aku juga mendapatkan service yang enak dan nyaman," ucap Budiman.


Adinda akhirnya bersiap-siap untuk mengajak Budiman keluar. Begitu juga dengan Budiman. Budiman juga tidak lupa menyiapkan jaket yang akan dipakai oleh Adinda. Ternyata mereka sangat kompak sekali saling mempersiapkan diri untuk berjalan-jalan.


Jujur saja Adinda sangat bahagia melihat perubahan Budiman drastis sekali. Budiman justru lebih mudah memahami seorang wanita. Padahal dulu dirinya suka memaki Adinda dengan kata-kata kotor. Itulah buah kesabaran yang dimiliki oleh Adinda.


Lalu bagaimana dengan Kanaya sekarang? Hidup Kanaya sekarang terombang-ambing. Bayangkan saja, setelah melakukan penipuan besar-besaran terhadap Budiman. Hidup Kanaya sudah tidak ada gunanya lagi. Sekarang keluarganya sedang mendapatkan masalah dengan Gilang. Kanaya sudah mendengar, jika keluarganya itu berada di tangan Gilang.


Yang lebih parahnya lagi, Kanaya sendiri sudah mendengar apa yang dilakukan oleh adik tercintanya itu. Pertama kali dirinya mendengar kalau sang adik ingin mengambil tender besar tersebut. Kanaya berdoa dan memberikan semangat untuk sang adik. Namun percobaan pertama tidak berhasil. Dirinya sangat gelisah ketika berada di Inggris. Ingin kembali ke tanah air juga percuma. Soalnya Kanaya sudah menjadi perburuan oleh pihak kepolisian tentang kasus penipuan yang telah dilakukannya beberapa waktu yang lalu.


Percobaan kedua juga gagal. Sang adik tercintanya itu sekarang dirawat di rumah sakit. Bahkan beberapa bagian tulang punggungnya retak karena dilemparkan oleh Budiman. Ia sekarang pasrah dengan keadaan keluarganya itu. Ia juga menunggu keputusan Dari Gilang agar tidak menghukum keluarga besarnya itu.


Itulah awal kehancuran keluarga Kanaya. Sebenarnya mereka tidak perlu berhutang kepada Gilang atau siapapun. Namun mereka memilih berhutang. Mereka sengaja melakukannya demi menutupi hidup di bawah garis kemiskinan. Padahal Adinda sendiri sudah menasehati agar tidak terlalu silau dengan yang namanya harta. Sekarang mereka sangat dendam kepada Adinda. Terutama Netty sendiri. Dalam hatinya Netty akan membalaskan dendam terhadap Adinda.


Adinda dan Budiman akhirnya keluar dari hotel. Mereka menikmati malam yang indah di Singapura. Namun sayangnya Adinda terhenti dan memilih untuk melihat bintang-bintang sedang bersinar dengan terang. Budiman yang mengetahuinya, tidak perlu meminta izin dan langsung mengecup mulut Adinda.


Cup.


Sontak saja Adinda terkejut dan melihat wajah Budiman. Ia memukul dada Budiman dengan pelan sambil berkata, "Kamu itu kebangetan banget sih jadi orang. Dilihat banyak orang juga tidak baik."


"Biarkan saja mereka melihat kita. Kita kan sudah resmi menjadi suami istri bukan pacaran lagi. Mau cium di mana pun juga. Nggak ada yang protes sama sekali. Lagian di sini juga negara bebas," jelas Budiman sambil menatap wajah Adinda.


"Aku malu tahu. Banyak orang lewat yang melihat kita. Aku nggak ingin dicap sebagai orang memiliki perilaku yang buruk," ucap Adinda.


"Sebenarnya aku malu dilihat banyak orang. Memang sih kita sudah menjadi pasangan suami istri. Aku ingin menikmati ciuman itu tanpa banyak orang melihat. Kan kamu tahu sendiri kalau aku orangnya sangat pemalu sekali," jawab Adinda yang wajahnya mulai memerah karena ulah Budiman.


Budiman tersenyum dan menatap wajah Adinda. Memang benar apa yang dikatakan oleh Adinda. Budiman sudah mengetahui kalau Adinda memang memiliki sifat malu. Tapi mau bagaimana lagi. Budiman sendiri sengaja melakukannya karena mengklaim kalau Adinda adalah miliknya.


Posisi Budiman dan Adinda sekarang berada di Marina Bay Sands. Yang di mana, Marina Bay Sands adalah icon dari Singapura itu sendiri. Tempat itu juga merupakan kompleks perbelanjaan, hotel dan juga Kasino yang sangat megah sekali. Beruntung mereka menginap di sebuah hotel mewah berada di sana.


Selesai mereka saling memandang, Budiman mengajak Adinda pergi ke sebuah restoran. Sebelum mengajak Adinda berjalan-jalan, Budiman mengajaknya terlebih dahulu untuk makan.


Di tempat lain, seorang pria bertubuh kekar sedang mengamati indahnya bintang di langit. Tak lama ada seorang wanita sedang mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Wanita itu berbisik sambil berkata, "Aku sudah menemukan wanita yang selama ini kamu cari."


"Kenapa kamu mengingatkan aku pada dia? Bukankah seharusnya aku adalah suami kamu. Lama-lama aku nggak mengerti deh sama kamu," tanya pria itu.


"Aku nggak marah sama kamu kok. Wanita yang kamu cari itu adalah temanku sendiri. Dia adalah teman kuliahku yang saat itu berada di Harvard university. Kami sering berbincang satu sama lain dan memecahkan banyak masalah. Dia wanita yang sangat cerdas sekali. Aku sangat menyukainya. Sampai saat ini aku selalu melindungi dari Gilang," jawab wanita itu.


"Yuki," panggil pria itu sambil membalikkan badannya dan menatap wajah Yuki.


"Ada apa sayangku? Aku beneran nggak marah sama kamu. Kalau kamu ingin menemuinya silakan," tanya Yuki nama wanita itu.


"Masalahnya nggak semudah itu aku bertemu dengannya. Aku sudah mendengarnya juga menikah dengan sahabatku sendiri yaitu Budiman. Untung saja aku tidak hadir di sana. Kalau saja hadir aku akan membawanya pergi ke Amerika dan tidak akan membiarkan bocah tengil itu menikahinya," kesal pria itu.


"Bilang saja kamu cemburu. Kenapa Kamu membohongi kata hatimu sendiri? Kamu nggak pernah jujur pada hatimu. Aku bisa melihat dengan jelas kalau di matamu itu ada sebuah cinta," ucap Yuki.


"Sebelum aku mencintainya. Ternyata Budiman sudah mencintainya terlebih dahulu. Aku sudah merelakannya untuk Budiman sahabatku sendiri. Sudah aku tebak sedari dulu. Kalau mereka berjodoh dan tidak akan bisa terpisahkan lagi. Masa iya aku harus memisahkan mereka berdua dan mengambil agenda dari sahabatku sendiri? Yang benar saja kamu. Kamu mau kalau aku memiliki dua istri sekaligus?" tanya pria itu.


"Ide yang sangat bagus sekali. Aku nggak apa-apa kalau kamu menjadikan aku istri tua. Lalu Adinda sendiri adalah istri mudamu. Aku malah bahagia jika kamu menikah dengan Adinda. Tapi nggak semudah itu. Ya sudah kalau begitu, sekarang izinkanlah aku untuk menggenggammu dan merawatmu hingga tua nanti," pinta Yuki.


"Apakah kamu serius dengan perkataanmu itu?" tanya pria itu sembari tersenyum manis.