
“Memang aku sudah gila. Lalu apakah kamu mau ikut bersamaku?” tanya Rizal yang sebenarnya masih mencintai Adinda.
“Ini tidak bisa dibiarkan. Kamu harus melupakan aku. Kamu harus mencintai Yuki. Jangan pernah
mencintaiku lagi. Karena aku sudah menjadi milik Budiman seorang,” jawab
Adinda.
“Katakan kepadaku!
Apakah kamu mencintai Budiman? Atau kamu hanya berpura-pura saja demi melupakan
aku,” tapnya Rizal yang memegang tangan Adinda.
“Aku serius mencintai
Budiman. Aku memang sangat berharap Budiman kembali kepada awalannya. Dia pria yang sangat lembut terhadapku ketika bertemu dengan aku,” jawab Adinda yang jujur sambil mengutarakan isi hatinya yang dalam. “Kalau aku boleh memilih antara kamu atau Budiman. Aku akan memilih Budiman. Karena Budiman sendiri adalah suamiku sendiri. Kami menikah secara sah di mata negara dan agama. Tolong kamu
jangan pernah mengingat masa lalu kita. Aku sudah melupakan akan hal itu. Aku ingin hidup bahagia bersama Budiman. Aku tidak ingin melihat Budiman yang hancur lagi.”
Budiman terkesiap mendengar apa yang dikatakan oleh Adinda. Di dalam hati yang terdalam, Budiman mengakui kalau Adinda begitu juga mencintainya. Ia tidak akan menyia-nyiakan Adinda di dalam hidupnya.
Budiman segera menarik
tangan Adinda lalu mengajaknya pergi meninggalkan butik. Sebelum meninggalkan butik, Budiman menatap wajah Alexandro.
“Kirim tagihan baju Adinda dan Andara ke emailku!” titah Budiman yang berlalu meninggalkan mereka
semuanya.
Hari ini memang tragis buat Adinda dan Yuki. Selama beberapa tahun belakangan ini, Adinda tidak pernah
mendengar kabar dari Rizal. Ia hanya bisa berharap kalau dendamnya terhadap Kanaya terbalaskan. Ia hidup damai dan larut dalam pekerjaan. Ia juga tidak pernah mengeluh akan jam padatnya. Ia selalu membakar semangat dirinya dan juga orang
sekitarnya.
Sementara Yuki, Yuki
ingin menangis dan meluapkan emosinya. Ia tidak menyangka kalau Rizal
benar-benar mengutarakan isi hatinya. Sebenarnya ia sudah jatuh cinta pada awal
bertemu. Namun Yuki sendiri telah membohongi perasaannya.
“Oke. Aku sudah
mengetahui semuanya. Aku memang wanita bodoh yang selalu mengharapkan ketulusan
cinta dari kamu. Tapi apa? Kamu tidak pernah memberikan cinta itu secuil saja.
Aku juga tidak marah sama Adinda. Karena aku mengetahui kalau Adinda sangat
mencintai Budiman. Kamu seharusnya tahu kalau cinta mereka terpancarakan indah.
lalu yang jelas-jelas Adinda sudah melupakannya,” jelas Yuki yang sudah tidak
kuat menahan amarahnya.
Tio dan Andara sedari
tadi hanya diam mematung. Mereka tahu kalau konflik rumah tangga Yuki bersama
Rizal tidak baik-baik saja. Bahkan Tio sendiri sudah mencium aroma tidak sedap
dengan Rizal.
“Nda, ayo kita pergi!”
ajak Tio yang menggandeng tangan Andara.
“Mau kemana kalian?”
tanya Alexandro yang melihat Tio dan Andara pergi.
“Aku mau pergi dulu.
Tagihan baju milik Andara kirimkan saja ke emailku. Tunggu aku mendapatkan
bonus dari Budiman!” titah Tio yang segera menyusul Adinda.
Alexandra hanya bisa
menganggukan kepalanya. Ia menuruti keinginan Tio dan Budiman. Ia tidak
menyangka, kalau reuni pertemuan kali ini runyam sekali. Seharusnya mereka
mengobrol satu sama lain. Akan tetapi Rizal telah mengacaukan semuanya. Untung
saja, hari ini butik sangat sepi sekali. Ia membiarkan mereka seperti itu dan
apa adanya.
“Tunggu kami!” seru
Andara.
Budiman berhenti lalu
menoleh ke belakang. Ia tersenyum sambil menggenggam tangannya Adinda.
“Ada apa?” seru Adinda
sambil menoleh ke belakang.