Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 205



 “Memang aku sudah gila. Lalu apakah kamu mau ikut bersamaku?” tanya Rizal yang sebenarnya masih mencintai Adinda.


“Ini tidak bisa dibiarkan. Kamu harus melupakan aku. Kamu harus mencintai Yuki. Jangan pernah


mencintaiku lagi. Karena aku sudah menjadi milik Budiman seorang,” jawab


Adinda.


“Katakan kepadaku!


Apakah kamu mencintai Budiman? Atau kamu hanya berpura-pura saja demi melupakan


aku,” tapnya Rizal yang memegang tangan Adinda.


“Aku serius mencintai


Budiman. Aku memang sangat berharap Budiman kembali kepada awalannya. Dia pria yang sangat lembut terhadapku ketika bertemu dengan aku,” jawab Adinda yang jujur sambil mengutarakan isi hatinya yang dalam. “Kalau aku boleh memilih antara kamu atau Budiman. Aku akan memilih Budiman. Karena Budiman sendiri adalah suamiku sendiri. Kami menikah secara sah di mata negara dan agama. Tolong kamu


jangan pernah mengingat masa lalu kita. Aku sudah melupakan akan hal itu. Aku ingin hidup bahagia bersama Budiman. Aku tidak ingin melihat Budiman yang hancur lagi.”


Budiman terkesiap mendengar apa yang dikatakan oleh Adinda. Di dalam hati yang terdalam, Budiman mengakui kalau Adinda begitu juga mencintainya. Ia tidak akan menyia-nyiakan Adinda di dalam hidupnya.


Budiman segera menarik


tangan Adinda lalu mengajaknya pergi meninggalkan butik. Sebelum meninggalkan butik, Budiman menatap wajah Alexandro.


“Kirim tagihan baju Adinda dan Andara ke emailku!” titah Budiman yang berlalu meninggalkan mereka


semuanya.


Hari ini memang tragis buat Adinda dan Yuki. Selama beberapa tahun belakangan ini, Adinda tidak pernah


mendengar kabar dari Rizal. Ia hanya bisa berharap kalau dendamnya terhadap Kanaya terbalaskan. Ia hidup damai dan larut dalam pekerjaan. Ia juga tidak pernah mengeluh akan jam padatnya. Ia selalu membakar semangat dirinya dan juga orang


sekitarnya.


Sementara Yuki, Yuki


ingin menangis dan meluapkan emosinya. Ia tidak menyangka kalau Rizal


benar-benar mengutarakan isi hatinya. Sebenarnya ia sudah jatuh cinta pada awal


bertemu. Namun Yuki sendiri telah membohongi perasaannya.


“Oke. Aku sudah


mengetahui semuanya. Aku memang wanita bodoh yang selalu mengharapkan ketulusan


cinta dari kamu. Tapi apa? Kamu tidak pernah memberikan cinta itu secuil saja.


Aku juga tidak marah sama Adinda. Karena aku mengetahui kalau Adinda sangat


mencintai Budiman. Kamu seharusnya tahu kalau cinta mereka terpancarakan indah.


lalu yang jelas-jelas Adinda sudah melupakannya,” jelas Yuki yang sudah tidak


kuat menahan amarahnya.


Tio dan Andara sedari


tadi hanya diam mematung. Mereka tahu kalau konflik rumah tangga Yuki bersama


Rizal tidak baik-baik saja. Bahkan Tio sendiri sudah mencium aroma tidak sedap


dengan Rizal.


“Nda, ayo kita pergi!”


ajak Tio yang menggandeng tangan Andara.


“Mau kemana kalian?”


tanya Alexandro yang melihat Tio dan Andara pergi.


“Aku mau pergi dulu.


Tagihan baju milik Andara kirimkan saja ke emailku. Tunggu aku mendapatkan


bonus dari Budiman!” titah Tio yang segera menyusul Adinda.


Alexandra hanya bisa


menganggukan kepalanya. Ia menuruti keinginan Tio dan Budiman. Ia tidak


menyangka, kalau reuni pertemuan kali ini runyam sekali. Seharusnya mereka


mengobrol satu sama lain. Akan tetapi Rizal telah mengacaukan semuanya. Untung


saja, hari ini butik sangat sepi sekali. Ia membiarkan mereka seperti itu dan


apa adanya.


“Tunggu kami!” seru


Andara.


Budiman berhenti lalu


menoleh ke belakang. Ia tersenyum sambil menggenggam tangannya Adinda.


“Ada apa?” seru Adinda


sambil menoleh ke belakang.