
Herman terpaksa menceritakan kisahnya beberapa waktu yang lalu. Ketika berbicara Husein pun datang dengan membawa beberapa macam minuman. Ali dan Husein mendengarkan apa yang telah terjadi pada adiknya itu. Sungguh mereka sangat marah sekali. Jujur mereka mengenal kedua orang tua Netty. Menurut mereka keluarga Netty memiliki sifat santun dan ramah setiap orang. Namun semuanya itu salah. Mereka ternyata sangat ambisi sekali untuk mendapatkan yang tidak pernah didapatkannya semua itu. Ali dan Husein sebagai kakak tidak merestui jika Herman menikah dengan wanita itu. Tak lupa juga Herman memberikan beberapa bukti kalau keluarga Netty berhubungan sangat baik kepada Gilang. Untung saja ketiga kakaknya itu bisa meredam amarahnya.
Beberapa saat kemudian datang Adinda bersama Budiman. Mereka berdua masuk ke dalam ruang tamu. Mereka disambut dengan hangat oleh penghuni rumah itu.
“Keponakanku yang cantik ini sudah datang,” celetuk Ali.
“Ah Paman bisa saja merayunya. Bisa nggak aku menjadi cowok tampan di antara kalian?” tanya Adinda sambil tersenyum simpul.
Mereka tertawa karena pertanyaan Adinda. Mereka tidak menyangka kalau Adinda ingin menjadi seorang pria. Namun seorang pria bertubuh gempal langsung menyenggol Adinda. Ketika Adinda jatuh, pria itu menangkap Adinda sambil berkata, “Tanyakan saja pada ayahmu. Kenapa dirimu lahir sebagai seorang perempuan?”
“Kak Andra?” pekik Adinda.
“Iya ini aku,” jawab Andra sambil tersenyum manis melihat Adinda. “Ke mana aja sih kalian ini? Sudah setahun kalian tidak pernah datang ke dalam padepokanku.”
“Aku sibuk Kak. Banyak sekali pekerjaan yang harus aku tangani. Dengan terpaksa aku nggak datang ke tempat kakak terlebih dahulu. Dari pagi sampai malam itulah kegiatanku dan menetap di kantor,” jawab Adinda.
Seketika Andra melihat Budiman. Pria itu memicingkan matanya sambil bertanya, “Bukankah dia pernah melawanku di sebuah klub malam?”
“Apa maksud Kak Andra?” tanya Adinda.
“Aku tidak sengaja menyenggol seorang wanita yang merasa dirinya sangat cantik sekali. Hanya karena kesalahan itu kami berantem dan aku berhasil mengalahkannya. Ternyata dia memiliki ilmu bela diri sangat buruk ketimbang kamu,” jelas Andra.
Budiman yang ingat akan kejadian itu langsung menatap wajah Andra. Jujur selama ini dirinya juga sangat bersalah sekali kepada orang-orang di sekitarnya. Dengan lapang dada Budiman mendekati Andra lalu meminta maaf. Tanpa basa-basi Andre langsung menyilangkan kakinya dan membanting Budiman ke tanah.
“Sekarang kamu sadar ya atas kesalahanmu itu. Kamu memang bodoh Budiman. Bisa-bisanya kamu mempertahankan wanita ular itu untuk dijadikan istri seumur hidupmu,” kata Andra yang membuat Budiman menyesali perbuatannya itu.
“Semuanya itu adalah salahku. Aku mau minta maaf atas kesalahanku kepadamu maupun orang-orang yang telah Aku sakiti karena wanita ular itu. Biarkanlah aku bangun dan menebus semua kesalahanku,” pinta Budiman yang meminta Andra melepaskannya.
Andra pun melepaskan Budiman. Ia memang tidak sengaja melakukannya. Akan tetapi ia hanya memberikan pelajaran buat Budiman.
Lalu bagaimana dengan reaksi Adinda? Adinda memilih untuk diam dan tidak mencampuri urusan mereka. Karena Adinda sendiri angkat tangan untuk masalah kedua pria itu. Jika sampai Adinda membelanya, maka Andra orang pertama yang akan memarahi Adinda habis-habisan. Sebab Andra tidak mau sepupunya itu bucin kepada seorang pria yang sudah melakukan kesalahan besar dalam hidupnya. Sungguh beruntung Adinda saat ini. Hidupnya dikelilingi oleh banyak orang-orang baik. Bahkan Adinda sendiri sangat terima kasih sekali ketika hidupnya dilindungi sama mereka.
“Budiman adalah suaminya Adinda. Jika kamu membantingnya sekali lagi. Maka ayah akan marah sama kamu,” tegas Husein.
Tentu saja Andra sudah tidak marah lagi. Andre memiliki sifat yang sangat unik. Bagaimana tidak? Andra memiliki sifat yang di mana Kalau marah hanya sebentar saja.
“Ayolah kita duduk bersama. Jangan berdiri seperti ini. Apakah kalian nggak capek jika berdiri seperti ini?” tanya Andra sambil menyuruh mereka duduk.
“Kamu itu gimana sih Ndra? Jelas-jelas kursi di depan ini telah kamu lempar ke halaman belakang. Sekarang kamu menyuruh mereka untuk duduk. Mereka kan duduk di mana?” protes Husein kepada putra semata wayangnya itu.
Dengan konyolnya Andra langsung menunduk karena malu. Namun tidak berlangsung lama, Andra menyuruhnya berkumpul di ruangan keluarga. Adinda bersama lainnya juga mengikuti Andra. Jujur Adinda tidak pernah ke sini selama setahun belakangan ini. Karena mengingat pekerjaan di kantor sangat banyak. Akhirnya Adinda lupa letak beberapa ruangan yang berada di rumah ini.
“Sepertinya semua sudah berubah ya?” tanya Adinda sambil melihat isi rumah itu.
“Aku memang sengaja merubahnya. Aku ingin menunjukkan bakat arsitek. Dalam setahun belakangan ini telah aku renovasi sedikit demi sedikit. Untung saja Ayah tidak marah sama sekali denganku. Malahan Ayah menyuruhku untuk belajar lebih dalam lagi. Siapa tahu nanti aku bisa menjadi seorang arsitek yang cukup berbakat di negeri ini,” jawab Andra yang berharap bisa menjadi arsitek.
“Amin,” ucap mereka dengan serempak.
Adinda akhirnya mendoakan Andra untuk menjadi orang sukses. Meskipun usianya lebih tua di atas dirinya. Namun Adinda sendiri menganggap Andra sebagai kakaknya. Sepanjang perjalanan Budiman hanya diam dan tidak berbicara apapun. Karena Budiman sangat canggung pada keadaan ini.
“Kenapa kamu diam saja adik iparku? Seharusnya kamu berbicara dengan sangat baik terhadapku,” tanya Andra.
“Orangnya memang begini Kak. Kalau ke dalam keadaan canggung Budiman jarang banget berbicara. Tapi jujur orangnya sangat baik sekali sebelum bertemu dengan Kanaya,” sahut Faris yang menjelaskan sifat Budiman.
“Aku selalu mendengar kabar tentang wanita ular itu. Entah kenapa aku sangat marah sekali dengan dia. Gara-gara dia aku memiliki dendam yang tersimpan dengan rapi,” ucap Andra sambil membuka pintu dan mengajak mereka masuk.
“Kenapa Kakak dendam sama wanita ular itu? Apakah wanita ular itu telah melakukan kesalahan terhadap kakak?” tanya Adinda yang tidak tahu permasalahannya.
“Dia pernah menabrak calon istriku hingga meninggal. Lalu dia kabur entah ke mana. Ketemu-ketemu di klub malam itu bersama Budiman. Jujur aku sangat terkejut sekali ketika Budiman menyatakan kalau Kanaya adalah kekasihnya. Untung saja aku tidak menghajarnya habis-habisan. Karena aku sendiri mengingat kalau Budiman adalah teman kalian,” jelas Andra yang masuk ke dalam ruangan itu. “Duduknya lesehan saja ya. Aku belum mengisi ruangan ini dengan sofa baru. Aku masih sibuk dalam menata padepokanku.”
“Semuanya nggak jadi masalah denganku,” ucap Budiman yang sudah terbiasa duduk di bawah.
“Kapan kamu sadar dari Kanaya? Atau jangan-jangan hanya karena Adinda kamu menjadi sadar,” tanya Andra.