
"Itu terserah bapak saja. Aku hanya menuruti Apa kata Bapak. Bukankah Seorang Istri harus menurut kepada sang suami?" Jawab Adinda yang membuat Kamila terharu karena sang menantu sangat baik sekali.
"Nah kamu harus menuruti keinginanku untuk memiliki anak banyak," Ucap Budiman Sambil tertawa dan menatap wajah Kamila.
"Nurut si nurut tapi nggak kayak gitu kali Budiman," kesal Kamila kepada Budiman.
''Ini masih dalam rencana awal Ma. Syukur-syukur kalau rencana itu dikabulkan sama yang maha kuasa. Tapi kalau nggak dikasih anak banyak dua saja juga cukup buat aku. Mama tahu sendiri pernah bilang ke aku pengen punya cucu banyak. Kenapa sekarang malah ditarik omongan itu?" tanya Budiman.
"Terserah apa katamu gih. Mama pusing kalau ngomongin ini sama kamu nggak ada habisnya," kesal Kamila yang langsung pergi meninggalkan dapur dan masuk ke dalam kamar.
Budiman terkekeh melihat Kamila sudah pergi dari dapur.Lalu Budiman menatap wajah Adinda sambil bertanya, "Kamu nggak marah sama aku?"
"Ada alasan apa aku marah sama kamu?" tanya Adinda yang memutar bola matanya dengan malas.
"Marah kek, protes kek, atau kamu memaki-maki aku soal anak-anak," jelas Budiman.
"Kamu memang sangat aneh sekali Pak Budiman. Memangnya kamu sudah mandi sore apa? Cepat pergi mandi sana. Aku mau bantu Mama untuk beres-beres terlebih dahulu!" titah Adinda sambil mengeluarkan senjata pamungkasnya.
"Iya deh kalau begitu. Setelah mandi kamu masuk kamar ya. Ada yang harus aku bicarakan tentang soal kerjasama itu," pinta Budiman yang menyuruh Adinda masuk ke dalam kamar.
"Bukankah perjanjian itu udah selesai?" tanya Adinda yang mulai menebak kenakalan Budiman. "Atau kamu jangan-jangan ingin menyekap ku di dalam kamar selama semalam ya? Agar aku tidak bisa bertemu dengan mama."
"Kamu kok tahu sih kalau aku sedang menjebakmu dan mengurungmu di dalam kamar selama semalaman?" tanya Budiman sambil tersenyum licik.
"Ya tahulah. Kamu kan orangnya licik. Aku bisa menebak semuanya dari kepala kamu itu," kesal Adinda terhadap Budiman lalu mendorongnya keluar dari dapur.
Budiman hanya terkekeh lalu pergi meninggalkan Adinda. Sementara Adinda langsung membereskan sebagian pekerjaannya yang sudah selesai itu. Beberapa saat kemudian para pelayan masuk dan meminta Adinda untuk tidak mengerjakannya. Agar mereka tidak bosan di rumah.
"Mbak nggak usah diberesin. Biar aku saja yang membereskannya," seru Lia.
"Tidak usah. Hampir selesai kok. Kalian tenang saja. Ibu tidak akan marah sama sekali," jawab Adinda yang membiarkan mereka duduk manis.
Hanya dalam hitungan menit Adinda telah menyelesaikan pekerjaannya. Adinda tersenyum sambil menyerahkan kantong plastik itu ke arah para pelayan, "Ini kalian simpan saja terlebih dahulu. Siapa tahu nanti berguna," ucap Adinda dengan nada lembutnya.
"Terima kasih ya Mbak," balas Wati sambil menerima kantong kresek itu.
"Ya sudah kalau begitu. Aku pergi ke kamar dulu ya," Pamit Adinda yang meninggalkan mereka di dapur.
Melihat kepergian Adinda mereka tersenyum manis. Mereka sangat kagum atas kebaikan Adinda. Mereka juga mendoakan atas pernikahan Adinda bersama Budiman agar langgeng selamanya. Lalu mereka bubar dan mengerjakan tugas masing-masing di sore hari.
Adinda segera masuk ke dalam kamar, lalu melihat Budiman yang selesai mandi. Adinda pun tersenyum manis dan mendekati Budiman.Budiman yang mendapatkan senyuman Adinda manis itu langsung memeluknya dengan erat. Hingga baju Adinda basah semuanya.
"Lepaskan aku sekarang juga. Bajuku basah semua nih. Aku ke sini tidak membawa baju," kesal Adinda yang mulutnya langsung merengut.
Cup.
"Rasanya aku ingin melakukannya lagi deh," bisik Budiman ke telinga Adinda hingga meremang.
"Mau apa?" tanya Adinda.
"Kita praktek lagi yuk agar semuanya bisa terjadi," bisik Budiman.
"Maksud kamu apaan? Kamu ini lama-lama jadi aneh deh. Memangnya mau apaan?" tanya Adinda.
"Mari kita bercinta," lirih Budiman.
"Kebiasaan banget sih kamu ini. Masih sore jangan yang aneh-aneh seperti ini. Sebentar lagi magrib. Sholat dulu terus ngaji. Habis ngaji sholat isya dan tidur!" perintah Adinda agar Budiman tidak berbuat macam-macam pada sore ini.
Budiman akhirnya melepaskan Adinda sambil tersenyum. Ia berteriak kegirangan karena ada yang mengingatkan tentang waktu sholat. Selama ini dirinya tidak ada yang mengingatkannya sama sekali kecuali Tio. Ketika Tio mengingatkan Budiman malah marah. Entah kenapa sekarang Budiman menjadi lebih damai bersama Adinda.
"Kamu benar. Selama ini aku tidak pernah sholat dan mengerjakan perintah sang pencipta. Terima kasih ya neng sudah ngingetin aku. Nanti malam saja ya lanjutannya pagi tadi," ucap Budiman dengan tulus.
"Maksud Abang apaan? Kok otak abang sudah mulai ngeres lagi," tanya Adinda yang sengaja mengalihkan perhatian Budiman ke hal yang lain.
"Biasalah. Kamu tahu kan pria itu kayak apa?" tanya Budiman sambil tersenyum manis.
"Terserah kamu saja. Aku hanya menurut kamu. Sekarang aku ingin membersihkan tubuhku yang lengket ini," kesal Adinda yang masuk ke dalam toilet dan membuka bajunya.
Di saat mengguyur tubuhnya,Adinda teringat akan bajunya itu. Ia bingung karena bajunya tertinggal di rumah semuanya. Mau tidak mau Adinda harus meminjam baju kepada Budiman. Untung saja di toilet ada handuk. Jadi Adinda bisa keluar memakai handuk untuk mengambil pakaian Budiman. Adinda berharap Budiman tidak memiliki pikiran kotor untuk sore ini.
Saat keluar dari toilet, Adinda melihat Budiman sedang membaca beberapa dokumen. Adinda mendekati Budiman dan bertanya, "Apakah kamu memiliki baju dengan ukuran kecil?"
Budiman mengangkat wajahnya lalu melihat Adinda dengan rambut yang basah. Ia baru sadar kalau sang istri selesai mandi. Dengan cepat Budiman berdiri dan menarik tangan Adinda. Kemudian Budiman membuka lemarinya dan mencari baju berukuran kecil.
"Kamu nggak melirikku ya?" tanya Adinda yang sengaja memancing Budiman.
"Tidak. Terima kasih banyak. Nanti kalau ada apa-apa jangan salahkan aku ya. Jika aku melihatmu tidak memakai baju seperti itu," jawab Budiman yang sebenarnya menahan hasratnya untuk tidak melihat Adinda.
Budiman segera memilih kaos oblong kecil dan celana pendek. Budiman berharap kalau Adinda bisa memakai baju seperti itu. Ketika memberikan baju, Budiman tidak melihat Adinda.
"Kenapa kamu tidak melihatku? Apakah pantas jika memberikan barang tanpa melihat orangnya?" tanya Adinda sambil meledek Budiman.
"Sabar Bud sabar. Memang Adinda sekarang lebih menggoda ketimbang Adinda yang dulu. Kamu harus sabar menerima cobaan seperti ini. Harus kuat hingga nanti malam setelah menyelesaikan Sholat Isya," ucap Budiman dalam hati sambil menghibur dirinya.
"Kamu nggak tahu rasanya mencoba menahan hasrat seperti ini? Karena kamu adalah seorang perempuan yang sangat polos sekali. Dengan mudahnya kamu menggoda aku seperti iblis. Katanya kamu mau menungguku setelah sholat Isya selesai. Kamu sangat kejam sekali. Cepatlah Pakai baju sana sebelum hasratku meledak seperti kembang api," ucap Budiman dengan nada sedihnya.
"Memangnya rasanya kayak apa?" tanya Adinda dengan polos.