Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 203



"Kenapa sih Budiman selalu saja mendekati Adinda?" kesal Faris.


"Dia kan suaminya Adinda," sahut Herman yang memegang kenop pintu sambil menoleh ke arah Faris.


"Ya nggak gitu kali! Aku kan abangnya. Bukan siapa-siapanya. Lalu kenapa Adinda selalu mendekati Budiman?" tanya Faris yang masih kesal terhadap Budiman.


"Cemburu buta pada suami adiknya sendiri. Ini sangat aneh sekali buat aku. Terserahlah apa katamu. Aku hanya bisa tertawa karena ulahmu itu yang cemburu pada Budiman," jawab Herman sambil menahan tawanya.


"Bukannya menolong malah membiarkan aku menderita seperti ini," sergah Faris yang menghempaskan bokongnya di tepi ranjang.


Begitulah dua orang jika sedang mengeluh tentang Adinda. Mereka memang sangat menyayangi Adinda seperti nyawanya sendiri. Di sisi lain Adinda sudah menikah. Akan tetapi Faris tetap saja sangat marah kepada Budiman. Karena Budiman telah mengambil haknya sebagai kakak kandungnya.


Malik dan dia baru saja sampai ke kamar hotel. Mereka sedang menikmati indahnya pemandangan Kota Singapura dari jendela. Mereka tidak menyangka akan kembali ke kota ini. Sebab kota ini memiliki banyak kenangan yang tidak bisa diukir pada zaman pacaran dulu.


"Apakah kamu masih mengingat di saat kamu sedang menolakku di Kota Singapura ini?" tanya Malik sambil mengingatkan Tia.


"Iya aku tahu itu. Lagian juga kamu masih Playboy cap kakap. Bagaimana tidak? Kamu sudah membuat hatiku patah berkali-kali lipat. Setelah jalan sama perempuan lain kamu menembakku dan ingin jadi kekasih. Kalau ingat itu, aku pasti ingin marah sama kamu," jawab Tia sambil menatap wajah Malik.


"Memang aku salah saat itu. Tapi aku terima kasih sama kamu. Gara-gara kamu aku sadar dari penyakit Playboy ini. Aku tidak akan pernah menghianati cinta suci ini," ucap Malik dengan serius.


"Kalau sampai Kamu mengkhianati aku. Bukan aku saja yang marah. Tuh putrimu akan menghabisi para kekasihmu nanti," ujar Tia sambil menatapnya dengan tajam.


"Yang gak lah. Orang sudah tua kok malah selingkuh. Bukankah kita ditakdirkan untuk menikmati hidup bersama? Bukankah kita sudah ditakdirkan untuk selalu bersama? Kenapa juga aku selingkuh dari kamu yang cantiknya minta ampun itu?" tanya Malik sambil tersenyum manis.


"Rayuanmu gombal. Bagaimana bisa kamu merayuku seperti itu? Kamu itu ada-ada saja sih," ledek Tia yang meninggalkan Malik dan membuka koper.


"Putri kita sudah menikah. Tinggal putra kita saja yang belum menikah. Aku nggak tahu kenapa Faris belum menikah sampai saat ini. Padahal Faris sendiri memiliki wajah yang sangat tampan sekali," tanya Malik.


"Masa kamu nggak tahu sifat Faris bagaimana?" tanya Tia balik sambil menatap wajah Malik.


"Dia orangnya pendiam dan tidak suka tebar pesona. Dia jarang sekali berbicara kepada lawan jenisnya," jawab Malik yang tidak mengetahui sifat asli Sang putra.


"Kamu salah besar. Sifat playboy kamu itu menurun ke Faris. Aku sampai bingung dengan putramu itu. Sedari dulu aku memang menyuruhnya untuk menikah. Tapi apa? Katanya nanti. Masih banyak yang harus dikerjakan," ucap Tia dengan penuh keseriusan.


Malik semakin bingung dengan putranya itu. Entah kenapa dirinya baru mengetahui jika Sang putra memiliki jiwa Playboy. Ingin marah percuma. Ingin menangis juga percuma. Semuanya percuma karena sifat playboy nya itu jatuh ke Faris semuanya.


"Masa kamu nggak tahu sih? Peribahasa tentang buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Sifatmu jatuh ke Faris. Seluruh sifatku jatuh ke Adinda. Makanya sekarang Adinda menjadi pawang Budiman. Yang akhirnya Budiman sendiri takluk dengan kecantikannya Adinda," jelas Tia sambil tersenyum manis.


"Kok aku nggak menemukan Adinda tadi ya?" tanya Malik yang melihat pemandangan Kota Singapura.


"Lagi di butik bersama Andara dan Budiman. Mereka sedang mencari gaun," jawab Tia.


"Aku nggak habis pikir kenapa dengan Adinda? Tiba-tiba saja Adinda sering menjual gaunnya sendiri ketika habis dipakai. Jujur selama ini aku tidak mengajarkan untuk menjual barang-barangnya," kata Malik yang kecewa terhadap Adinda.


"Kamu harus tahu sesuatu tentang Adinda putrimu sendiri. Dia bukan seorang pengkoleksi barang-barang mewah. Setiap baju ataupun tas yang dibelinya. Pasti ujung-ujungnya dijual. Inilah yang menjadi Aku bangga terhadapnya. Uangnya itu sengaja diberikan kepada orang yang membutuhkan. Jika kamu ingin tahu tanyakan saja pada Adinda. Kamu nggak boleh marah sama dia ketika bertanya tentang barang-barang brandednya itu," jelas Tia yang mengetahui sifat Adinda.


"Ya nggak gitu kali. Mana ada baju-baju bagus dijual lagi?" Malik agak kesel terhadap putrinya itu.


"Seharusnya ya disimpan. Bukan dijual lagi. Adinda harus memiliki lemari khusus menyimpan gaun," sambung Malik yang kesal terhadap Adinda.


"Kamu kok marah gitu sih sama putrimu sendiri? Kamu itu kok pemarah jadinya. Kamu tahu model baju itu tiap tahun sering berganti. Kalau Adinda mengkoleksi baju itu mau ditaruh mana? Semoga saja Budiman tahu tentang sifat baik Adinda terhadap sesamanya," ucap Tia yang mulai serius dengan Malik.


Sebenarnya Malik sendiri tidak kesal terhadap putrinya itu. Ia sangat bangga kepada Adinda. Karena Adinda memiliki motto hidup yang tidak didapatkan dari orang lain. Soal Adinda menjual pakaian, Malik sudah mengetahuinya. Bahkan Malik sendiri membiarkan hal itu terjadi.


Sedangkan Adinda sudah memakai gaun yang tadi dipegangnya. Jujur Adinda sangat cantik dengan sempurna. Meskipun sudah menikah, Adinda sendiri membuat semua orang terpanah. Contohnya saja sekarang Rizal bersama Tio. Kedua pria itu sangat terkejut melihat kecantikannya Adinda yang terbuka sendiri.


"Begini yah memiliki seorang wanita yang cantik sekali. ke mana-mana selalu dilirik oleh banyak pria. Oh Tuhan, aku harus ngapain? Padahal Adinda adalah milikku selamanya," ucap Budiman di hadapan mereka berdua.


Plak...


"Lu baru sadar ya? Kalau Adinda itu memang sangat cantik. Sekarang gue nyesel ninggalin dia bareng Lu. Kalau tahu pasti gue bawa ke New York City. Di sana gue berusaha untuk membahagiakan Adinda," ucap Rizal yang sengaja mengatakan isi hatinya terhadap Budiman.


"Lu itu ngomong apa sih? Lu kalau suka ya suka. Tapi posisi lu sekarang sudah menjadi suami orang. Mana pantas lu ngomong gitu di depan Adinda saat bersama istri lo sendiri. Lu nggak pernah menghargai seorang wanita ya," sindir Budiman.


"Istri gue tahu semuanya kok. Kalau gue emang cinta sama Adinda. Tapi gue nggak pernah merusak hubungan seseorang. Kalau tahu lu seperti itu. Pasti gue ajak ke New York," ujar Rizal.


"Ngapain sih lu berdua berantem terus-terusan seperti ini? Lu lagi Rizal, lu udah punya bini. Lu sekarang nggak sadar menyakiti hatinya. Gue dulu memang tergila-gila sama elu. Gue memang jatuh cinta sama lu. Tapi itu zaman dulu. Sekarang ceritanya beda. Gue nggak akan pernah mau lagi mengingat kisah asmara itu," kesal Adinda.