Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 116



"Kayaknya nggak deh. Kasihan keluarganya. Lagian juga aku masih marah sama dia," ucap Adinda.


"Memangnya kamu ada masalah dengan dia?" tanya Malik.


"Sebenarnya aku nggak ada masalah dengan dia. Ayah tau nggak semalam ketika berada di pusat perbelanjaan yang berada di Jaksel itu? Netty telah bertemu dengan Gilang. Nggak aku saja yang lihatnya. Pak Budiman juga lihat. Kami sama-sama terkejut dan tidak menyangka kalau Netty bisa ketemu dengan Gilang," ujar Adinda yang mulai curiga kepada Netty. "Apakah ini ada hubungannya dengan kejadian tadi pagi ya?"


"Maksud kamu apa?" tanya Malik.


Adinda mulai terdiam dan menatap ke arah pintu. Pikirannya pun melayang entah ke mana. Ditambah lagi kejadian tadi membuatnya sangat syok sekali. Ia tidak mungkin mengusir Netty begitu saja. jika dirinya mengusir dari apartemen, keluarganya pasti bertanya-tanya, Kenapa Adinda berubah sangat drastis sekali? Lalu Adinda mulai berpikir. Bagaimana masalah ini cepat selesai?


Siang pun tiba, ketika Adinda berada di dalam kamar sambil melihat film drakor. Lalu Budiman masuk ke dalam kamar dan melihat Adinda.


"Kamu kenapa? Apakah kamu sedang sakit gigi?" tanya Budiman yang menghempaskan bokongnya di samping Adinda.


"Aku nggak apa-apa. Kamu tahu kan masalah semalam itu?" tanya Adinda yang mulai menatap Budiman.


"Iya aku tahu," jawab Budiman. "Memangnya ada apa?"


"Tadi pagi Netty mengobrak-ngabrik isi lemariku. jujur saat ini aku bingung. Aku ingin mengusirnya dari apartemenku. tapi tidak ada alasan yang jelas," jawab Adinda.


"Itu ada alasannya. Alasannya, Netty sudah mengobrak-abrik lemarimu. Malahan dia telah mengambil dokumen-dokumen kamu. Lalu kenapa kamu nggak mengusirnya? Jangan bilang kalau kamu nggak tega sama dia," tanya Budiman sambil menatap mata Adinda.


"Sebenarnya aku tega. Tapi bagaimana dengan keluarganya itu? Aku bingung sekali," jawab Adinda.


"Lebih baik kamu jual itu apartemen. Kamu nggak perlu menempatinya lagi. Jika kamu mau apartemen, tuh di Tangerang punyaku kamu klaim saja. Lagian juga apartemen itu nggak kalah mewahnya dari apartemenmu. Kita bisa tinggal di sana. Kalau kamu mau," pinta Budiman yang memberikan saran untuk menjual apartemen Adinda.


"Itu apartemen dekat sekali dengan kantor. Gara-gara semenjak menikah, Aku tidak akan tinggal di sana. Apalagi kamu sudah sadar dari penyakitmu itu. Jadinya aku harus mendampingimu setiap saat," jelas Adinda.


"Jadi, Aku harus bagaimana? Jika aku menjualnya, berarti Netty akan keluar dari apartemen itu. Itu ide yang sangat bagus. Tapi apakah aku harus ngomong sama Paman Herman?" tanya Adinda.


"Lebih baik kamu ngomong saja sama dia. Jujur meskipun sakit, tapi Herman juga harus tahu tentang kekasihnya itu," jawab Budiman.


"Apakah aku harus mencari cara agar Paman Herman paham?" tanya Adinda lagi.


"Atau kamu ngomong saja sama Faris. Kalau kamu ngomong, semua masalah ini akan bisa terselesaikan. Dan Faris juga akan ngomong ke Herman," jawab Budiman yang memberikan solusi terbaiknya.


"Aku takutnya Paman Herman itu drop. jadinya Paman Herman itu nggak bisa menerima kenyataan ini. Kalau Netty sudah berani bertemu dengan Gilang. Apakah mereka menjalin hubungan? Ataukah ada sesuatu yang terpendam selama ini?" tanya Adinda yang ragu atas keputusannya itu.


"Jangan pernah ragu atas keputusanmu itu. Mau tidak mau pamanmu harus tahu semuanya. Katanya tahun depan pamanmu menikahi Netty. Ketimbang ujung-ujungnya tidak enak setelah menikah, maka harus diberitahukan sekarang juga. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja setelah ini," jawab Budiman yang memegang tangan Adinda.


"Kalau Paman Herman memecat Netty bagaimana?" tanya Adinda sambil menunduk.


"Itu sudah resikonya. Meskipun pamanmu pengacara, tapi dia masih seorang wakil CEO di perusahaanmu. Mau tidak mau pamanmu akan sakit hati atas kejadian yang kamu ceritakan itu. Apalagi setelah tahu kalau kamarmu jangan lemarimu di obrak-abrik sama Netty. Dan kamu harus merelakan semuanya," ujar Budiman yang membuat Adinda mengangguk.


"Terima kasih ya. Sudah mau mendengar keluh kesahku ini. Aku nggak pernah terpikirkan cerita kepada orang ataupun sahabatku sendiri. Kecuali pada Andara," ucap Adinda.


"Aku bukan orang lain. Aku adalah suamimu. Jangan pernah terpikirkan olehmu untuk memusuhiku lagi. Aku ingin menjadi orang yang berguna buat kamu dan keluargaku. Kamu tahu saat dikhianati oleh dia, sakit banget hatiku. Aku nggak menyangka, kalau dia telah bermain api denganku. Tapi mau bagaimana lagi. Kamu hadir di saat waktu yang tepat. Meskipun pernikahan ini adalah pernikahan dadakan atau paksaan, aku sangat bahagia bisa menerimamu. Dan kamu menerimaku apa adanya," jelas Budiman. "Kalau ada masalah ceritakan saja padaku. Kemungkinan besar aku bisa memberikan kamu solusi. Jika tidak aku akan menjadi pendengarmu yang baik."


"Baiklah. Terima kasih. Aku sekarang sudah lega. Tapi aku harus mencari solusi agar Paman Herman mau mendengarkanku. jika Andara melihat Netty bertemu dengan Gilang, pasti Andara akan marah. Aku nggak boleh menceritakan soal ini kepada Andara," kata Adinda yang tersenyum manis saat menatap Budiman.


"Kalau begitu jangan ceritakan kepada dia. dia pasti akan memaki Netty. Lebih baik kita jalan yuk," ajak Budiman.


"Kemana?" tanya Adinda.