Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 100



Plakkkkkk!


Tangan mungil Adinda berhasil mendarat dengan indah di lengan Budiman. Bagaimana tidak? Budiman ingin mencari ilmu biar Adinda bisa hamil dalam waktu singkat? Apakah Budiman sendiri tidak belajar tentang ilmu biologi di sekolah? Sementara itu Budiman hanya tertawa. Berhubung jalanannya macet, Budiman tertawa terbahak-bahak. Entah kenapa Budiman suka sekali membuat Adinda kesal.


"Astaga, kamu lagi kena setan apa Budiman?" tanya Kamila yang sedari tadi melihat Sang putra tertawa.


"Ini lho ma. bukannya mama tadi memintaku biar Adinda cepet-cepat hamil. Entah kenapa kok pikiranku melintas arah yang aneh ya? Seperti mau mencari ilmu sulap agar Adinda langsung hamil," jawab Budiman yang menghentikan tawanya.


"Mana ada ilmu sulap seperti itu? Memangnya kamu tidak menikmati, apa yang telah diberikan oleh Adinda kepadamu?" tanya Kamila dengan nada kesalnya.


"Maaf ma... sebenarnya aku sudah memp*rkosanya. Untungnya Adinda tidak marah sama sekali denganku. Malahan Adinda sangat menikmatinya," jawab Budiman tanpa ada rasa malu sedikitpun.


"Astaga... ini bocah. Mirip banget sama bapaknya ya. Bisa-bisanya berkata dengan jujur di hadapan maknya," ketus Kamila.


"Kan benar. Kalau aku adalah anaknya Pak Kartolo. Terus mama mau apa? Pak Kartolo juga sama. Kalau ngomong sangat jujur sekali. Saking jujurnya aku terkadang sangat malu," ucap Budiman sambil tersenyum.


"Din," panggil Kamila.


"Iya ma," sahut Adinda yang sedari tadi memilih diam karena malu di hadapan Ibu mertuanya itu.


"Kamu nggak protes kepada Budiman? Seharusnya kamu membawa kasus pem*rkosaan kamu itu ke ranah hukum. Aku tahu kamu dilecehkan oleh Budiman. Jadinya kamu berhak menuntutnya," kata Kamila yang sudah mulai berapi-api menahan amarahnya.


"Bener juga. Kenapa aku tidak melaporkannya ke ranah hukum? Seharusnya aku melaporkannya. Argh... kok aku jadi bodoh sekali sih," sahut Adinda yang berpura-pura marah kepada Budiman.


"Apa perlu Mama bantu untuk melaporkan Budiman ke kepolisian setempat? Mama ikhlas loh melaporkan Budiman ke sana. apalagi Budiman sangat kurang ajar sekali kepadamu," ledek Kamila yang membuat Budiman bergidik ngeri.


"Yang, jangan ya. Jangan kamu laporkan aku. Nanti kalau kamu sudah ngisi. Terus bayi kita nggak memiliki bapak gimana?" ucap Budiman sambil memelas kepada Adinda.


"Nggak apa-apa. Nanti biar mama yang mengurusnya. Lagian juga kamu kurang ajar banget sama perempuan. Itu juga cucu mama," sahut Kamila yang tidak mau mengalah kepada Budiman.


Hati Budiman langsung mengkerut seperti spon yang sudah diperas. Ia tidak menyangka kalau sang mama menyuruhnya masuk ke jeruji besi. Lalu Apa salah dan dosa telah diperbuat? padahal ia sendiri sengaja melakukannya hanya demi mengklaim Adinda miliknya seorang.


Sebelum bicara, lampu hijau telah menyala kembali. Beberapa mobil di belakang Budiman mengebel dengan kencang. Sehingga Budiman mengurungkan niatnya untuk menyambung pembicaraan tadi. Ia segera menancapkan gasnya untuk menuju ke rumah.


Sesampainya di rumah, Budiman menyuruh para pelayannya untuk mengambil barang-barang di dalam mobil Kamila. Setelah itu Budiman mengajak Adinda pergi ke kamarnya. tangan kekarnya memegang tangan Adinda. Tanpa ucapan permisi kepada Kamila, Budiman langsung menariknya.


"Nggak usah. Ikut aku yuk," ajak Budiman.


"Aku harus izin Kak," pinta Adinda.


"Nggak usah meminta izin. Ini kan rumahmu sendiri. Waktunya kita beristirahat. Nanti malam kita baru keluar," pinta Budiman yang mulai merengek manja kepada Adinda.


Dengan terpaksa Adinda menuruti keinginan Budiman. Mereka berdua menaiki tangga satu persatu. Dahulu Adinda tidak pernah naik ke atas. Karena lantai dua dan tiga adalah lantai kekuasaan Budiman.


Kamar kedua orang tua Budiman sengaja di lantai bawah. Begitu juga dengan kamar Andara. Mereka sengaja memilih kamar dibawah. Karena kalau terjadi apa-apa tidak perlu susah-susah untuk turun ke bawah.


"Aku sangat penasaran sekali dengan lantai dua sama tiga. Katanya Nda, aku nggak boleh naik ke atas. Takut kamu marah," celetuk Adinda.


"Jujur... aku memang tidak mengizinkan orang yang tidak dikenal naik ke atas. Di atas sana banyak sekali dokumen-dokumen rahasia Njawe Group bersama aset kedua orang tuaku. Akulah yang menjaga semuanya. agar tidak terjadi pencurian. Bahkan aku menyuruh Tio untuk mempersempit akses kepada para pelayan. Jika tidak mereka bisa mengobrak-abrik semuanya. Kamu tahu kan soal mata-mata. Aku takutnya mata-mata Gilang naik ke atas lalu mencari dokumen-dokumentasi tersebut. Jujur, aku sendiri tidak percaya dengan orang sama sekali," jelas Budiman yang sengaja membuka rahasia pribadinya sendiri.


"Kalau aku bagaimana? Bisa saja kan aku mencuri semuanya," tanya Adinda yang membuat Budiman tertawa.


"Kamu mah nggak usah dipikirin. mau nyuri pun percuma. Coba kamu pikir. aset yang kamu miliki aja lebih banyak dari aku. Kalau dihitung-hitung kamu itu adalah seorang pengusaha muda yang kaya raya. Sedangkan aku sendiri, uang limitku juga tidak sebanyak yang kamu punya. yang kaya adalah kedua orang tuaku. Bukan Aku. Kamu tahu kan kehidupanku bersama Kanaya seperti apa? Itulah yang membuat aku tidak bisa memiliki uang banyak. Bahkan aku royal sekali kepada dia. Ternyata dia adalah penghianat," jelas Budiman yang membuat Adinda tersenyum.


Bener apa yang dikatakan oleh Budiman. Budiman sebenarnya sangat minder ketika mengetahui aset pribadi Adinda. Ia tidak menyangka kalau sang istri adalah pekerja keras. Hampir setiap hari Adinda jarang sekali liburan. Karena di perjalanan bisnis Adinda sudah menyebutnya liburan dadakan.


"Kenapa kamu tidak mencurigaiku? Kenapa kamu harus percaya denganku?" tanya Adinda.


"Karena aku percaya denganmu. Kamu adalah istriku. Nggak seharusnya seorang suami curiga kepada istrinya. Apalagi istrinya adalah seorang bisnis women terkenal. Tidak mungkin kan kalau kamu ingin mencuri seluruh asetku?" tanya Budiman.


"Tergantung. Jika kamu nakal dan berjalan bersama perempuan lain. Tanpa ada pemberitahuan apapun. Aku bisa membekukan seluruh asetmu itu. Aku akan menghukummu selama enam bulan kedepan. Aku yakin kamu akan kapok selamanya," jawab Adinda yang membuat Budiman menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Jawaban Adinda termasuk ultimatum yang diberikan kepada Budiman. Bagaimana tidak? Adinda telah mengancam Budiman terlebih dahulu. Jangan salahkan jika Adinda sangat marah. Ketika Budiman ketahuan berselingkuh lagi. Adinda bukan perempuan biasa. Adinda memiliki karakter yang kuat. yang di mana dirinya bisa mengendalikan semuanya.


"Aku setuju denganmu. Lebih baik kamu menghukumku seperti itu. Aku harap, Aku tidak akan melakukannya untuk kesekian kalinya. Bimbing aku menjadi suamimu yang baik hati. Biarkan aku menjadi seorang ayah buat anak-anak kita kelak. Aku jatuh cinta sama kamu Din. Biarkanlah cintaku ini membara apa adanya. Tapi aku mohon kepadamu. Jangan pernah meninggalkan aku sendirian lagi. Aku sangat membutuhkanmu," pinta Budiman yang tidak ingin ditinggalkan oleh Adinda.


"Kalau begitu bimbinglah aku menjadi istrimu yang baik juga. Aku ingin mengabdikan hidupku ini kepadamu. Aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu," sahut Adinda yang benar-benar berjanji kepada Budiman dan juga sang pencipta.


"Marilah kita belajar bersama-sama untuk mengarungi rumah tangga ini. Aku ingin kita bisa hidup bersama dengan bahagia. Apakah kamu ingin melihat kamarku?" tanya Budiman sembari mengajak Adinda.