Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 68



“Sepertinya itu tidak perlu. Kamu belum tahu kecerdasan keponakanku itu bagaimana? Jika kamu menyembunyikannya. Dia dengan mudah bisa menemukannya,” jawab Malik yang memegang cangkir dan mencium aroma teh melati. 


“Tapi percuma ya. Aku hampir lupa dengan perkataan Roni. Dia juga mencari data-data ini bersama Adinda. Kenapa nggak terpikirkan olehku?” kesal Herman baru ingat dengan perkataan Roni semalam. 


“Sedari dulu teman-teman kita sudah dianggap Adinda sebagai kakaknya kecuali Budiman. Yang aku tahu Budiman sudah dianggap musuh sama Adinda. Hampir setiap hari mereka akan bertengkar jika bertemu,” jelas Fariz yang membuat Malik dan Tia tertawa. 


“Ibu nggak bisa membayangkan. Bagaimana bisa seorang Budiman marah-marah sama Adinda habis-habisan? Masalahnya Adinda diusir dari rumah sini,” sambung Tia. 


Faris hanya bisa menggelengkan kepalanya karena ingat masa lalunya bersama Adinda dan Budiman. Bagaimana bisa sang tuan rumah terusir dari rumahnya sendiri. Ini sungguh aneh sekali. 


“Tapi kayaknya Budiman sudah sadar dengan penyakitnya itu. Budiman ternyata bucin berat sama Adinda,” sahut Herman. 


“Kalau yang namanya cinta... lebih baik nggak usah dipisah. Kalau sudah saling mencintai seperti ini. Kita hanya mendukungnya saja,” ujar Malik yang mulai menatap Tia. 


“Tapi aku nggak rela jika Budiman bersama Adinda. Budiman itu orangnya ya gitu deh yah,” ucap Faris secara blak-blakan. 


“Mau bagaimanapun, kamu harus merelakan adikmu bersanding sama Budiman. Sebenarnya Budiman itu orangnya humble, ceria, bahagia dan membuat semua orang tertarik untuk menjadi temannya. Berhubung dia terkena si wanita ular itu. Apa daya Budiman sekarang menjadi seperti itu. Semoga saja Budiman mau berubah demi Adinda. Kita sebagai manusia tidak perlu menghujat satu sama lain. Kita doakan saja yang terbaik buat Budiman. Kita semuanya sayang sama Budiman. Kita berhak mendukung satu sama lain. Sebenarnya ayah sudah menganggap Budiman sebagai anak. Ya... nggak Budiman saja. Roni, Irwan, Andara dan juga Dani. Mereka dulu sering kesini untuk berkumpul di tempat rahasia kalian yaitu ruangan bawah tanah. Kalian sudah mendesain ruangan itu sebagai ruangan rahasia. Jika mereka bolos, mereka selalu saja kesini dan bersembunyi di sana,” jelas Malik yang menaruh cangkirnya itu di atas meja. “Jika Budiman mau berubah, Apakah kamu nggak mau mendukung dia berubah? Janganlah berpikiran seperti itu Faris. Dia juga saudara kamu. Meskipun beda bapak maupun ibu. Beda leluhur beda keluarga. Harusnya kita sama-sama mengingatkan satu sama lain. Agar Budiman bisa menjadi sosok pria yang bertanggung jawab pada keluarganya.”


“Yang dikatakan ayahmu benar. Kita juga harus membimbing Budiman agar benar-benar sadar dari kesalahannya itu. Biarkanlah cinta mereka bersemi apa adanya. Ayahmu juga dulu bukan orang baik. Ayahmu juga mirip banget kayak Budiman. Tapi bedanya, ayahmu bukan terpengaruh sama wanita. Dulu ayahmu memiliki masa lalu yang kelam. Yang di mana masa lalunya itu karena broken home. Semuanya itu karena ulah dari kedua orang tuanya. Gara-gara perceraian kedua orang tuanya, ayahmu berubah menjadi drastis. Setelah kenal ibu, ayahmu menjadi seperti ini. Menjadi pria sukses yang bisa memimpin keluarganya dan perusahaan ditambah lagi dengan mahasiswa lainnya. Maka kita nggak boleh menghujat satu sama lain. Kita sebagai manusia bukan makhluk yang sempurna. Sebisa mungkin kita menyempurnakan diri masing-masing. Kita harus belajar melalui kesalahan dan memperbaikinya satu persatu. Kamu tahu kenapa? Jika pria sudah memiliki masalah besar. Terus dia bertobat dan menjalani semua yang diinginkannya. Maka Tuhan tidak segan-segan akan menolongnya. Wanita yang mendampinginya adalah pilihan dari Tuhan. Ibu sadar jika kisah adikmu itu sama seperti kisah Ibu. Bagaimana rasanya jika bertemu dengan seorang menantu seperti ini? Apakah ibu akan menyalahkan keadaan? Tentu tidak. Ibu nggak boleh egois untuk menghadapi semua ini. Ibu nggak boleh memisahkan Adinda bersama Budiman. Jika sudah jalannya begini Kenapa tidak. Ibu sudah melihat secara langsung. Kalau Budiman sekarang sudah menjadi lebih baik. Restuilah adikmu itu. Kamu harus merelakan adikmu menikah dengan Budiman. Jangan sampai bercerai dan meninggalkan luka bagi kedua belah pihak. Meskipun ibu tidak mengenal Ibu Kamila sama Pak Kartolo. Ibu sudah menganggapnya saudara. Yang penting sekarang biarkanlah mereka bersatu,” tambah Tia.


Hati Faris tersentil dengan perkataan Tia sang ibu. Seharusnya ia tidak boleh egois melihat sang adik menikah dengan Budiman. Padahal Faris sudah mengetahui sifat Budiman sebenarnya. Tapi kenapa , Fahri seakan tidak rela menjadikan Budiman sebagai adik iparnya? Hanya Faris yang tahu.


Sarapan pagi ini sepertinya tidak ada tenaga buat mereka. Malik dan Tia tahu bagaimana perasaan Faris sekarang. Malik akan bertemu Budiman dan membicarakan ini memakai dua mata saja. Adinda dan Faris tidak boleh mengetahuinya terlebih dahulu.


Tepat jam 08.00 pagi, Budiman menemui Kevin. Budiman menanyakan bagaimana kabarnya Adinda? Kevin menceritakan keadaan Adinda sebenarnya.


“Kabarnya baik-baik saja. Semalam dia meminta pulang ke rumah. Katanya dia udah bosen tinggal di sini,” jawab Budiman yang membuat Kevin tersenyum.


“Sekarang lo tahu kan gimana Adinda? Sedari dulu Adinda tidak pernah mau dirawat di rumah sakit. Jika sakit aku bersama tim dokter dan para suster kesana untuk merawatnya. Padahal sih kamar itu sudah didesain sebagai kamar pribadinya yang melebihi hotel. Tapi ya percuma saja. Yang namanya Adinda tetaplah Adinda. Padahal aku sengaja memberikan dia kebebasan untuk makan. Asal dia mau dirawat di rumah sakit,” jelas Kevin.


“Ternyata istriku sangat unik sekali. Lalu Bagaimana jika aku membawanya pulang?” tanya Budiman yang sangat frustasi sekali kepada Adinda.


“Lukanya sudah kering Kok. Aku sengaja membeli obat dari luar negara. Aku tahu Adinda orangnya nggak betah di rumah. Habis dari rumah sakit, libur sehari lalu balik lagi ke kantor. Maklumi saja Kalau Adinda itu adalah seorang wanita berbisnis,” jawab Kevin sambil memberikan nasehat kepada Budiman.


“Apakah dia bisa hamil setelah ditusuk seperti itu?” tanya Budiman yang memberikan pertanyaan konyol.


“Ya bisalah. Kata siapa nggak bisa? Kalau nggak bisa, itu tandanya Adinda tidak ada yang dibuahii sama sekali. Masa kamu nggak tahu pelajaran biologi?” kesal Kevin yang ingin melemparkan Budiman ke kandang panda.


“Gue takutnya nggak bisa hamil bro. Kalau dia hamil punya anak dari gue. Gue pastiin Adinda nggak akan kabur lagi,” ucap Budiman dengan jujur.


“Lu itu ada-ada saja. Sudah waktunya kenapa nggak. Sudahlah nggak usah berpikir macam-macam seperti itu. Lagian juga itu pisau tidak terlalu menusuk dalam. Yang dipakai preman itu adalah pisau belati biasa. Ujung-ujungnya adalah pisau buah,” ujar Kevin.


“Tapi kok Adinda mengeluarkan banyak darah?’’ tanya Budiman.


“Tusukannya ada berapa bro? Kalau ada satu nggak masalah. Ada tujuh. Coba lu bayangin ditusuk tujuh kali seperti itu. Ya habis lah. Ditambah lagi tusukan demi tusukan itu bedanya hanya satu senti saja. Jadi ya sudah wassalam deh,” jawab Kevin. “Apalagi perjalanan apartemenmu menuju ke rumah sakit lumayan jauh. Belum termasuk macetnya Bagaimana gilanya.  Untung saja dia mengetahui daerah sekitar sana,” tambah Kevin.


“Apakah aku nggak boleh mengkhawatirkan semuanya tentang Adinda?” tanya Budiman dengan pasrah sekali.