Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 138



“Begini, aku hanya memberitahukan kalau Budiman sudah tidak cocok lagi menjadi seorang CEO di perusahaan ini. Dia harus turun dari kursi jabatannya itu,” jelas Gina yang sengaja berbicaranya dibuat-buat seolag Budiman tidak layak dengan jabatannya.


“Bisakah anda membicarakan hal ini besok saja,” pinta Herman yang tidak ingin membahas masalah ini di luar jam istirahat.


Gina langsung pergi karena kesal. Ia sangat membenci sekali jika ada melarangnya. Lalu ia sedang mencari cara  agar Budiman segera lengser di kursi jabatannya.


“Ada-ada saja. Aku harap Adinda yang bisa memutuskan semuanya ini,” ucap Herman.


“Semenjak Pak Kartolo melepaskan jabatan itu ke Budiman, Bu Gina dan Pak Gandi selalu menyerang Budiman. Aku tidak tahu dengan mereka berdua. Sangking bencinya mereka melakukan banyak cara agar Budiman lengser,” jawab Tio yang menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.


“Kemungkinan Adinda sudah tahu akan hal ini,” celetuk Herman.


“Aku tidak tahu akan hal itu,” ucap Tio yang mengedikkan bahunya tanda tidak tahu.


“Kalau begitu, aku balik ke perusahaan,” pamit Herman.


Tio hanya menganggukkan kepalanya dan membiarkan Herman pergi. Ia juga sangat kesal kepada Gina selalu tidak memberikan contoh baik saat rapat. Setiap kali ada meeting, Gina selalu membuat keributan.


Budiman yang sedang menikmati es kepala muda mendapatkan sebuah pesan. Pesan itu berisikan sebuah ancaman dari seseorang. Ia mengerutkan keningnya sambil menghela nafasnya dengan kasar.


“Ada apa?” tanya Adinda yang menatap wajah Budiman seakan memiliki masalah besar.


“Hidupku seperti di neraka untuk kali ini,” jawab budiman yang pasrah dengan kehidupannya.


“Memangnya ada apa?” tanya Adinda. “Sepertinya kamu ada beban yang tidak bisa ditebak?”


“Seandainya aku tidak menjadi CEO lagi? Terus aku mendaftar sebagai asisten kamu bagaimana?” tanya Budiman yang menatap wajah Adinda.


“Aku tidak akan terima kamu sebagai asisten kamu. Seharusnya aku yang mengatakan ini. Aku harus mengalah pada pekerjaan aku sendiri. Aku akan keluar dari pekerjaan lalu mendampingi kamu,” jelas Adinda yang tidak ingin menerima Budiman sebagai asistennya.


“Ya... enggak begitu kali konsepnya. Aku itu menyerah dari pekerjaan ini. Kamu tahukan hampir setiap hari aku selalu ditekan oleh Mamanya Gilang? Dia memintaku untuk lengser dari kursi CEO?” tanya Budiman yang menaruh ponselnya di atas meja.


“Terus kamu menyerah pada keadaan?” tanya Adinda balik.


“Ya... ketimbang rame,” jawab Budiman.


“Jika aku meminta kamu untuk tidak pergi dari perusahaan?” tanya Adinda.


“Aku enggak tahu. Aku rasanya capek dan tidak ingin melanjutkan hidupku sebagai seorang CEO,” jawab Budiman.


“Lebih baik tunggu keputusan dari semua pihak. Kamu jangan takut sama orang seperti itu. Kamunya harus kuat menghadapi segala hal,” jelas Adinda.


“Kuat dalam segala hal?” tanya Budiman yang mulai tersenyum manis.


“Iya... kamu harus kuat dalam segala hal,” jawab Adinda yang menggaruk tengkuknya tidak gatal.


“Ya aku memang aku kuat dalam segala hal. Aku memang kuat membuat kamu mend*sah sepanjang malam,” jawab Budiman yang membuat Adinda salah tingkah.


“Apakah kamu tidak ingin mencari asisten lagi?” tanya Budiman.


“Sepertinya aku akan memutuskan untuk mendampingi kamu. Aku yakin bisa membantumu. Kalau tidak bisa membantu kamu. Ya seharusnya mendengar keluh kesahmu yang seabrek itu. Kamu sendiri tidak pernah mencurahkan isi hatimu,” jelas Adinda yang membuat Budiman tersenyum.


“Memang sudah seharusnya seorang istri menjalankan tugas utamanya. Yaitu mendampingi suaminya agar tidak menyerah pada keadaan. Tidak tersesat pada jalan buntu dan mencegah sang suami tidak selingkuh,” jelas Budiman.


“Tapi aku masih bisa bekerja di perusahaan SM Company selama aku mendampingi kamu,” jelas Adinda.


“Itu tidak menjadi masalah buatku. Aku tidak akan meminta uang kamu saat terima gaji. Aku hanya meminta kamu berada di sampingku selamanya,” pinta Budiman.


“Nanti aku bicarakan dengan  yang lainnya. Aku tidak bisa mengambil keputusan sama sekali dalam waktu dekat dengan ini,” jelas Adinda yang tidak ingin mereka salah sangka akan keadaan Budiman.


“Ya... aku setuju. Semoga aja ada titik terangnya dengan masalah ini,” celetuk Budiman.


Entah kenapa Adinda merasakan ada sesuatu yang tidak enak. Ia menatap wajah Budiman dan menebak apa telah terjadi selama ini. Lalu dengan cepat Adinda meraih ponsel Budiman tersebut sambil membuka pesan.


“Sepertinya ada masalah yang kamu sembunyikan dariku?” tanya Adinda.


“Aku mendapatkan sebuah ancaman dari nomor tidak dikenal. Dia mengancamku akan membunuhku, jika kau tidak menyerahkan jabatan CEO itu. Makanya aku bilang sama kamu. Kalau aku ingin sekali menyerah kepada keadaan,” jelas Budiman.


“Ya enggak gitu kali sayang. Jika kamu menyerahkan jabatan itu. Mereka akan  bersorak kegirangan dan akan menginjak kamu. Jika itu sudah terjadi maka kamu akan menjadi bahan tertawaan mereka,” jelas Adinda. “Sepertinya aku mengenal nomor ini?”


“Memangnya nomor siapa?” tanya Budiman.


“Nomornya Gilang. Aku sering mendapatkan nomor sama dan itu hampir setiap hari. Dia menerorku dan menyuruh melepaskan tender itu. Aku belum kesana dan membuat huru-hara di perusahaannya. Jika itu sampai terjadi. Paman Herman dan Kak Faris akan melepaskan aku dan membiarkan mengamuk,” jelas Adinda yang matanya berubah menjadi merah menandakan kemarahan.


“Lalu apakah kamu akan membantainya?” tanya Budiman.


“Aku bisa saja menarik uangku dari sana. Karena aku sendiri adalah investor terbesar di perusahaannya itu. Aku bisa saja mengakuisisi perusahaan itu dan memasukkannya ke SM Company,” jelas Adinda yang tidak pernah bermain-main dengan jawabannya itu.


“Rasanya itu sangat keren sekali,” puji Budiman yang sebenarnya takut kepada Adinda.


“Lihat saja Budiman. Semuanya akan terbongkar satu persatu. Aku yakin semuanya akan terbuka jelas siapa itu Gilang sebenarnya?” geram Adinda yang masih menunggu waktu tepat.  


Memang Adinda sedang menunggu waktu yang tepat untuk membongkar semua kejahatan Gilang. Ia sekarang tidak akan tinggal diam melakukannya. Lalu, apakah Adinda akan bersantai saat ini? Tentu tidak. Adinda harus memikirkan perusahaannya itu. Adinda akan mempertahankan perusahaannya jika nanti akan terjadi serangan dari pihak Gilang.


Lalu bagaimana dengan Budiman? Budiman juga tidak akan tinggal diam. Setelah drop dan ingin menyerah dari keadaan, Adinda telah membangun kepercayaan dirinya kembali. Ia tidak akan menyerah untuk kali ini.


“Apakah kamu sudah mendapatkan solusi?” tanya Adinda yang menatap wajah Budiman.


“Sudah,” jawab  Budiman.


“Lalu apakah kamu akan menyerah pada keadaan untuk saat ini?” tanya Adinda yang meminum es degannya itu.