
"Hmmmp... itu benar. Kalau kalian masih ragu tanyakan sama para petinggi di pusat perbelanjaan disini," jawab Tio.
Kedua wanita itu hanya menganggukan kepalanya. Entah kenapa mereka masih belum percaya sama sekali.
"Lebih baik kita berpisah untuk sementara waktu,' ucap Budiman yang ingin mengajak Adinda berduaan.
"Bagaimana dengan Alejandro?' tanya Tio.
"Di belum datang. Katanya dia masih memilihkan beberapa baju buat Adinda dan Andara," jawab Budiman dengan jujur.
Mereka berpisah sementara waktu. Adinda mulai mencium aroma parfum yang elegan. Matanya berbinar dan menarik tangan Budiman.
"Tunggu kak," seru Adinda yang menghentikan langkah Budiman.
"Ada apa memangnya?" tanya Budiman sengaja menoleh ke arah Budiman.
"Bolehkah aku membeli sebuah parfum yang beraroma elegan?" tanya Adinda. "Aroma Lily bercampur rose."
"Hmmp... boleh... kamu bisa membelinya," jawab Budiman sambil mengajaknya masuk.
Adinda segera melangkahkan kakinya untuk melihat beberapa parfum. Adinda teringat kalau stock parfum di rumah tingga sedikit. Ia sangat antusias sekali memilih untuk melihat parfum.
Budiman yang melihat Adinda memilih beberapa parfum hanya bisa tersenyum. Jujur Budiman akhirnya bahagia mengeluarkan uang pribadinya untuk memenuhi kebutuhan sang wanitanya.
"Ternyata aku bisa mengeluarkan uang untuk istriku," batin Budiman.
"Kak," panggil Adinda.
"Iya," sahut Budiman.
"Aku sudah memilihkan dua parfum buat kakak. Tapi apakah kakak menyukainya?" tanya Adinda.
"Itu terserah kamu. Nanti aku yang pakai," jawab Budiman yang sengaja parfumnya yang diatur oleh Adinda.
Adinda hanya bisa menghembuskan nafasnya sambil memilih dua parfum untuk pria. Ia sangat serius memilih satu persatu.Hingga Adinda mendapatkan beberapa parfum pria yang maskulin namun lembut.
Budiman mencium aroma parfum itu dan menatap Adinda tersenyum. Ia mendekati Adinda sambil berbisik, "Apakah kamu ingat tentang parfum ini?"
"Parfum ini berasal dari Paris. Aku masih mengingat. Wangi lembut parfum ini mengingatkanku pada masa laluku dengan seorang pria yang bernama Budiman. Disaat beliau berusia lima belas tahun, aku bingung mau memberikan apa ketika berulang tahun. Aku sengaja memberikan parfum yang maskulin namun lembut," jawab Adinda dengan malu-malu.
Wajah Adinda mulai merona. Ia tidak menyangka membuka rahasianya sendiri. Betapa bodohnya ia bisa membuka rahasia sendiri.
"Anu... anu... aku pinjam uang kamu untuk membeli parfum ini. Nanti aku ganti," ucap Adinda dengan gugup.
"Oh," sahut Budiman yang mengeluarkan kata o dari mulutnya.
Para karyawan tersenyum melihat Adinda yang malu-malu. mereka mengatakan kalau Adinda sangat gemas sekali. Bahkan saking gemasnya mereka ingin sekali mencubit pipi Adinda.
Budiman segera membayar parfum itu. Ada rasa membuncah di dalam hatinya. Selesai membeli parfum itu, Budiman mengajak Adinda keluar.
Saat melewati dua toko, Budiman mengerutkan keningnya. Dirinya bingung dengan Adinda. Lalu ia sendiri menghentikan langkahnya sambil melihat wajah Adinda.
"Kamu tahu, kalau aku malu ketika waktu itu," jawab Adinda yang merasakan jantungnya berdetak kencang.
"Sepertinya kamu benar-benar jatuh cinta sama aku," ledek Budiman yang membuat Adinda semakin malu.
"Aku enggak jatuh cinta sama kamu. Ah... sudahlah... aku benar-benar malu," ujar Adinda yang pergi meninggalkan Budiman.
Budiman hanya tertawa melihat sang istri kepergok menyukai seseorang. Budiman mengatakan kalau Adinda sangat menggemaskan sekali. Ia segera mengejar Adinda dan menarik tangannya sambil berkata, "Aku cinta kamu."
Adinda menoleh dan tersenyum manis sambil membalasnya, "Aku juga cinta sama kamu."
Ketika Adinda berkata jujur, Budiman ingin sekali melakukan seleberasi. Hatinya seperti mengeluarkan kembang api. Baru kali ini Adinda mengatakan kalau cinta dirinya.
Cinta yang hilang sekarang muncul lagi. Memang Tuhan sengaja memberikan jalan berliku buat pasangan muda itu. Melalui Adinda, Budiman sekarang sudah sembuh.
"Apakah kamu lapar lagi?' tanya Budiman.
"Sepertinya enggak," jawab Adinda. "Apakah kamu lapar?"
Beberapa saat kemudian Adinda mengajak ke sebuah restoran. Yang dimana restoran itu adalah tempat favoritnya.
"Ayo. Aku tunjukkan makanan yang lezat disini," ajak Adinda.
"Dimana itu?" tanya Budiman.
"Udah... jalan aja," jawab Adinda.
"Kamu mau bawa aku kemana?' tanya Budiman.
"Ya... ke restoran," jawab Adinda,
Budiman menurut saja dan membiarkan Adinda mengajaknya. Momen ini sangatlah indah dan tidak dapat dilewatkan begitu saja.
POV ADINDA.
Pagi tadi aku terbangun dari tidurku. Tiba-tiba saja ponselku berdering dengan kencang. Aku meraih ponsel itu dan segera mematikannya. Namun aku mendapatkan sebuah pesan dari Yuki. Pesan itu mengatakan kalau Yuki akan menangkap Gilang dan keluarga Gilang. Aku sengaja membalasnya. Kok cepat banget.
Yuki menceritakan kalau dibiarkan saja. Keluarga Van Desh akan malu besar. Aku pun paham dan membalasnya. Tidak lupa aku memberikan sebuah doa. Doa yang dimana membuat mereka berhasil. Kalau dipikir-pikir, memang benar apa adanya. Apalagi Kak Albert menikahi seorang perempuan yang memiliki darah bangsawan. Ditambah calon istrinya itu adalah seorang artis sangat terkenal di Asia tenggara. Oleh sebab itu Rizal memutuskan untuk menangkapnya terlebih dahulu. Agar Gilang dan keluarganya tidak menyerang dan membuat malu keluarga besar Van Desh.
Aku cukup bersyukur atas penangkapan Gilang dan keluarganya itu. Jujur aku sendiri gelisah jika bertemu dengan Gilang dan keluarganya itu. Padahal aku tidak pernah membuat kesalahan ataupun masalah dengan mereka. Akan tetapi mereka sering memojokkanku tanpa alasan yang cukup kuat. Dibilang gila namun tidak gila. Dibilang waras juga waras. Entah kenapa keluarga besar milik Budiman ada saja yang seperti itu.
Setelah itu aku memilih untuk tidur. Karena Yuki mengirimkan sebuah pesan pada subuh. Mumpung aku sedang liburan dan tidak memegang berkas-berkas. Aku lebih memilih untuk tidur dan beristirahat.
Aku pun terlelap tidur. Aku memeluk Budiman sambil mengusap punggungnya. Perasaanku sangat lega. Aku tidak mau lagi Budiman bersama keluarganya ditindas. Entah mengapa perasaanku kepada Budiman sangat besar sekali. Dulu aku sangat membencinya dan tidak pernah ingin jatuh cinta kepadanya. Namun semua berubah. Aku benar-benar jatuh Cinta.
Tepat pukul 07.00 pagi, kami sudah siap untuk mencari sarapan. Kami sengaja menghubungi Yuki dan juga Rizal. Sebelum terjadi penangkapan Rizal mengatakan kepadaku. Rizal ingin mengajakku bersama Budiman makan bersama. Nyatanya semua berubah.
Aku melangkahkan kakiku menuju keluar bersama Budiman. Entah kenapa aku melihat Gilang bersama keluarganya menindas satu keluarga. Keluarga itu memang memiliki ekonomi lemah. Akan tetapi Budiman sengaja mengajaknya untuk menghadiri pernikahan Albert. Aku sih tidak menjadi masalah. karena Budiman ingin berbakti kepada orang tuanya dan juga keluarga besarnya.
Aku mendengar Gilang mulai beraksi. Di lorong kiri aku mendengar Gilang bersama Kanaya sedang berbuat tidak mengenakkan. Jujur aku sangat kesal sekali. Akan tetapi Rizal menahanku agar tidak melangkah lebih jauh. Mau tidak mau Gilang menghubungi pasukannya untuk menangkap Gilang pada itu juga.