
"Kamu itu bertambah pusing saja kepalaku ini. Ternyata nggak masalahku saja yang rumit seperti ini. Masalah Herman juga sangat rumit," jawab Budiman yang menatap wajah Adinda sambil tersenyum.
"Masalah mana lagi sih yang rumit buatmu? Dapat cewek udah, nikah udah, tidur berdua sudah, makan sudah, apapun sudah semuanya. Tapi kenapa kamu pusing setengah mati seperti ini?" tanya Adinda sambil memegang tangan Budiman.
"Aku pusing ketika melihatmu tidak memakai baju di dalam kamar," bisik Budiman yang sengaja melepaskan Adinda lalu pergi meninggalkannya.
Jujur Budiman langsung pergi meninggalkan Adinda. Ia takut kena omel karena kejahilannya itu. Ia tidak menyangka akan mendapatkan ide gila untuk mengerjai Adinda dalam waktu hitungan beberapa detik.
Sedangkan Adinda hanya bisa tersenyum melihat ulah konyol sang suami. Adinda segera mengejarnya lalu menangkap Budiman sambil berkata, "Dasar Kakak sekarang omes."
"Kamu ngatain aku omes?" tanya Budiman sambil mengajaknya menuju ke area parkir.
"Memang kamu omes Kak," jawab Adinda sambil tersenyum manis.
"Meskipun aku omes. Kamu suka kan sama aku?" tanya Budiman.
"E... ee... Enggak," jawab Adinda dengan ragu.
Budiman langsung merangkul tubuh Adinda dan membisikinya. Dalam bisikan itu terdengar jelas apa yang dikatakan oleh Budiman. Adinda tersipu malu sambil memukul perut Budiman lalu menutup wajahnya. Ia tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata lagi.
Melihat Adinda tersipu malu, Budiman hanya bisa tersenyum meledek Adinda. Jujur Baru kali ini ia merasakan waktu kencan yang penuh dengan warna. Bahkan Adinda sendiri bisa menyalakan suasana menjadi lebih hidup.
"Kenapa ya nggak jadian sama kamu sedari dulu?" tanya Budiman.
"Aku nggak mau jadian sama kamu. Aku sudah tahu kelemahan kamu saat tidur. Aku sudah tahu semuanya tentang kamu. Makanya aku sedikit agak menyesali karena tidak mengajakmu pacaran," jawab Adinda yang membuat Budiman tertawa.
"Kamu itu ada-ada saja. Memang sedari dulu kita tidak boleh terpisahkan seperti ini. Yang namanya waktu belum jadian. Aku tidak menikmatinya menjadi manusia sempurna. Tapi belum sempurna deng," celetuk Budiman yang menatap wajah Adinda.
"Kita pulang ya?" tanya Adinda.
"Memangnya kamu belum capek?" tanya Budiman balik.
"Sudah capek. Aku tidak ingin berkeliling," jawab Adinda.
"Ya sudah kalau begitu ke apartemenku. Aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu. Aku tidak ingin ada gangguan dari siapapun," ucap Budiman.
"Terserah kamu," sahut Adinda yang membiarkan Budiman membawanya ke mana saja.
"Nurut sekali," ujar Budiman.
"Kalau nggak nurut berontak. Percuma berontak. Kan gak boleh menentang permintaan suami. Nanti ujung-ujungnya aku yang berdosa," kata Adinda.
"Ya sudah kalau begitu. Nanti malam kamu tidak boleh menolak ya," berisik Budiman sambil membuka pintu mobil.
"Ngapain nanti malam Bang?" tanya Adinda yang pura-pura tidak tahu.
"Kita praktek untuk mendapatkan banyak anak. Setelah itu kita bisa merawatnya bersama-sama. Jadi jika ada anak, kamu akan terikat sama aku seumur hidup," jawab Budiman sambil terkekeh dan menyuruh Adinda masuk ke dalam.
"Ternyata, kata-kataku ini akhirnya disalah artikan oleh Budiman. Aish... Kenapa ini bisa terjadi?" kata Adinda di dalam hatinya.
Budiman memutari mobilnya lalu masuk ke dalam. Budiman memiringkan tubuhnya sambil memegang tangannya Adinda. Lalu dengan senyumnya yang menawan. Budiman mulai memijit tangan Adinda sambil menatapnya dengan sayu.
"Din," panggil Budiman.
"Apa sih Bang?" tanya Adinda.
"Nggak usah ke pantai. Lebih baik ke pantai kapuk. Aku ingin tidur semalaman," ucap Adinda.
"Ngapain tidur semalaman? Bukankah rencana malam ini kita membuat adik bayi?" tanya Budiman yang mulai mengingatkan Adinda.
Plakkkkkkkkk!
"Dasar omes!" kesal Adinda yang membuat Budiman tertawa.
"Tapi kamu kan suka kalau aku omes seperti ini," ucap Budiman.
"Sak karepmu Bang. Ndang mulih ojok dolan ae," ajak Adinda dalam dialek bahasa Jawa.
Tanpa menjawab Budiman menyalakan mobil dan meninggalkan pusat perbelanjaan itu. Di dalam perjalanan mereka memilih diam dan tidak berbicara apapun. Adinda memilih untuk tidur sedangkan Budiman fokus dalam menyetir mobil.
Sementara itu para pengawal Gilang langsung mencari keberadaan keluarga Netty. Mereka sengaja disuruh untuk menyekap keluarga Netty. Mereka langsung menemukan rumah Netty lalu mengepungnya.
Setelah memberikan tugas, salah satu dari pengawal itu masuk ke dalam. Orang itu mencari keberadaan orang tua Netty. Beberapa saat kemudian ia menemukan keberadaan orang tua Netty. Orang itu langsung mengikat bapak Ibu Netty di kursi makan. Ibu bapak Netty ingin berteriak namun mulutnya sudah dibekap oleh obat bius. Mereka tersenyum sambil tertawa terbahak-bahak. Mereka membayangkan bonus besar dari Gilang yang akan diterimanya sekarang.
"Dasar orang tua tak tahu malu!" bentak salah satu dari mereka lalu tertawa.
Sejam berlalu Gilang datang dengan membawa surat-surat pengalihan rumah Netty. Kali ini Gilang yang sendiri merebut rumah itu dari sana.
Sebelum memalsukan tanda tangan sang pemilik rumah, Gilang langsung menghubungi Netty dan memberitahukan kalau kedua orang tuanya telah disekap. Gilang juga mengatakan akan memberi waktu selama tiga jam, agar Netty bisa merebut surat perjanjian tender itu dari tangan Adinda. Dia harus mengirimkan surat itu ke tangan Gilang secara langsung. Hal itu membuat Netty tidak bisa apa-apa dan langsung terdiam.
Netty yang baru saja mendapatkan telepon dari Gilang hanya bisa terdiam. Diam-diam Netty hanya bisa berdoa dan pasrah. Ia tidak akan mengambil berkas-berkas tersebut. Ia ingin menyelamatkan kedua orang tuanya. Namun apakah ia bisa melakukannya?
"Jika saja waktu bisa berputar, aku tidak akan meminjam uang puluhan juta ke Gilang. Aku sekarang bingung mau bayarnya bagaimana. Jika saja Adinda dan Kak Herman tahu. Maka habislah aku yang telah bekerja sama dengan Gilang," jawab Netty.
Hingga akhirnya Netty memberanikan diri untuk menghubungi Adinda. Namun Adinda tidak mengangkatnya sama sekali. Adinda sedang tidur dan tidak mempedulikan ponselnya sedang berdering.
Masalah semakin runyam. Gilang terus saja menghubunginya. Ia akhirnya menghubungi Herman dan memberanikan diri untuk meminjam uang. Herman pun bertanya lebih lanjut tentang uang itu. Namun Netty tidak bercerita kepada siapa uang itu diberikannya. Dengan akal cerdiknya, akhirnya Herman terus saja menanyakan hal yang sama. Mau tidak mau Netty mengatakan kalau uangnya untuk membayar hutang ke Gilang.
Mendengar nama Gilang, Herman langsung murka dan mematikan ponsel tersebut. Ia tidak ingin menghubungi Netty saat ini juga. Ia tidak menyangka kalau Netty memiliki hutang kepada Gilang. Rasa marah bercampur menjadi benci sekarang di dalam hati Herman. Seharusnya Netty bercerita Ada apa sebenarnya tentang masalah uang itu? Kenapa dirinya tidak terbuka soal finansialnya yang sedang memburuk kala itu?
Hormon yang baru saja mendapatkan telepon dari Netty hampir saja membanting ponselnya. Ia tidak menyangka kalau sang calon istrinya itu sudah berani melakukan hal yang tidak wajar. Contohnya ia meminjam uang dengan jumlah yang besar lalu dikirimkan ke rekening Gilang. Bukannya Herman tidak menolongnya. Herman tidak mau berkhianat kepada sang kakak maupun kedua keponakannya itu.
"Duh... Habislah gue. Nasib kedua orang tua gue gimana. Gilang sudah merebut rumah gue. Jika saja aku tidak mendapatkan tender itu. Maka kedua orang tuaku tidak akan selamat. Aku harus mencari cara agar mendapatkan berkas-berkas itu. Tapi kenapa Adinda sangat pandai sekali untuk melakukan penempatan berkas-berkas itu di suatu tempat yang tidak bisa aku jangkau. Pak Herman sudah tidak mau menolong ku lagi. Lalu bagaimana dengan nasibku? Apakah aku harus menghubungi salah satu pelayan di sana untuk mencari keberadaan berkas-berkas tender tersebut. Jika sudah kudapatkan, Ayah ibuku tidak akan disekap seperti ini," jelas Netty.
"Mencari cara yang tidak tepat Sama saja bunuh diri. Aku harus mengambil surat-surat itu. Ya aku harus berani mencuri surat-surat itu. Semoga saja keluarga Adinda tidak ada di tempat," ucap Netty yang penuh dengan percaya diri.
Akhirnya Netty memberanikan diri untuk datang ke rumah Adinda. Ia memiliki tekad yang sangat bulat sekali untuk mencuri berkas-berkas tersebut. Ia tidak memperdulikan kalau dirinya dipenjara. Karena Netty sendiri sudah masuk dalam bahaya besar.
Netty akhirnya keluar apartemen demi mencari mobil yang bisa membawanya ke rumah Adinda. Sedangkan Adinda yang tertidur tiba-tiba saja bangun dan melihat jalan yang sedang macet. Lalu Adinda meminta Budiman agar kembali ke rumah.
"Lebih baik kita pulang ke rumah deh," ajak Adinda.
"Sudah setengah perjalanan Din? Sebentar lagi kita akan sampai ke apartemenku," ucap Budiman.
"Kalau begitu aku berhenti di sini ya. Aku akan pulang ke rumah memakai jasa online saja," pamit Adinda.
"Memangnya ada apa sih?" tanya Budiman.