
"Enak saja kamu telah menuduhku yang nggak-nggak. Ayo ma kita pergi dari sini. Aku nggak mau disalahkan sama orang ini," ajak Adinda ke Kamila sambil melirik Budiman dan mengejeknya.
Dengan berat hati, Budiman akhirnya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Jujur saat ini Budiman kalah telak dari Adinda.
"Bener-bener tuh istriku. Ternyata dia sangat licik sekali. Lebih licik daripada Kanaya. Tapi aku benar-benar sangat bahagia karenanya. Pertama kalinya aku melakukan di kamar pribadiku sendiri. Walau hanya satu ronde saja," ucap Budiman dalam hati sambil berteriak kegirangan.
Ketika Kamila dan Adinda memasuki pendopo, terdengar suara adzan di masjid ujung jalan sana. Mereka bersiap-siap untuk melaksanakan sholat berjamaah. Tak lama Budiman datang dengan memakai baju koko dan sarung. Budiman juga membawa sajadah, tasbih dan kopiah. Adinda yang melihat Budiman sangat berbeda. Bahkan Budiman kali ini sangat tampan sekali.
Beberapa saat kemudian datanglah para pelayan. Mereka juga melaksanakan sholat magrib bersama-sama. Kamila memang memungkinkan sholat berjamaah. Hingga kesenjangan sosial diantara mereka telah hilang. Keluarga Budiman adalah keluarga yang sangat menghormati wong cilik. Tidak tanggung-tanggung seluruh karyawan maupun para pelayan lainnya sering diberikan bonus dadakan. Itulah keluarga Budiman sesungguhnya.
Di kediaman Adinda, Herman merasa gelisah. Ia memijit keningnya sambil menatap kopinya yang masih panas. Bahkan dirinya tidak sadar kalau ada Tio dan Faris datang.
"Lu kenapa bro?" tanya Tio yang menghempaskan bokongnya di sofa single.
"Gue lagi bingung sekarang ini. Masalahnya gua mau mutusin Netty. Soalnya gue nggak mau lanjutin kisah cinta ini lagi," jawab Herman yang menatap wajah Tio dan juga Faris.
"Lah kenapa lu? Biasanya lu ngebet pengen nikah dan menyuruh Kak Malik mencarikan hari baiknya," tanya Tio.
"Masalah sekarang sangat berbeda dengan yang dulu. Gua baru sadar kalau Netty itu bukanlah orang baik. Perjalanan kami selama lima tahun tidak membuahkan hasil apa-apa," jawab Herman dengan blak-blakan.
"Tahu kalau Netty itu adalah temannya Adinda?" tanya Tio lagi.
"Justru itu gue nggak bisa menebak hubungan ini. Gue nggak tahu apa yang harus dilakukan. Gue nggak mau semuanya setelah menikah hancur berantakan. Jujur saja, gue nggak bisa menebak apa yang terjadi pada Netty untuk saat ini," jawab Herman.
"Ya nggak gitu kali. Lu pacaran lama sama dia. Tapi lu minta putus begitu saja. Terus masalahnya apa? Padahal lu sendiri sudah tunangan beberapa bulan yang lalu," tanya Tio sekali lagi agar mendapatkan jawaban yang valid.
"Jangankan teman gue. Gue juga merasa kalau Netty itu ada yang disembunyikan. Sepertinya gue akan meminta Irwan untuk mencari informasi tentang Netty. Ketimbang gue sama Om Herman penasaran seperti ini," jelas Faris.
"Ngapain juga lu minta sama Irwan? Irwan berangkat ke Surabaya tadi pagi. Irwan lagi mengejar pelaku pembunuhan di Jakarta Timur. Lu manggil dia pun nggak bisa," ucap Tio.
"Terus gue manggil Adinda gitu? Bisa-bisa Budiman ceramah panjang kali lebar kali tinggi selama tiga jam ke depan?" tanya Faris.
"Iya Ris... Tio memang bener. Kenapa lu nggak minta tolong sama Tio saja? Irwan lagi tugas begitu juga dengan Roni. Mereka berdua lagi collabs untuk mengejar pelaku yang sama. Terus Adinda juga you know lah... Budiman sekarang lagi deket-deketnya Sama Adinda. Sekali lo suruh semuanya bisa hancur berantakan. Minta tolong saja sama Tio sana. Atau juga sama Pak Malik. Kak Malik diam-diam memiliki title hacker terkejam di dunia," jawab Herman.
"Mumpung masih sore jalan yuk. Gue pengen nyari sesuatu di toko buku," ajak Faris.
"Ah kebiasaan lu. Pasti lu lagi ngejar komik-komik anime Jepang kan?" tanya Tio yang paham dengan kebiasaan Faris.
"Selama gue di London. Gue nggak pernah membeli komik-komik seperti itu. Padahal di aplikasi belanja online banyak sekali menawarkan diskon-diskon khusus. Aku nggak puas jika nggak milih sendiri. Nanti gue traktir makan malam,," jawab Faris yang sengaja mengajak mereka keluar.
"Kalian nggak mau ngajak gue ya?" tanya Malik sambil masuk ke ruangannya itu.
"Istriku berada di restoran sampai tutup. Biasa sudah mau akhir bulan. Jadi dia sedang menyetok bareng-bareng untuk penutupan bulan dan seminggu kemudian," ucap Malik sambil ngerayu mereka untuk ikut.
"Kenapa kita nggak mengajak Adinda dan Budiman? Lebih seru tuh kayaknya," tanya Faris.
"Oh iya... Kemarin kan ada peluncuran film Fast and Furious seri ke sembilan. Itu kan film favoritnya Adinda. Dari seri satu sampai seri delapan. Gimana kalau kita menghubunginya dan melihat bareng-bareng. Lumayan kan nonton film action dan kejar-kejaran bareng Adinda," jawab Tio yang memberikan saran kepada Faris.
"Apakah mereka akan bermesraan seperti biasanya kalau di rumah?" tanya Faris.
"Ya nggaklah. Ngapain mereka bermesra-mesraan seperti itu? Lagian mereka tahu diri kok. Mana tempat tertutup dan mana tempat yang terbuka. Begitu juga dengan Budiman. Budiman paling jijik sekali kalau memamerkan kemesraan di depan orang. Ya bisa dikatakan Budiman itu orangnya tertutup jika masalah asmara," jelas Tio.
"Kita nonton di mana memangnya?" tanya Herman.
"Nonton di Jaksel aja. Lu tahu bioskop di sana ada yang nyaman sekali. Tempatnya lebar dan layar bioskopnya sangat besar sekali. Apalagi sound systemnya sangat gila sekali," jelas Faris.
"Oke setuju. Lagian rumahnya Budiman berada di sana. Terus ibumu juga berada di sana. Jadi apa salahnya kita mengajak mereka," celetuk Malik.
"Kenapa juga kita nggak mengajak Ibu Kamila? Kalau kita mengajak Adinda sama Budiman. Ibu Kamila sangat kesepian sekali di rumah. Diam-diam Ibu Kamila sangat menyukai film action," pinta Tio.
"Jadi kalian mengajak bu Kamila agar Adinda ada temennya?" tanya Malik.
"Iya Kak. Nda sama Pak Kartolo sedang mengadakan perjalanan bisnis hingga beberapa hari ke depan. Jadinya Adinda diminta untuk tinggal di sana untuk sementara waktu," jelas Tio.
"Kalau gitu ajak saja ibu. Biar ibu dan mama Kamila lebih akrab untuk menjalin hubungan perbesanan ini. Agar mereka bisa menjalin kerukunan dan biar menjadi contoh untuk masyarakat," pinta Faris yang memberikan ide kepada Malik.
"Kenapa juga gue nggak terpikirkan soal itu ke sana?" tanya Malik yang baru sadar pada permintaan Faris. "Hubungi saja mereka agar berkumpul di tempat biasa. Kita akan menyerbu pusat perbelanjaan itu rame-rame."
"Baiklah aku setuju," balas Herman yang meraih ponselnya untuk menghubungi Budiman.
Beberapa menit telah berlalu. Herman sudah menghubungi Budiman. Herman menceritakan ide untuk melihat film beramai-ramai. Apalagi film itu adalah film favoritnya Adinda. Budiman sangat senang sekali. Budiman langsung menyetujui dan mengajak Adinda mencari Kamila.
"Mereka setuju untuk melihat film bareng-bareng. Bukankah ini adalah waktu terbaik untuk menyatukan dua keluarga sekaligus?" tanya Herman.
"Iya itu benar. Kalau begitu kita berangkat saja. Kita kan rumahnya jauh. Kalau Budiman sangat dekat dari pusat perbelanjaan itu," ajak Malik yang berdiri meninggalkan mereka untuk bersiap-siap.
"Ada yang sangat bagus sekali. Aku berharap Ibu dan mama nggak saling bermusuhan. Aku berharap menyatukan kekuatan untuk melawan Gilang. Aku tahu Mama Kamila sedang terjepit karena Gilang," ucap Faris dengan jujur.
"Apa itu benar?" tanya Herman yang terkejut atas pernyataan sang keponakannya itu.