
Selesai berpamitan dari Herman, Budiman langsung mengajak Adinda pergi. Budiman tidak akan takut dengan ancaman Adinda. Karena Adinda sendiri sudah mengklaim Budiman adalah miliknya.
Sedangkan Adinda hanya bercanda saja. Ia tidak akan membuat pasangannya menderita di sisinya. Ia ingin hidupnya bersama Budiman bahagia untuk menjalankan rumah tangga.
Sesampainya di pusat perbelanjaan, Adinda bingung harus membeli apa? Sementara itu Budiman memberikan kartu atm-nya di tangan Adinda. Budiman meminta Adinda untuk berbelanja apapun yang diinginkannya. Jujur saja Adinda bingung dengan apa yang diminta oleh Budiman.
"Kamu nggak mau beli sesuatu? Baju atau apa? Biasanya perempuan lebih suka boneka besar," tanya Budiman.
"Aku bingung mau beli apa? Aku sendiri bukan pecinta belanja gila-gilaan seperti wanita lainnya. Bahkan untuk hidupku sendiri tidak banyak mengeluarkan uang ketika satu bulan penuh. Atau aku akan membeli peralatan atau perlengkapan yang akan dibawa ke London ya?" tanya Adinda balik.
"Terserah apa mau kamu. Belanjalah sesukamu. Aku tidak akan membelenggumu untuk belanja apapun itu," jawab Budiman yang membuat Adinda paham.
Adinda mulai berpikir dan mencari barang-barang yang akan dibawa ke London. Ia sangat bingung sekali apa yang dibelinya itu. Pelan-pelan Adinda masuk ke dalam toko satu ke toko lainnya. Ia tidak menemukan apapun yang dicarinya. Hal ini membuat Budiman menjadi bingung. Padahal Budiman sendiri mengajak ke toko barang-barang mewah.
"Ada yang kamu temukan?" tanya Budiman.
"Tidak sama sekali. Jujur aku bingung harus mau beli apa? Sedangkan di rumah sudah ada semuanya," jawab Adinda yang tidak ingin menghabiskan uang Budiman.
"Ya kamu harus beli sesuatu. Siapa tahu nanti berguna di London," ucap Budiman.
"Ya nggak gitu kali. Aku bukan tipe orang yang suka belanja banyak. Aku lebih suka mencicil barang-barangku. Kalau di London, aku sudah menemukan toko yang bisa dikatakan barang itu sangat lengkap bersama dengan harganya yang murah. Untuk saat ini aku belum bisa membeli apapun," jelas Adinda yang memberikan kartu itu kepada Budiman.
Sungguh luar biasa hati Adinda. Budiman baru sadar kalau sang istri bukanlah tipe wanita suka belanja. Bahkan barang-barang berada di kamarnya adalah barang-barang jadul. Hal ini berbanding terbalik sama Kanaya.
Sebelum mengajak Adinda ke rumahnya, Budiman menghubungi sang adik dan menceritakan isi kamarnya itu. Tentu saja Andara mengetahui semuanya. Andara bercerita kalau barang-barang yang dimiliki oleh Adinda adalah barang masa kecilnya. Ia tidak akan membuang barang itu kecuali jika sudah rusak. Menurut Andara, Adinda sendiri adalah orang yang memakai barang dengan awet. Hanya make up saja yang Adinda beli selama sebulan sekali.
"Kamu itu sangat aneh sekali bagiku. Bisa-bisanya kamu nggak mau belanja sama sekali. Pokoknya kamu simpan ATM ku ini. Kamu bisa pakai kapan saja. Bahkan membeli mobil pun aku persilakan semuanya," ucap Budiman sambil meraih tangan Adinda.
"Kalau aku nggak mau gimana?" tanya Adinda.
"Jadi perempuan jangan terlalu mandiri. Kamu sekarang sudah memiliki suami," protes Malik yang dari tadi melihat Adinda dari belakang.
"Ayah," seru Adinda.
"Jangan begitu ah. Budiman tulus membelikan barang apapun untukmu. Kalau kamu nggak mau beli barang apa-apa. Kamu terima itu kartu ATM. Kamu simpan kartu itu di dompetmu. Jangan buat suamimu kecewa," pesan Malik lalu meninggalkan Adinda.
"Ayah," panggil Adinda namun Malik sudah menjauh darinya.
"Yang dikatakan ayahmu benar. Kamu nggak seharusnya hidup mandiri seperti ini. Uang yang kamu dapatkan bisa ditabung. Kamu juga bisa memakainya untuk membeli apapun. Kalau di ATM itu Aku akan memberikanmu uang bulanan dan juga uang jajanmu. Anggap aku sebagai pria berguna di matamu," jelas Budiman yang menaruh ATM itu di tangan Adinda.
"Ya sudah kalau begitu. Aku akan menyimpannya untukmu. Suatu hari nanti uang ini berguna untuk kita di masa tua," ucap Adinda.
"Itu terserah kamu. Sekarang ayo kita berkeliling lagi. Kejadian tadi pagi lupakanlah saja. Soal Netty biarkanlah saja dia. Kamu bisa menegurnya dan memberikan surat peringatan. Atau kamu bisa lempar ke perusahaanku yang lainnya," ujar Budiman yang menggenggam tangan Adinda lalu pergi meninggalkan toko itu.
"Terserah kamu deh. Aku hanya menurutmu saja. Tapi aku mohon jangan kamu terima sebagai karyawan di perusahaan manapun. Aku tahu dia nanti akan membuat ulah di sana. Apalagi dia sudah berhubungan dengan Gilang. Nanti akan ada bencana di perusahaan itu," jelas Adinda yang meminta Budiman agar tidak menerima Netty begitu saja.
"Itu terserah kamu. Kamu sekarang sudah menjadi Nyonya aku. Mau tidak mau aku harus menurutimu. Kalau begitu kita makan yuk," ajak Budiman.
Adinda pun menuruti Apa keinginan Budiman. Akhirnya Budiman mengajaknya ke sebuah restoran. Sepasang suami istri tersebut sangat bahagia sekali. Meskipun hanya berkeliling di pusat perbelanjaan, mereka merasakan kencan tanpa harus dengan biaya mahal. Budiman tidak menuntut apapun dari Adinda untuk menghabiskan uang. Memang beda di mata Budiman antara Kanaya maupun Adinda.