Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 94



"Sebenarnya aku nggak malu sama kamu. Kamu tahu kalau aku di sana memiliki usaha kecil-kecilan. Aku mendapatkan uang banyak dari usaha tersebut. Aku akan kembali ke usahaku dan berencana untuk memasukkannya ke dalam Njawe Group. Untuk saat ini papa belum mengetahuinya," jawab Budiman yang membenarkan posisi duduknya.


"Usaha apa itu?" tanya Adinda yang sangat penasaran sekali.


"Di sana Aku memiliki usaha restoran masakan Indonesia. Kamu tahu kan kalau aku ini orangnya suka makan," jawab Budiman.


Adinda sangat terkejut sekali mendengar jawaban Budiman. Memang benar Budiman sudah memiliki penghasilan sendiri bukan dari perusahaan keluarganya. Akan tetapi Budiman sengaja menutupi usahanya itu. Ketika Adinda mencari informasi tersebut. Bisa dikatakan Budiman di sana orangnya sangat mandiri sekali.


"Kamu serius memiliki restoran di Inggris?" tanya Adinda yang mulai curiga kepada Budiman.


"Iya, aku memilikinya. Aku sudah membuka beberapa cabang di berbagai daerah. Aku sengaja menyembunyikan ini demi kelangsungan masa depanku. Karena aku di sana benar-benar mandiri sebagai seorang pria yang suka bekerja keras," jawab Budiman.


"Apakah Kak Tio tahu soal itu?" tanya Adinda yang sangat penasaran sekali.


"Justru aku sengaja mendirikan itu bersama Tio. Dan Tio tutup mulut akan hal itu. Aku sudah mengancamnya. Karena aku sengaja untuk mandiri. Pasti kamu nggak tahu banyak orang yang mengatakan, Aku ini orang yang tidak mandiri sama sekali. Bahkan mereka menganggapku sebagai pria tidak bisa apa-apa. Makanya saat aku menawarkan kamu ke Maldives. Aku akan memakai uang itu. Aku tidak main-main mengajakmu ke Maldives," jelas Budiman.


"Sebenarnya nggak ada yang salah sama kamu. Kamunya sih nggak mau cerita. Biar mereka tahu dan kamu bisa membungkam ejekannya. Kamu itu potensinya sangat besar sekali untuk menjadi pria mandiri. Kamu itu adalah pria kuat. Memang pertama aku melihatmu. Kamu adalah pria manja. Tapi aku sudah menelusurinya satu persatu dan mengatakan kalau kamu adalah pria yang memiliki prinsip hidup. Yang dimana tidak semua orang tahu tentang prinsip hidupmu itu. Termasuk aku sekalipun. Kalau kamu mengajakku kenapa tidak. Aku akan menerimanya dengan senang hati," jelas Adinda yang mau menerima hadiah tersebut.


Budiman sangat bangga ketika Adinda telah mengakuinya. Memang tidak semudah itu yang ia dapatkan. Banyak sekali cibiran-cibiran dari masyarakat tentang dirinya. Bahkan mereka juga telah meragukan kualitas Budiman saat memimpin perusahaan. Namun Budiman telah membuktikan kalau dirinya bisa. Budiman sendiri sudah mandiri semenjak SMP. Diam-diam ia sudah memiliki bisnis bersama teman sekolahnya itu. Yang dimana ada Faris turut membantu Budiman.


Jujur, ketika Adinda melihat performa Budiman. Adinda tidak yakin sama sekali. Ditambah Budiman saat itu tergila-gila pada Kanaya. Namun Budiman mengatakan dengan jujur tentang potensi dirinya. Bahkan Adinda tercengang ketika mengetahui usaha Budiman di Inggris. Secara tidak sadar Adinda mendapatkan informasi tersebut.


Yang dikatakan Budiman itu memang benar. Banyak sekali perkataan-perkataan yang tidak mengenakkan tentang Budiman. Soal kualitas dan performa Budiman masih diragukan. Karena perusahaan yang dimiliki keluarganya itu adalah perusahaan besar. Bisa dikatakan perusahaan itu sudah mendunia.


Adinda akan terus memacu semangat Budiman untuk membuktikan ke semua orang. Ia tidak ingin melihat sang suami menjadi bahan ejekan dan konsumsi untuk semua orang.


Jangankan Budiman, Adinda saja sering mendapatkan perlakuan seperti itu. Apakah karena wajah Adinda masih terlalu imut? Ataukah Adinda memiliki jiwa belanja habis-habisan. Namun Adinda hanya bisa tertawa mendengar semua itu. Adinda tidak memperdulikannya dan malah mengacuhkan mereka. Adinda memilih berkarya untuk membangun perusahaannya itu semakin besar. Untung saja keluarga Adinda sendiri tidak mengambil pusing soal itu. Mereka memberikan support kepada Adinda agar tidak down.


Setelah menandatangani surat perjanjian itu, Budiman memang sengaja menahan Adinda. Adinda sudah berkirim pesan kepada sang kakak yaitu tidak akan kembali lagi ke kantor. Faris sudah mengetahui akan hal itu. Faris sudah memprediksinya dan membiarkan Adinda tetap di sana.


Faris tahu, perlahan Budiman mau menerima Adinda apa adanya. Ketika awal mengetahui tentang pernikahan sang adik bersama temannya itu, hati Faris tercabik-cabik. Ia tidak mau melihat sang adik menderita karena ulahnya. Akan tetapi semakin ke sini Budiman sangat posesif sekali kepada Adinda. Jadi ia bisa merelakan adiknya untuk hidup bahagia bersama sahabatnya itu.


Di tempat lain seorang pria masih sangat muda kedatangan salah satu pengawalnya. Sebelum berbicara pria itu membungkukkan badannya lalu menyapa, "Selamat pagi Tuan Gilang."


"Ada berita apa hari ini?" Tanya Gilang dengan penuh amarah.


"Maaf tuan ini berita yang sangat penting sekali. Nyonya Kanaya pergi ke kota Paris. Di sana Nyonya Kanaya sedang berlibur sama pria lain. Yang pasti bukan Budiman. Pria itu berkebangsaan Afrika tengah. Disana beberapa mata-mata telah mengintai. Nyonya Kanaya sedang memadu kasih di hotel bersama pria itu," jelas sang pengawalnya.


"Apa?" pekik Gilang.


"Itu benar tuan," jawab pria itu.


"Pergilah!" usir Gilang.


Selesai mendengar pernyataan dari pengawal tersebut, Gilang langsung mengamuk. Ia tidak menyangka kalau Kanaya telah berkhianat dengannya. Ia menghubungi seseorang untuk memata-matai Kanaya. Apakah benar Kanaya telah berkhianat di belakangnya? Bukankah selama ini semua fasilitas telah diberikannya dengan cuma-cuma?


Ya... Gilang sengaja memberikan fasilitas tersebut dengan cuma-cuma. Memang sedari dulu Gilang tergila-gila dengan Kanaya. Tapi Gilang sangat licik sekali. Gilang mengetahui kalau Kanaya sudah menyukai Budiman terlebih dahulu. Gilang memang sengaja menyuruh Kanaya untuk melakukan aksi balas dendamnya. Ia memberikan waktu tenggang untuk memiskinkan Budiman. Akan tetapi Budiman sampai saat ini tidak miskin juga. Gilang meminta Kanaya agar diberikan tas-tas mewah bahkan mobil mewah kepada Budiman. Kanaya pun berhasil melakukannya. Dengan berbagai cara, Kanaya sudah mengambil sebagian aset milik keluarga Budiman.


Dengan kata lain Kanaya bekerja sama agar seluruh aset tersebut jatuh ke tangannya. Namun dirinya tidak mampu. Di balik aset Budiman, ada Herman Santoso. Pria inilah yang sudah mendaftarkan aset tersebut ke negara. Agar di kemudian hari tidak ada yang mampu mengakuinya dan merebutnya secara paksa. Kecuali aset itu telah diturunkan kepada orang lain bukan dari keluarganya sendiri. Itulah perjanjian yang telah ditulis oleh keluarga Budiman.


"Sialan kamu Kanaya! Mulai saat ini aku akan mencabut seluruh fasilitas yang telah kuberikan ke keluargamu itu! Seluruh paspor Yang telah kuberikan akan aku bekukan. Apartemen yang berada di Inggris itu setelah ini kujual. Kamu sekarang sudah tidak berhak mendapatkan apapun dariku!" geram Gilang sambil mengepalkan kedua tangannya dan memukul meja.


Gilang sengaja keluar dari ruangannya lalu menuju ke ruangan asistennya. Di sana Gilang mengutus sang asisten untuk menjual beberapa aset yang diberikan Kanaya ke bank. Jujur Gilang sudah tidak memperdulikan dengan keadaan Kanaya. Apalagi saat ini Kanaya memiliki Ayah sedang dirawat di rumah sakit. Gilang akan mencabut dan melemparkan Ayah Kanaya ke jalanan.


Sang asistennya pun menurutinya. Tanpa banyak bicara sang asisten langsung mengerjakan tugas-tugasnya. Gilang akhirnya kembali ke ruangannya dan menyuruh seseorang menyiapkan jet pribadinya untuk ke Paris. Kali ini Gilang tidak akan membiarkan Kanaya bisa hidup bahagia. Ia juga akan membuat Kanaya hidup menderita selamanya.


"Kamu harus menerima semuanya ini Kanaya! Kamu nggak seharusnya berselingkuh dari aku! Aku hanya menyuruhmu untuk membuat Budiman menderita! Tapi kenapa kamu melakukannya dengan orang lain? Sekarang Aku sudah tidak memperdulikanmu lagi. Kamu harus merasakan akibatnya setelah ini!" titah Gilang di dalam hatinya.


Cukup sudah kisah asmara gilang untuk saat ini. Wanita yang diharapkannya untuk dijadikan teman hidup telah berselingkuh. Memang benar apa yang dikatakan oleh orang-orang. Kalau Kanaya adalah wanita bermuka dua dan pandai bersilat lidah. Ditambah lagi Kanaya memiliki tutur kata seperti ular.


Sakit itu yang dirasakan Gilang untuk saat ini. Hatinya ternyata terbelah menjadi dua. Ia memutuskan untuk menggugat cerai Kanaya saat ini juga.