
Seketika Adinda sangat terkejut sekali. Ia menoleh ke arah Budiman sambil tersenyum manis. Ketika pintu liftnya terbuka, Budiman mengajak Adinda masuk. Adinda memutuskan untuk tidak bercerita sama sekali.
Sesampainya di kantai atas, mereka langsung masuk ke dalam ruangan milik Kartolo. Mereka langsung menghadap dan memberikan sapaan yang penuh hangat.
"Pa," panggil Budiman.
"Hey... selamat... kamu masih menjadi CEO dari perusahaan dari Njawe Group," ucap Kartolo yang memberikan selamat kepada Budiman.
"Sebenarnya aku sendiri tidak berharap banyak untuk menjabat lagi. Bahkan aku sendiri ingin mengundurkan diri dari jabatan ini," ujar Budiman ang secara terang-terangan.
"Data-data penjualan kaleng selama kuartal pertama dan kedua telah dimanipulasi oleh beberapa karyawan kamu. Mereka sengaja diberikan imbalan sama Gilang dan juga Netty. Jadi yang tadi dibuat rapat adalah palsu," jelas Kartolo.
"Apa?" pekik Adinda.
"Ya itu benar Din. Herman sudah membongkar kejahatan Gilang demi mendapatkan jabatan CEO di tempat ini," jawab Kartolo.
"Hmmmp.... ini sangat lucu sekali. Aku merasa ada udang dibalik batu. Makanya nenek tua itu ngotot ingin melengserkan Kak Budiman," ucap Adinda.
"Tapi kamu harus berhati-hati. Gilang dan sekeluarga tidak akan tinggal diam. Mereka akan memakai segala cara agar Budiman melakukan kesalahan fatal," sahut Kamila.
Mata Adinda membulat sempurna mendengar pernyataan dari Kamila. Bagaimana Kamila tahu? Jika Budiman dalam bahaya besar.
"Sebentar ma," ucap Adinda. "Darimana mama tahu kalau Bapak Budiman dalam bahaya? Apakah mama memakai mata-matanya untuk mengikuti mereka?" tanya Adinda.
"Semua orang tahu tentang Gilang. Jika kalah pasti akan melakukan hal-hal yang di luar nalar. Itu semua sudah terbaca dari pola pikir di dalam otaknya,' jelas Kamila yang mengetahui tentang keluarga Gilang.
"Benar juga sih. Kok aku baru sadar ya?" tanya Adinda.
"Mama dan papa menyuruh kamu untuk berhati-hati. Sebentar lagi Gilang akan menyerang," jawab Kartolo.
"Baiklah pa. Kami akan berhati-hati. Terima kasih ya atas peringatannya," kata Adinda yang tersenyum manis.
"Habis gini akan ada investor baru untuk perusahaan kita," sahut Budiman
"Sepertinya itu kabar baru. Ya sudahlah kami akan pulang sekarang," pamit Kartolo.
"Ngapain kalian pulang dengan cepat?" tanya Budiman sambil memprotes mereka.
"Karena kami sangat lelah menghadapi sidang ini," jawab Kamila.
"Kami akan pergi ke Singapura," ujar Kartolo.
Adinda langsung menyenggol Budiman. Ia tidak menyangka kalau Budiman banyak sekali protesnya. Ia hanya menggelengkan kepalanya sambil menghela nafasnya dengan kasar.
Melihat Budiman yang disenggol oleh Adinda, Kartolo tersenyum kocak. Ia tahu kalau dirinya sedang mendapatkan protes dari sang putra. Sebelum Budiman menikah, ia pasti mengajaknya pergi. Walau itu harus ke luar negeri.
"Kenapa sih kamu kebanyakan protes seperti itu?" tanya Kartolo sambil menatap wajah Budiman. "Bukankah kamu sudak memiliki seorang perempuan yang mengajakmu tidur bersama di waktu malam hari?"
"Papa!" protes Budiman.
"Kan benar apa yang dikatakan oleh papa. Tuh perempuan kamu itu," tunjuk Kamila ke arah Budiman.
"Dia Adinda pa. Bukan perempuanku. Tapi dia adalah istriku," ucap Budiman yang sedikit ngambek melihat sang papa.
"Terserah kamu saja," ejek Kartolo. "Oh... iya papa di Singapura menghadiri acara pernikahan sepupumu itu yang bernama Albert. Papa harap kamu kesana."
'Kalau aku enggak datang kesana?" tanya Budiman.
"Masa kamu enggak datang sama sekali? Kamu harus kesana bersama Tio dan Andara. Dan tidak lupa juga mengajak Andara," jawab Kamila yang menyuruh Budiman kesana.
"Oh... berarti besok saja kesana," ucap Budiman sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
"Ya... Tio sudah mengosongkan jadwal kamu selama tiga hari ke depan. Jangan sampai enggak datang," ancam Kartolo.
"Baiklah kalau begitu. Kami akan datang," balas Budiman. "Din."
"Apa kak?" tanya Adinda yang sedari tadi memegangi mawar merah milik Kamila.
"Ayo kita pergi. Tio sudah memperingatkan kita untuk segera menemui investor itu," jawab Budiman yang mengajak Adinda.
Adinda menganggukan kepalanya tanda setuju. Sebelum pergi dari ruangan itu, Adinda berpamitan kepada mereka. Mereka mengizinkan dan memberikan restu. Biar pertemuan ini sukses.
Mereka akhirnya pergi meninggalkan perusahaan untuk menuju ke restoran yang sudah ditunjuk sama Tio. Di dalam perjalanan, Budiman menyetir dengan santai. Sesekali mobil yang ditumpangi mereka berhenti karena adanya lampu merah yang sedang menyala.
"Maafkan papaku kalau bercanda sudah keterlaluan," ucap Budiman yang tidak ingin Adinda tersinggung sama sekali.
"Kenapa kamu meminta maaf sama aku? Aku tidak marah sama kamu. Aku sudah terbiasa mendengar candaan papa Kartolo," ujar Adinda yang membuat Budiman menganggukan kepalanya.
"Jadi kamu tahu sifat papaku bagaimana?" tanya Budiman.