
“Aku tidak memiliki sifat itu Bu. Aku memang jarang sekali berbicara jika tidak ada perlunya,” jawab Budiman dengan jujur.
“Memang benar Kak apa yang dikatakan Budiman. Dia jarang sekali berbicara kepada orang asing. Kecuali sama klien baru dia berbicara. Kalau menurut kami semuanya adalah hal yang lumrah. Jadi kami tidak mempermasalahkannya. Kecuali Andara. Andara memang orangnya sangat cerewet sekali dan mengasyikkan untuk dijadikan seorang teman. Jika jarang ke rumah, aku selalu mengirimkan pesan agar ke rumah. Nggak ada dia rumah jadi sepi,” kata Herman secara blak-blakan.
“Memang benar sifat anak laki-laki dan perempuan itu berbeda. Laki-laki cenderung sangat pendiam dan irit sekali berbicara. Kalau anak perempuan sangat ramai sekali. Bahkan saking ramenya, rumah tidak akan sepi lagi,” puji Ibu Lidya.
“Tapi nggak juga Bu. Kalau di rumah memang kami sering share dan membicarakan apa yang telah terjadi di dunia ini. Bahkan Paman Herman, Kak Faris maupun ayah sering nimbrung menjadi satu. Jadinya kami sering bercanda habis-habisan,” jelas Adinda.
“Seandainya saja Ibu bisa memiliki anak perempuan. Rumah ini tidak akan kesepian lagi,” ucap Ibu Lidya yang menatap langit-langit rumah.
“Ibu nggak boleh berkata seperti itu. Ibu adalah wanita tangguh buat kami. Bahkan ibu sendiri memiliki jiwa yang hangat. Ibu sudah ada Kak Andra dan kami. Maafkan kami Bu jika banyak pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Kami sering-sering kok main ke rumah ibu. Soalnya kami juga sangat rindu Ibu. Tenang saja Bu. Nanti aku akan ajak Andara dan juga Kak Tio datang ke rumah,” ucap Adinda yang mengetahui kesedihan Ibu Lidya.
“Yang penting Kalian sehat dan tidak ada kekurangan satupun. Kamu sudah menikah Din dengan Budiman. Ibu tidak menyangka, kalau dulu Ibu sering menggendong dan mengajakmu bermain bersama-sama. Sekarang kamu menjadi seorang wanita dewasa. Yang mengerti banyak pekerjaan dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata,” jelas Ibu Lidya.
“Sebenarnya pernikahanku ini adalah pernikahan paksa. Tapi aku sendiri tidak mempermasalahkannya. Misi membuat Kak Budiman menjadi baik sudah terlaksana. Ibu tenang saja. Aku akan baik-baik saja bersama Kak Budiman,” ucap Adinda.
“Ibu doakan semoga kamu mendapatkan momongan dengan cepat. Ibu yakin kalau kamu adalah wanita yang sangat lembut sekali. Meskipun kamu memiliki jiwa barbar,” puji Ibu Lidya sambil meledek Adinda.
“Aku menjadi barbar kan gara-gara Paman Herman dan Kak Faris. Mereka mengajariku untuk berbuat yang aneh-aneh dan di luar nalar seorang perempuan. Masa Paman Herman menyuruhku memanjat pohon mangga yang di sana,” kesel Adinda sambil menunjuk pohon mangga yang berada di pojokan rumah.
Ibu Lidya seketika tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian masa kecil Adinda. Memang benar apa yang dikatakan oleh Adinda. Seorang anak perempuan malah disuruh naik pohon. Untung saja tubuh mungil Adinda bisa naik dan mengambil mangga itu dengan cepat. Sedangkan mereka berdua hanya bisa terdiam. Karena mereka berdua memang tidak pandai untuk memanjat pohon. Sungguh dunia sudah terbalik. Maka dari itu sifat liar Adinda sering muncul.
“Itu kan aku sengaja mengajarkan kamu untuk latihan fisik seperti para tentara di camp,” celetuk Herman yang mendengar obrolan mereka.
“Iya deh Aku mengalah. Tapi aku bersyukur bisa naik pohon. Apalagi jika Ibu sudah menutup rumah ketika pulang larut malam. Dengan senang hati Aku memanjat rumah melalui pohon rambutan yang berada di samping. Jadinya aku bisa sampai ke kamar tanpa susah-susah menghubungi Ibu untuk membukakan pintu utama,” kata Adinda dengan jujur.
Sontak saja Ibu Lidya terkejut mendengar pernyataan dari Adinda. Masa ada seorang perempuan memanjat pohon demi masuk ke dalam kamar? Seharusnya panjat memanjat itu sering dilakukan oleh banyak anak laki-laki. Tapi ini sungguh sangat aneh sekali.
“Mereka sudah tahu Bu. Bahkan Ibu sengaja mengunci rumah itu Karena aku sering sekali pulang larut malam. Dengan terpaksa aku memiliki dua pilihan. Menginap di kantor atau manjat pohon rambutan. Itulah opsi yang membuat aku untuk memilih ketika larut pulang malam dari kantor,” jawab Adinda.
“Selain itu di usianya baru menginjak sepuluh tahun. Kak Malik sengaja mendaftarkan Adinda untuk mengikuti latihan pencak silat dan juga karate. Hal ini tidak bisa disalahkan. Jadinya Adinda semakin barbar setelah menguasai banyak jurus,” ucap Herman yang berkata blak-blakan.
“Kalau itu memang penting. Mengingat Adinda sendiri adalah keturunan dari Teguh Susanto. Maka Adinda harus bisa menguasai ilmu beladiri. Soalnya Adinda akan menjadi seorang CEO di perusahaan SM Company. Mau tidak mau Adinda harus diajari ilmu beladiri,” jelas Ibu Lidya.
“Memang benar sih Kak. Tapi Kak Tia sempat menentang latihan tersebut. Kak Tia ingin memasukkan Adinda les musik. Untung saja kak Malik memberikan penjelasan Apa yang akan terjadi kedepannya. Mau tidak mau kak Tia sendiri mengalah dan membiarkan Adinda belajar ilmu beladiri,” sambung Herman.
“Jujur Ibu juga sangat berat memiliki anak maupun keponakan yang berjenis kelamin perempuan. Apalagi mereka memiliki darah dari keturunan Susanto. Banyak sekali para klien yang pura-pura baik ingin mengincar keturunan Susanto untuk disekap karena kalah tender. Bisa jadi mereka sangat beringas dan ingin menyakiti mereka semuanya. Kamu masih ingat kan kasus yang menimpa keluarga Darmaji. Yang di mana keluarga Darmaji kehilangan anak perempuannya itu,” sahut Ibu Lidya yang mengingatkan Herman tentang kasus keluarga Darmaji.
“Oh yang itu ya Bu. Helena meninggal karena disekap oleh klien Darmaji yang kalah tender tersebut. Itu sangat viral sekali,” kata Adinda yang mengetahui kasus tersebut.
“Ya itu benar. Ibu juga sangat terkejut sekali mendengar berita itu. Entah kenapa Ibu mengingat kamu soal perusahaan SM Company. Jadi Ibu bersyukur Kalau kamu bisa menguasai banyak jurus. Ketika diculik kamu bisa melawan mereka habis-habisan,” ujar Ibu Lidya yang sebenarnya ketakutan jika kejadian itu terjadi.
Adinda teringat pada musuh utamanya itu. Mungkin saat ini dirinya masih bisa selamat. Entah beberapa tahun lagi dirinya akan menjadi apa? Sebab musuh utamanya itu sangat berambisi sekali untuk menghancurkan dirinya.
“Biarkanlah semuanya akan mengalir menjadi air yang berada di sungai. Kita harus banyak-banyak berdoa agar kejadian yang tidak diinginkan. Tidak akan terjadi sama sekali. Aku sendiri sedang mencari cara supaya para musuh tidak menyerang Adinda maupun lainnya,” jelas Herman.
Mereka terdiam dan berharap kejadian keluarga Darmaji tidak akan terulang lagi. Adinda sendiri tidak habis pikir dengan lawan Darmaji ketika memenangkan tender besar itu. Adinda sendiri akan membalikkan keadaan dan menyerang Gilang dengan anggun. Ia sengaja melakukannya, sebab dirinya akan memperingatkan Gilang. Kalau perempuan itu tidak bisa ditindas begitu saja. Apalagi diremehkan begitu saja.
“Din,” panggil Faris yang segera mendekat ke arahnya.
“Ada apa kak?” tanya Adinda.