
"Aku akan mendiskusikan kepada Budiman. Kalau dia tidak mau dia terpaksa tinggal di sini. Karena Budiman sendiri pernah mengatakan, kalau rumah ini adalah tempat yang paling nyaman untuk ditinggali," jawab Adinda.
"Itu terserah kamu. Mau pindah ya nggak apa-apa. Nggak pindah juga tidak apa-apa. Ibu malah bersyukur sekali ketika kamu tidak pindah dari rumah ini. Tapi kamu harus mengunjungi ibu mertuamu. Jangan diam saja. Hibur Bu Kamila dengan Pak Kartolo. Mereka juga adalah kedua orang tuamu," ucap Tia.
"Para Bibi ada di mana Bu?" tanya Adinda.
"Mereka berada di saung belakang. Mereka sedang berkumpul dan beristirahat sejenak. Oh iya Ibu mau tanya, apakah di awal-awal pernikahan kalian, Budiman sangat kasar kepadamu?" tanya Tia balik.
"Apakah ibu percaya dengan pembicaraan mereka? Mereka hanyalah menebarkan gosip yang tidak tidak. Aku tahu siapa yang melakukannya. Sedari dulu rahasia di keluarga ini selalu bocor ke para tetangga," jawab Adinda yang membuat Tia terkejut.
Tia langsung menumis bumbu ke dalam wajan. Saat ini wanita paruh baya itu ternyata sedang memasak. Ia sengaja memasak sendiri untuk diantarkan ke kantor. Karena Tia sudah sering membuat menu khusus untuk sang suami dan juga anak-anaknya.
"Tunggu ibu memasak. Setelah ini kamu makan dengan cap cay buatan ibu," ucap Tia.
"Ya sudah deh aku kembali lagi ke dalam kamar," pamit Adinda.
"Ngapain juga kamu kembali ke dalam kamar? Mending bantuin ibu untuk memasak," ajak Tia.
Adinda pun menyetujuinya. Adinda dan Tia sangat kompak sekali dalam urusan memasak. Bahkan mereka memiliki hubungan masalah antara Ibu dan anak. Banyak sekali yang iri kepada hubungan mereka. Mereka sering membuat vlog di berbagai sosial media tentang kebersamaannya.
Tapi para pengikutnya tidak tahu, kalau Adinda sendiri adalah seorang CEO di perusahaan ternama. Ia sengaja menyembunyikan identitasnya dari mereka. Ia tidak ingin jika hidupnya dibuat konsumsi publik. Maka dari itu Adinda tidak pernah mau diwawancarai oleh siapapun.
Budiman yang masih betah di dalam kamar Adinda memilih mengecek email. Budiman langsung mendapatkan pekerjaannya dan bekerja di atas ranjang. Untungnya Tio telah memberikan pekerjaan anak-anak melalui email. Setelah dicek, Budiman akan menandatanganinya dan memberikan ke Tio. Nanti sore Tio akan pergi ke rumah Adinda untuk meminta tanda tangannya. Ia memang sengaja melakukannya agar tidak membuang waktu percuma. Memang asisten Budiman memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Ia sangat pandai sekali ketika melihat peluang waktu untuk saat ini.
Itulah kenapa Tio sendiri sengaja dipertahankan Budiman. Meskipun Tio adalah teman yang sangat menyebalkan sekali. Namun Tio juga berdedikasi untuk Budiman. Tidak ada Tio, Budiman tidak akan menjadi seperti ini. Tio sendiri sudah mendapatkan tiket untuk mengatur hidup Budiman. Jika melenceng maka Tio harus memperbaikinya.
Tepat jam 11.00 siang, Tia dan Adinda selesai memasak. Mereka memutuskan untuk pergi ke kamar masing-masing. Adinda sengaja untuk mengajak Budiman untuk makan siang.
"Kak," sapa Adinda.
"Ada apa?" tanya Budiman sambil mengangkat wajahnya dan melihat Adinda.
"Ayo kita sarapan terlebih dahulu. Setelah itu Kakak lanjut lagi bekerja," jawab Adinda sambil mengajak Budiman sarapan terlebih dahulu.
Mendengar jawaban Adinda, hati Budiman sangat dingin sekali. Biasanya Budiman marah-marah terus-terusan kepada Adinda. Namun kali ini tidak sama sekali. Ia malah bahagia dan menghentikan pekerjaannya untuk sementara waktu.
"Sebentar ya. Aku akan membersihkan tubuh terlebih dahulu," pinta Budiman.
Selesai mandi, Budiman sudah keluar dengan memakai baju santai. Ia sengaja memakai baju agak ketat untuk memamerkan otot-ototnya.
Adinda tahu kalau Budiman selesai mandi. Adinda menggelengkan kepalanya lalu meminta Budiman mengganti bajunya.
"Sayang, lebih baik kamu ganti baju. Aku nggak mau jika kamu dilihati oleh salah satu pembantu yang ada disini," pinta Adinda yang membuat Budiman terkejut.
"Kenapa kamu menyuruhku berganti pakaian? Sedangkan aku sendiri menyukai pakaian seperti ini," tanya Budiman.
"Aku memang suka saja melihatmu memakai pakaian seperti itu. Aku lagi menyelidiki salah seorang pembantuku. Dia masih muda namun kelakuannya sudah kayak hewan. Dia sering membuat rencana keluarga bocor hingga ke luar," jawab Adinda.
"Kok bisa begitu ya? Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Jika menemukannya, aku akan mengeluarkannya. Aku tidak suka orang-orang berkhianat seperti itu di dalam rumah ini," ucap Budiman yang tidak ingin seluruh rahasia keluarga ini bocor.
Budiman memang sangat overprotektif terhadap keluarga. Setiap masalah tidak harus diekspos ke pelayannya. Kalau sudah terlanjur terekspos, bisa dikatakan Budiman harus mencari cara untuk menutup mulut para pelayannya.
Sebenarnya di keluarga ini tidak ada masalah sama sekali. Mereka saling berpegangan tangan untuk menyelesaikan masalah. Entah kenapa akhir-akhir ini Adinda merasakan ada sesuatu yang aneh.
Setiap keluar rumah, seluruh tetangga membicarakan tentang kehidupannya. Bahkan mereka sendiri secara terang-terangan membuat sakit hatinya. Lantas Adinda pernah berpikir, memangnya iya suka mencampuri urusan tetangga apa?
Adinda segera mencari pangkal masalahnya. Semakin lama Adinda mencium bau tidak sedap di antara para pelayan. Hingga akhirnya Adinda menentukan seorang pelayan yang memang sengaja membocorkan rahasia keluarga milik Adinda itu.
Sebenarnya sang ibu sudah terlalu baik buat para pelayan. Tia sudah memberikan fasilitas yang dibutuhkan pelayannya. Mereka juga tidak perlu susah bekerja. Mereka dibebaskan Kapan membersihkan rumah dan memasak. Namun semuanya salah kaprah. Ada yang sengaja memanfaatkan ini semuanya.
Dengan terpaksa Budiman mengganti bajunya dengan kaos oblong. Ia juga tidak ingin bermasalah kepada para penghuni rumah ini. Selesai mengganti bajunya, Adinda mengajak Budiman pergi ke dapur. Mereka langsung makan siang.
Di ambang pintu ada seorang perempuan sedang memperhatikannya. Perempuan itu memakai baju pelayan. Ia melihat wajah Budiman seperti wajah oriental. Bahkan perempuan itu sangat terkesan sekali.
Budiman yang merasakan dirinya diperhatikan, langsung menyenggol kaki Adinda. Adinda pun paham dan menengok perempuan itu di ambang pintu. Adinda mengerutkan keningnya sambil bertanya-tanya dalam hati. Kenapa itu orang berada disini? Dengan terpaksa Adinda berdiri dan menanyakan kepentingannya.
"Mbak Mila. Ada apa Mbak kok melihat suami saya seperti itu?" Tanya Adinda.
"Oh maaf Mbak. Saya juga nggak ngerti kenapa melihat suami Mbak kayak sebegitunya," jawab Mila nama perempuan itu.
"Kamu itu sangat lucu sekali. Ditanya kok malah nggak ngerti. Kamu jangan memperhatikan kami seperti itu. Kamu itu bukan pemilik rumah ini. Jadi jangan jadi mata-mata di rumah ini. Setiap ada masalah mesti kamu selalu membicarakan ini kepada tetangga. Setiap masalah selalu saja bocor begitu saja," jawab Adinda yang sengaja masuk ke dalam intinya.
"Maksud Mbak apaan?" Tanya Mila.