
Tepat jam dua siang,
Budiman melupakan janji pada Kanaya. Ia langsung menghentikan pekerjaannya. Ia
langsung meraih jasnya dan memakainya. Sebelum pergi meninggalkan ruangannya,
Budiman menghubungi Tio untuk segera kesini. Dalam hitungan dua menit, Tio datang
dengan membawa berkas.
“Selamat siang tuan,”
sapa Tio dengan datar.
“Apakah aku tidak
memiliki jadwal di luar?” tanya Budiman yang tidak melihat wajah Tio sama
sekali.
“Maaf tuan... beberapa
hari ini anda tidak memiliki jadwal apapun,” jawab Tio yang merasa ingin
membentaknya.
“Oh... ya sudah. Lebih
baik begitu. Jika ada jadwal dengan klien. Lebih baik kamu yang menemuinya!”
perintah Budiman dengan serius.
Rasanya Tio ingin
sekali menangis. Bagaimana tidak? Dirinya harus mengerjakan semuanya seorang
diri. Andai saja Kalau Budiman bukan temannya, Tio pasti akan memakinya dan
besoknya pasti resign dari perusahaan itu.
“Sebelum anda pergi,
apakah anda memberikan perintah buat
mereka?” tanya Tio yang mewakili perasaan karyawan Njawe Groups.
“Nggak perlu!” sungut
Budiman yang berdiri yang meraih ponselnya. “mereka tidak becus bekerja. Lalu
buat apa aku memberikan mereka beristirahat?”
Dengan kesalnya Tio
ingin memakinya. Namun apa daya ia masih ingin bekerja. Ia tidak sanggup lagi
menghadapi Budiman yang semakin lama semakin arogan.
Budiman segera
meninggalkan Tio yang masih berdiri dalam posisi yang sama. Budiman sudah
tidak memperdulikan lagi kehadiran Tio. Ia malah memilih pergi dan menemui
Adinda.
Melihat kepergian
Budiman, Tio hanya menghela nafasnya. Ia tidak menyangka kalau Budiman tidak
berpihak dengan karyawannya. Ia memutuskan untuk pergi ke ruangan Nafa.
Satu kata di dalam
hatinya yaitu kesal. Memang kesal sih? Bagaimana kita melihat bos seperti itu?
Membiarkan para karyawannya menderita. Mereka belum makan sedari siang. Apakah
pekerjaan mereka masih bisa maksimal? Tentu tidak. Malahan pekerjaan mereka
menjadi berantakan sama sekali. Bahkan salah semuanya.
Sesampainya di ruangan
HRD, Tio melihat wajah Nafa dengan teliti. Ia menghempaskan bokongnya di
hadapan wanita memiliki dua anak itu. Sebelum berbicara Tio menarik nafasnya
dengan berat. Ia akan mengambil keputusan, yang dimana keputusan itu membuat
dirinya sedang mempertaruhkan jabatannya.
“Pak Tio,” panggil Nafa
yang melihat Tio sedang tidak baik-baik saja.
“Begini, mulai saat ini
aku mempertaruhkan jabatan untuk para karyawan. Yang dimana para karyawan
sedang membutuhkan makan siang,” jawab Tio dengan tegas.
Nafa terkejut dengan
apa yang didengarnya. Ia mengerutkan keningnya sambil bertanya sekali lagi,
“Maksud bapak apa?”
“Tuan Budiman tidak
memberikan jam istirahat. Sedangkan mereka harus mengisis perutnya. Jika mereka
sakit, kita akan mengeluarkan biaya banyak. Nanti banyak yang libur juga. Jadi
kita nggak bisa membiarkan mereka sakit,” jawab Tio yang mendapatkan
persetujuan dari Nafa.
“bapak benar. Aku
sendiri sudah meminta izin kepada Pak Budiman agar memberikan jam istirahat.
Tapi saat ini Pak Budiman tidak memberikannya sama sekali. Bahkan aku sendiri
dibentaknya. Bahkan Pak Budiman memintaku jangan pernah mencampuri urusannya,”
ucap Nafa dengan sendu.
“Kalau begitu biarkan
aku yang mempertaruhkan jabatannya
sendiri. Aku tidak akan membiarkan mereka menderita seperti ini. Jika besok aku
nggak ada, kamu bisa mencariku di SM Company,” ucap Tio.
“Bapak mau pindah
kesana?” tanya Nafa yang merasakan dadanya sesak.
“Kalau kamu mau pindah
ayuk. Bapak kartolo juga mengajak para karyawannya pindah ke sana,” jawab Tio
yang mengajak Nafa pindah. “Apalagi Pak Malik ingin membuat cabang baru di
beberapa kota di Pulau Jawa dan Pulau Kalimantan.”
“Sepertinya itu sangat
“Tapi kamu pindahnya
jangan ikut aku,” ucap Tio. “Aku nggak ingin membuat Pak Budiman curiga.”
“Oke,” balas Nafa
tersenyum manis.
“Beberapa hari lagi aku
akan menghubungi kamu. Jika mendapat persetujuan dari Adinda,” jelas Tio yang
beranjak dari duduknya.
“Siap pak. Saya akan
membawa mereka keluar dari perusahaan,” ucap Nafa yang membuat Tio menganggukan
kepalanya sambil mengacungkan jempolnya.
“Izinkanlah mereka
beristirahat. Nggak usah di gubris omongan Pak Budiman!” perintah Tio yang
berjalan meninggalkan Nafa.
Nafa menganggukan
kepalanya sambil menghubungi bawahannya untuk menyuruh mereka beristirahat.
Meskipun Tio orangnya tegas, namun dirinya memiliki hati yang lembut. Ia juga
tidak akan membiarkan karyawannya jatuh sakit. Karena dirinya tahu kalau
masalah kesehatan adalah hak sebagian manusia.
Seluruh karyawan Njawen
Group akhirnya beristirahat. Mereka bisa tersenyum bahagia setelah Tio
memberikan jam istirahat. Lalu bagaimana dengan nasibnya selanjutnya?
Adinda sudah diminta
tolong sama pak kartolo. Ia meminta beberapa orang bekerja disana terlebih
dahulu. Ia tidak mungkin membiarkan Njawen Group hancur berantakan. Ia harus
berbuat sesuatu dan akan merebutnya dari tangan Budiman.
Tepat jam tiga sore,
Adinda menguap dan merenggangkan tubuhnya. Ia berdiri dan keluar dari
ruangannya hanya demi menghilangkan rasa pahitnya. Ia memutuskan untuk turun ke
bawah untuk melihat beberapa karyawan.
Saat berjalan-jalan
menuju ke lobby, Adinda melihat Budiman yang baru masuk ke dalam kantor. Ia
mengerutkan keningnya sambil menatapnya. Dalam hati Adinda bertanya, “Kenapa
Budiman kesini? Apakah ada masalah? Ck, masalah apa sebenarnya? Kok penting
banget bagi gue ngurusin dia?”
Adinda langsung
memundurkan langkahnya dan segera menjauh. Namun ia berdiri di sambil
menyandarkan tubuhnya dengan miring. Tak lupa Adinda sendiri menatap tajam ke
arah Budiman.
Sedangkan Budiman
melihat Melani yang menatap wajah Budiman. Ia mengerutkan keningnya sambil
bertanya, “Selamat sore Tuan. Ada perlu apa? Apakah anda sudah membuat janji
kepada bos saya?”
“Saya tidak perlu janji
sama bos anda! Saya adalah keluarganya,” jawab Budiman yang penuh dengan
percaya diri.
“Maaf... seharusnya
anda membuat janji kepada Nona Adinda terlebih dahulu. Karena saya enggak
memastikan, kalau Nona Adinda tidak berada ditempat,” ucap Melani dengan
jujur. ‘
“Aku nggak peduli
itu!” bentak Budiman yang membuat Melani ketakutan.
Dalam posisi yang sama
Adinda tidak bergerak sama sekali. Ia tidak akan meninggalkan tempat itu sambil
melihat gerak-gerik Budiman. Ia mengirim pesan ke Melani untuk memancing amarah
Budiman.
Ketika menghadapi si
Budiman, Melani membaca pesan itu sambil menelan salivanya dengan susah payah.
Ia tahu kalau pria yang berdiri saat ini memiliki temperamen yang kuat. Ia
langsung menatap wajah Budiman.
“Anda harus buat janji
kepada Nona Adinda. Jika anda tidak membuat janji sama beliau, maka tidak akan
bisa menemuinya. Inilah sesuai peraturan yang dibuat,” ujar Melani.
Budiman tetap saja bertahan
dan memarahi Melani. Ia tidak akan pergi meninggalkan perusahaan itu sebelum
menemui Adinda.
Adinda yang melihat
Melani dibentak oleh Budiman tidak tega. Ia akhirnya turun tangan dan melihat Budiman yang sudah marah.
“Apakah ini sikap
seorang bos di perusahaan Njawe Groups?” tanya Adinda yang angkuh dengan
melipat kedua tangannya.
“Ck, apakah ini
karyawan kamu yang tidak memiliki sopan sama sekali?” tanya Budiman yang
menunjuk ke arah Melani.