Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 29



Tepat jam dua siang,


Budiman melupakan janji pada Kanaya. Ia langsung menghentikan pekerjaannya. Ia


langsung meraih jasnya dan memakainya. Sebelum pergi meninggalkan ruangannya,


Budiman menghubungi Tio untuk segera kesini. Dalam hitungan dua menit, Tio datang


dengan membawa berkas.


“Selamat siang tuan,”


sapa Tio dengan datar.


“Apakah aku tidak


memiliki jadwal di luar?” tanya Budiman yang tidak melihat wajah Tio sama


sekali.


“Maaf tuan... beberapa


hari ini anda tidak memiliki jadwal apapun,” jawab Tio yang merasa ingin


membentaknya.


“Oh... ya sudah. Lebih


baik begitu. Jika ada jadwal dengan klien. Lebih baik kamu yang menemuinya!”


perintah Budiman dengan serius.


Rasanya Tio ingin


sekali menangis. Bagaimana tidak? Dirinya harus mengerjakan semuanya seorang


diri. Andai saja Kalau Budiman bukan temannya, Tio pasti akan memakinya dan


besoknya pasti resign dari perusahaan itu.


“Sebelum anda pergi,


apakah anda memberikan perintah  buat


mereka?” tanya Tio yang mewakili perasaan karyawan Njawe Groups.


“Nggak perlu!” sungut


Budiman yang berdiri yang meraih ponselnya. “mereka tidak becus bekerja. Lalu


buat apa aku memberikan mereka beristirahat?”


Dengan kesalnya Tio


ingin memakinya. Namun apa daya ia masih ingin bekerja. Ia tidak sanggup lagi


menghadapi Budiman yang semakin lama semakin arogan.


Budiman segera


meninggalkan Tio yang masih berdiri dalam posisi yang sama. Budiman sudah


tidak memperdulikan lagi kehadiran Tio. Ia malah memilih pergi dan menemui


Adinda.


Melihat kepergian


Budiman, Tio hanya menghela nafasnya. Ia tidak menyangka kalau Budiman tidak


berpihak dengan karyawannya. Ia memutuskan untuk pergi ke ruangan Nafa.


Satu kata di dalam


hatinya yaitu kesal. Memang kesal sih? Bagaimana kita melihat bos seperti itu?


Membiarkan para karyawannya menderita. Mereka belum makan sedari siang. Apakah


pekerjaan mereka masih bisa maksimal? Tentu tidak. Malahan pekerjaan mereka


menjadi berantakan sama sekali. Bahkan salah semuanya.


Sesampainya di ruangan


HRD, Tio melihat wajah Nafa dengan teliti. Ia menghempaskan bokongnya di


hadapan wanita memiliki dua anak itu. Sebelum berbicara Tio menarik nafasnya


dengan berat. Ia akan mengambil keputusan, yang dimana keputusan itu membuat


dirinya sedang mempertaruhkan jabatannya.


“Pak Tio,” panggil Nafa


yang melihat Tio sedang tidak baik-baik saja.


“Begini, mulai saat ini


aku mempertaruhkan jabatan untuk para karyawan. Yang dimana para karyawan


sedang membutuhkan makan siang,” jawab Tio dengan tegas.


Nafa terkejut dengan


apa yang didengarnya. Ia mengerutkan keningnya sambil bertanya sekali lagi,


“Maksud bapak apa?”


“Tuan Budiman tidak


memberikan jam istirahat. Sedangkan mereka harus mengisis perutnya. Jika mereka


sakit, kita akan mengeluarkan biaya banyak. Nanti banyak yang libur juga. Jadi


kita nggak bisa membiarkan mereka sakit,” jawab Tio yang mendapatkan


persetujuan dari Nafa.


“bapak benar. Aku


sendiri sudah meminta izin kepada Pak Budiman agar memberikan jam istirahat.


Tapi saat ini Pak Budiman tidak memberikannya sama sekali. Bahkan aku sendiri


dibentaknya. Bahkan Pak Budiman memintaku jangan pernah mencampuri urusannya,”


ucap Nafa dengan sendu.


“Kalau begitu biarkan


aku  yang mempertaruhkan jabatannya


sendiri. Aku tidak akan membiarkan mereka menderita seperti ini. Jika besok aku


nggak ada, kamu bisa mencariku di SM Company,” ucap Tio.


“Bapak mau pindah


kesana?” tanya Nafa yang merasakan dadanya sesak.


“Kalau kamu mau pindah


ayuk. Bapak kartolo juga mengajak para karyawannya pindah ke sana,” jawab Tio


yang mengajak Nafa pindah. “Apalagi Pak Malik ingin membuat cabang baru di


beberapa kota di Pulau Jawa dan Pulau Kalimantan.”


“Sepertinya itu sangat


“Tapi kamu pindahnya


jangan ikut aku,” ucap Tio. “Aku nggak ingin membuat Pak Budiman curiga.”


“Oke,” balas Nafa


tersenyum manis.


“Beberapa hari lagi aku


akan menghubungi kamu. Jika mendapat persetujuan dari Adinda,” jelas Tio yang


beranjak dari duduknya.


“Siap pak. Saya akan


membawa mereka keluar dari perusahaan,” ucap Nafa yang membuat Tio menganggukan


kepalanya sambil mengacungkan jempolnya.


“Izinkanlah mereka


beristirahat. Nggak usah di gubris omongan Pak Budiman!” perintah Tio yang


berjalan meninggalkan Nafa.


Nafa menganggukan


kepalanya sambil menghubungi bawahannya untuk menyuruh mereka beristirahat.


Meskipun Tio orangnya tegas, namun dirinya memiliki hati yang lembut. Ia juga


tidak akan membiarkan karyawannya jatuh sakit. Karena dirinya tahu kalau


masalah kesehatan adalah hak sebagian manusia.


Seluruh karyawan Njawen


Group akhirnya beristirahat. Mereka bisa tersenyum bahagia setelah Tio


memberikan jam istirahat. Lalu bagaimana dengan nasibnya selanjutnya?


Adinda sudah diminta


tolong sama pak kartolo. Ia meminta beberapa orang bekerja disana terlebih


dahulu. Ia tidak mungkin membiarkan Njawen Group hancur berantakan. Ia harus


berbuat sesuatu dan akan merebutnya dari tangan Budiman.


Tepat jam tiga sore,


Adinda menguap dan merenggangkan tubuhnya. Ia berdiri dan keluar dari


ruangannya hanya demi menghilangkan rasa pahitnya. Ia memutuskan untuk turun ke


bawah untuk melihat beberapa karyawan.


Saat berjalan-jalan


menuju ke lobby, Adinda melihat Budiman yang baru masuk ke dalam kantor. Ia


mengerutkan keningnya sambil menatapnya. Dalam hati Adinda bertanya, “Kenapa


Budiman kesini? Apakah ada masalah? Ck, masalah apa sebenarnya? Kok penting


banget bagi gue ngurusin dia?”


Adinda langsung


memundurkan langkahnya dan segera menjauh. Namun ia berdiri di sambil


menyandarkan tubuhnya dengan miring. Tak lupa Adinda sendiri menatap tajam ke


arah Budiman.


Sedangkan Budiman


melihat Melani yang menatap wajah Budiman. Ia mengerutkan keningnya sambil


bertanya, “Selamat sore Tuan. Ada perlu apa? Apakah anda sudah membuat janji


kepada bos saya?”


“Saya tidak perlu janji


sama bos anda! Saya adalah keluarganya,” jawab Budiman yang penuh dengan


percaya diri.


“Maaf... seharusnya


anda membuat janji kepada Nona Adinda terlebih dahulu. Karena saya enggak


memastikan, kalau Nona Adinda tidak berada ditempat,” ucap Melani dengan


jujur. ‘


“Aku nggak peduli


itu!” bentak Budiman yang membuat Melani ketakutan.


Dalam posisi yang sama


Adinda tidak bergerak sama sekali. Ia tidak akan meninggalkan tempat itu sambil


melihat gerak-gerik Budiman. Ia mengirim pesan ke Melani untuk memancing amarah


Budiman.


Ketika menghadapi si


Budiman, Melani membaca pesan itu sambil menelan salivanya dengan susah payah.


Ia tahu kalau pria yang berdiri saat ini memiliki temperamen yang kuat. Ia


langsung menatap wajah Budiman.


“Anda harus buat janji


kepada Nona Adinda. Jika anda tidak membuat janji sama beliau, maka tidak akan


bisa menemuinya. Inilah sesuai peraturan yang dibuat,” ujar Melani.


Budiman tetap saja bertahan


dan memarahi Melani. Ia tidak akan pergi meninggalkan perusahaan itu sebelum


menemui Adinda.


Adinda yang melihat


Melani dibentak oleh Budiman tidak tega. Ia akhirnya turun tangan  dan melihat Budiman yang sudah marah.


“Apakah ini sikap


seorang bos di perusahaan Njawe Groups?” tanya Adinda yang angkuh dengan


melipat kedua tangannya.


“Ck, apakah ini


karyawan kamu yang tidak memiliki sopan sama sekali?” tanya Budiman yang


menunjuk ke arah Melani.