Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 129



"Semuanya sudah jelas. Aku sendiri baru mengetahuinya dari kepala mataku. Yang lebih parahnya lagi dia membuat ulah kepada Adinda dengan cara memberitahukan Budiman tidak pandai bermain di atas ranjang. Kan jadinya nyesek banget," jawab Herman.


"Kalau aku tebak berarti Netty sudah pernah merasakan dengan banyak pria," ucap Faris yang membuat Herman menganggukkan kepalanya.


"Aku baru mengetahui kabar itu dari mata-mataku. Dia memang penjelajah banyak pria. Dia pernah membanding-bandingkan dengan satu pria ke pria lain. Lah aku pria masih perjaka. Tidak pandai bermain di atas ranjang. Ini yang membuat aku pusing setengah mati. Untung saja Tuhan membuka aibnya terlebih dahulu sebelum terjadi pernikahan ini," jelas Herman yang sangat kesal terhadap Netty.


"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" tanya Faris.


"Aku tidak akan melakukan apapun lagi. Setelah ini aku akan membatalkan pertunangan dan tidak akan meminta barang-barang itu lagi kembali ke diriku. Biarkanlah semuanya mengalir seperti air. Aku akan fokus dalam bekerja dan mencari seorang pasangan hidup yang mau menerimaku apa adanya," jawab Herman yang berbesar hati melepaskan Netty dan tidak ingin dendam kepadanya.


"Paman ini sangat aneh sekali. Bukannya patah hati malah bahagia," celetuk Faris.


"Masih banyak kasus yang harus aku kerjakan. Aku nggak mau berlarut-larut dalam masalah kehidupan pribadiku ini. Mungkin saja setelah ini aku ingin bekerja untuk mengurus banyak kasus yang sedang menimpa para klienku," jelas Herman yang memang sengaja melupakan masalah ini agar tidak menjadi beban dalam hidupnya.


"Sepertinya aku harus ikut dengan jejak langkah paman. Emang yang namanya patah hati itu sakit. Tapi mau bagaimana lagi. Kita harus menikmati hidup tanpa ada pasangan untuk beberapa bulan ke depan. Apakah Adinda marah dengan Budiman?" tanya Faris yang tidak ingin mereka bercerai.


"Adinda tahu apa yang dirasakan Budiman saat itu. Yang namanya masa lalu, Adinda tidak protes kepada Budiman. Netty pernah berkata kalau dirinya memang diberikan tugas kepada gilang untuk memporak-porandakan otaknya itu. Istilahnya Budiman itu akan dirusak hingga benar-benar menjadi orang bodoh. Tapi yang namanya doa orang tua sangat kuat dan Budiman tidak bisa menjadi orang bodoh sekaligus. Dan satu fakta yang harus kamu tahu. Ternyata Netty itu adalah adik kandung Kanaya. Selama ini Netty tidak pernah menceritakan itu kepada aku. Dia bilang kalau dia itu adalah anak tunggal. Ya aku percaya saja soal itu. Memang dia anak yang paling manja di sama kedua orang tuanya. Netty juga tidak pernah bercerita tentang masalahnya itu ke aku. Ya sudah aku akan melupakannya begitu saja. Jangan kamu bertanya lagi. Aku akan memberikan seluruh bukti kepada kamu setelah ini," jelas Herman yang membuat Faris mengerti.


Itulah kisah cinta Paman Herman yang memiliki wajah tampan namun tragis. Memang yang namanya Netty bisa membuat orang-orang terpengaruh oleh omongannya. Bahkan segala kebohongannya itu bisa ditutup dengan rapat. Akhirnya sekarang terbuka siapa dirinya sebenarnya. Mereka sepakat untuk tidak membantu keluarga Netty. Mereka tidak mau membayarkan hutang itu kepada Gilang. Mereka memilih untuk pergi menjauh dan biarkan Netty menyelesaikan masalah itu sendirian. Memang kejam. Namun bagaimana lagi. Mereka tidak mau memiliki masalah besar. Bisa-bisa perusahaannya di ambil Gilang begitu saja.


Bagaimana dengan lainnya? Selepas dari pusat perbelanjaan, Adinda menemui kedua orang tuanya. Adinda bercerita tentang kejadian tadi. Kedua orang tuanya sangat terkejut dan tidak pernah membayangkan jika Netty melakukannya secara diam-diam. Mereka sangat lega hingga masalah ini ditutup dengan rapat. Soal hubungan Netty dengan Gilang mereka juga tidak mau ikut-ikutan. Mereka memilih untuk diam dan menutup mata bersama telinga. Mereka tahu atas konsekuensinya jika membantu Netty.


Malam ini Adinda menghabiskan waktu bersama Andara di dalam kamar. Dengan terpaksa Budiman mengalah lalu memilih untuk tidur bersama Herman. Andhara dan Adinda berencana ingin liburan ke pulau Dewata. Mereka ingin melepas penat tanpa ada gangguan dari pihak luar.


"Bagaimana kalau kita liburan ke Bali? Aku sendiri pengen melepaskan penat agar tidak dikejar-kejar sama pekerjaan sialan itu," tanya Andara.


"Kita berdua saja maksudnya?" tanya Adinda.


"Iyalah. Kita sudah lama tidak liburan bareng ke daerah mana? Aku sendiri sudah muak dengan banyak pekerjaan yang berada di mejaku itu. Papa juga menyuruhku untuk liburan ke sana," jawab Andara.


"Kalau aku belum menikah ayo saja. Aku sekarang sudah berstatuskan istri orang. Aku nggak bisa seenaknya pergi dari rumah tanpa harus berpamitan kepada suamiku itu. Nanti kalau murka dan marah sama aja aku celaka di jalan. Kecuali kalau suamiku sudah memberitahukan dan memberikan izin pasti aku berangkat," jelas Adinda yang paham dengan statusnya sekarang ini.


"Jadi gimana Kak? Apa aku harus merayu Kak Budiman untuk melepaskan Kakak biar liburan bersama?" tanya Andara yang memikirkan cara agar Adinda bisa ikut liburan dengannya.


"Sepertinya itu dia yang sangat bagus. Nanti deh aku tanya sama Kak Tio enaknya bagaimana. Atau juga kita ke Maldives dan berjalan-jalan di sana," jawab Andara yang membuat mata Adinda membulat sempurna.


"Kamu itu kejam sekali ya. Soal biaya Aku nggak jadi masalah. Tapi bisa nggak menghindari Maldives? Tempat itu adalah tempat untuk orang berbulan madu. Ngapain kita ke sana tanpa harus berpasangan?" tanya Adinda.


"Aku memiliki ide baru lagi. Pak Budiman kan memiliki jet pribadi. Aku mengenal pilotnya itu. Nanti aku suruh pilotnya membelokkan pesawat ke Maldives jika selesai melakukan perjalanan bisnis. Setelah itu mereka akan turun tepat berada di Maldives. Aku bersama Kak Tio akan berjalan-jalan sendirian. Terus Kak Adinda bersama Kak Budiman saja yang melakukan bulan madu. Bagaimana menurut kakak ide aku ini?" tanya Andara yang membuat Adinda menganggukkan kepalanya apakah cara itu sangat efektif sekali.


"Kita coba saja. Info ya kalau ada perjalanan bisnisnya Kak Budiman. Aku ingin membuatnya terkejut atas kekonyolan kamu ini," jawab Adinda yang berharap semuanya terjadi dengan mulus.


Andara akhirnya menganggukkan kepalanya lalu memutuskan untuk tidur? Sedangkan Adinda masih berbalas pesan bersama Budiman. Di dalam pesan itu Budiman menceritakan kondisi hati Herman. Herman sudah move on dan kembali ke pekerjaannya itu. Hari ini memang hari yang sangat kelam bagi dirinya. Namun hari ini juga Budiman memintanya untuk menjadi sahabat sekaligus istri untuk masa depannya. Jadi hari ini tidak terlalu menakutkan sekali. Bagaimana dengan Gilang? Adinda masih memiliki banyak rencana untuk menghancurkan Gilang dengan mudah. Akan tetapi Adinda tidak akan melakukannya sebelum lulus kuliah.


Setelah itu Adinda memutuskan untuk tidur. Sedangkan Budiman masih mendengarkan musik agar bisa tertidur. Lalu bagaimana dengan Herman? Pria bertubuh kurus itu Sudah terlelap dalam mimpi. Hatinya sangat bahagia dan tidak memiliki beban apapun. Ia sudah melupakan masa lalunya dan kembali ke masa sekarang. Agar Herman bisa melakukan pekerjaannya dengan baik.


Pagi yang cerah di kota Jakarta. Tio segera masuk ke dalam rumah Adinda. Pria itu duduk di ruangan tamu sambil menunggu kedatangan Budiman. Budiman sendiri baru saja bangun dan mencuci muka. lalu Budiman memutuskan masuk ke dalam kamar Adinda dan melihat kedua wanita yang dicintainya sedang tertidur lelap.


"Syukurlah. Masalah sudah teratasi dengan baik. Tentang masalah kemarin lupakanlah. Biarkanlah sahabatmu itu menyelesaikan masalahnya sendiri. Apa yang telah diperbuatnya maka dia harus menanggungnya sendiri," batin Budiman yang tidak menginginkan mereka untuk membantu Netty.


Budiman segera keluar dari kamar Adinda. Lalu Budiman menemui Tio dan menghempaskan bokongnya di hadapannya. Kemudian Tio memberikan sejumlah berkas agar Budiman mempelajarinya.


"Perjalanan bisnis menuju Manila bagaimana?" tanya Budiman.


"Sepertinya ini akan menjadi perjalananmu yang terakhir. Karena bulan depan kamu harus berangkat ke London bersama Adinda. Seluruh perjalanan menuju London sudah aku persiapkan," jawab Tio.


"Maafin gue nggak ngajak lu ke sana," celetuk Budiman.


"Semuanya nggak jadi masalah buat gue. Di sini juga banyak pekerjaan. Bagaimana dengan restoranmu itu di London?" tanya Tio.


"Gue mohon lu bantu papa sama Andara. Soal restoran semuanya menjadi aman. Aku sudah cerita kepada Adinda soal restoran itu. Jadinya nggak ada masalah. Kalau soal Kanaya tenanglah. Dia tidak akan lagi masuk ke dalam lingkup hidupku. Biarkanlah dia menikmati kesengsaraannya bersama Gilang," jawab Budiman.


"Okelah bro gue nggak akan ngingetin lu sama dia. Lu sudah memiliki istri. Kenapa Lu harus ingat sama dia?" tanya Tio yang membuat Budiman bertanya-tanya.