Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 117



"Ayo jalan saja. Aku ingin mengajak kamu berkencan,” jawab Budiman yang menatap Adinda. 


“Kita kan sudah menikah. Lalu kenapa kamu mengajakku berkencan?” tanya Adinda yang bingung dengan pernyataan dari Budiman. 


“Karena aku ingin mengenal kamu lebih dalam lagi,” jawab Budiman yang tersenyum.


“Apa maksudnya?” tanya Adinda yang semakin bingung. 


“Nggak usah bingung begitu,” jawab Budiman yang memegang tangan Adinda. “Dari awal kita tidak pernah berkencan. Lalu kita menikah dengan secara paksaan. Awal pertemuan kita berantem hanya karena seorang wanita yang membuat aku hancur. Setelah itu aku akan memperbaiki hubungan ini demi kedepannya. Aku ingin hidup kita dan hubungan pernikahan ini awet hingga akhir hayat.” 


Adinda menatap wajah Budiman yang serius dengan pembicaraannya. Ia tidak menyangka kalau Budiman yang mengharapkan cintanya. Ia menganggukan kepalanya sambil berkata, “Baiklah. Kita akan pergi kesana. Kamu pilih saja tempatnya dimana enaknya.” 


“Baiklah,” ucap Budiman yang menatap wajah Adinda sambil tersenyum manis. 


“Aku mau bersiap untuk berganti baju terlebih dahulu,” pinta Adinda. 


“Oke… aku tunggu,” sahut Budiman yang sengaja duduk di sofa.


POV 1.


Siang ini aku terkejut mendengar permintaan Budiman. Tiba-tiba saja Budiman mengajakku berkencan. Sebagai wanita normal aku sangat bahagia sekali. Jujur aku tidak pernah ada yang mengajakku berkencan. Karena setelah kematian Rizal aku tidak pernah merasakannya lagi.


Beberapa hari terakhir aku melihat Budiman sangat bahagia sekali. Pria bertubuh kurus itu memang sudah memantapkan hatinya untukku. Aku sendiri tidak ingin mengecewakannya sedikitpun. 


Di tempat lain, Gilang tersenyum licik ketika para pengawalnya datang. Mereka langsung menghadap lalu membungkukkan tubuhnya sambil menyapanya. 


“Apakah kamu sudah mengambil beberapa dokumen yang aku minta dari Netty?” tanya Gilang sambil menatapnya dengan pucat. 


Gilang langsung menarik dokumen tersebut sambil menyuruh merekaa keluar. Ia tertawa sambil melihat foto Adinda. Di dalam hatinya sudah sangat bahagia sekali. Karena Gilang akan merebut tender itu kembali.


Gilang segera membuka dokumen itu lalu membacanya. Namun ia sadar, beberapa dokumen itu hanyalah tumpukan kertas. Yang di mana Adinda selalu membuat acara liburannya bersama keluarga besarnya. Tentu saja Gilang langsung marah saat itu juga. Ia tidak menyangka, kalau Netty telah membohonginya. 


Dengan cepat Gilang langsung meraih ponselnya. Amarahnya mulai memuncak hingga membagi Netty. Ia tidak akan membiarkan Netty bisa melenggang dengan bebas.


Gilang menghubungi seseorang untuk menyandera keluarga Netty. Orang tersebut mengingatkan dan menyandera keluarga Netty dengan cepat. Lalu bagaimana dengan tanggapan Adinda? Kita lihat saja nanti reaksi Adinda sebenarnya.


Selesai mengganti bajunya, Budiman mengajak Adinda bergegas meninggalkan kamar. Saat keluar mereka berpapasan dengan Herman. Jujur saja Herman sangat penasaran sekali dengan mereka yang memakai baju sangat rapi sekali. Saking penasarannya, Herman mulai bertanya, "Kalian mau kemana?"


"Biasa. Aku mau ngajakin Adinda kencan di pusat perbelanjaan. Aku ingin mengenalnya lebih dalam lagi," jawab Budiman dengan penuh sukacita.


"Buset deh," ledek Herman. "Baru kali ini Lu ngajakin kencan keponakan gue?"


"Iyalah. Sekali-sekali buat bini bahagia. Bukan sekali tapi sering," jawab Budiman. 


"Syukurlah kalau begitu. Lupakanlah masa lalu. Jangan pernah kau ingat lagi soal itu. Buatlah keponakanku bahagia. Jangan sampai dia menangis darah hanya karena kamu!" ancam Herman. 


"Jangan begitu paman. Kalau dia membuat aku menangis. Akulah orang pertama yang akan menggantungnya di gedung Njawe Groups," ucap Adinda. 


"Tuh ingat apa kata Dinda. Istri kamu bukanlah perempuan yang lemah. Jika itu terjadi Kami tidak akan menolongmu lagi," celetuk Herman. 


"Tidak akan. Karena aku yang akan membuatnya dia bahagia. Ya sudah kalau begitu. Aku ingin mengajaknya berkencan," pamit Budiman sambil menarik Adinda.