
"Itu benar. Aku sudah mengetahui masalah ini sejak lama. Begitu juga dengan Adinda. Memang benar-benar itu Gilang harus dihabisi," kesal Faris.
"Tapi jangan sekarang menghabisinya. Kita harus mencari cara agar Gilang menurut kepada kita," ucap Herman.
"Kalau kayak gini terus kita nggak akan berangkat ke pusat perbelanjaan daerah Jaksel. Ayo kita bersiap-siap untuk berangkat," ujar Faris.
"Kemungkinan mereka sudah berangkat atau juga sedang makan malam. Aku sendiri nggak tahu gimana posisi mereka?" tanya Tio yang beranjak berdiri lalu meninggalkan mereka.
Mereka akhirnya pergi ke pusat perbelanjaan ke daerah Jaksel. Memang keluarga itu sangat kompak sekali Jika mengadakan acara secara mendadak. Kalau direncanakan banyak sekali rencana itu gagal. Entah dari pihak b atau pihak a mereka tidak jadi datang dan memutuskan untuk tidur di kamar masing-masing.
Sementara Budiman sudah rapi memakai baju santai. Kemudian Budiman menuju ke kamar Kamila. Tanpa permisi Budiman langsung masuk dan melihat sang Mama sedang bercengkrama dengan Adinda.
Jujur Baru kali ini Budiman melihat mereka sangat akrab. Terkadang Budiman ketakutan saat Adinda bertemu dengan Kamila. Budiman sering sekali mendengar kalau para istri tidak akur dengan ibu mertuanya. Tapi ini sangat beda sekali. Malahan mereka tertawa terbahak-bahak.
"Ayo ma kita jalan. Keluarga Adinda mengajak kita nonton film baru. Mereka ingin melihat Fast and Furious seri sembilan. Aku juga sudah lama tidak pernah melihat bioskop sejak dua tahun yang lalu," sahut Budiman.
"Ya sudah kalau begitu. Mama juga mau mengangkatkan diri kepada mereka. Yang namanya besan nggak boleh namanya pertengkaran. Semoga saja kita menjalin hubungan ini semakin akrab," ucap Kamila sambil berdoa dengan tulus.
"Amin," sahut Adinda.
Mereka akhirnya bersiap-siap untuk menuju ke pusat perbelanjaan itu. Setelah Sholat Isya, mereka meninggalkan rumah untuk menghabiskan waktu hingga malam nanti.
Sesampainya di sana Faris Sudah menentukan titik lokasi pertemuan. Namun tidak disangka-sangka, mereka terjebak macet yang cukup lama. Untung saja ada Tia yang sudah dihubungi oleh Malik. Tia mendirikan restoran di dalam pusat perbelanjaan itu. Akhirnya Tia mengajak kami lah berjalan-jalan. Sedangkan Budiman sengaja mengajak Adinda ke tempat bermain anak-anak.
Memang usia mereka sudah tidak bisa dikatakan di bawah tujuh belas tahun. Tapi mereka sangat menikmati bermain di arena permainan itu.
Banyak yang melihat kalau mereka adalah anak remaja yang baru saja dewasa. Namun mereka tidak mengetahui Dinda dan Budiman adalah pasangan suami istri.
Selesai bermain mereka memutuskan untuk kembali ke titik lokasi pertemuan. Mereka berjalan santai sambil bercanda. Tiba-tiba saja Adinda menghentikan langkahnya dan melihat Ada sesosok wanita sedang makan bersama Gilang. Adinda pun menarik tangan Budiman agar menjauhinya.
"Kamu kenapa menarik tanganku seperti itu?" tanya Budiman.
"Sebentar Bang. Itu lihat Gilang makan sama siapa? Sepertinya wajahnya sangat familiar sekali," jawab Adinda yang membuat Budiman melihat wanita itu.
Mata Budiman membulat sempurna. Budiman menatap wajah Adinda lalu mengajaknya pergi. Ketika pergi Adinda sengaja mengambil foto mereka. Hal ini bisa dijadikan bukti bahwa pertemuan wanita itu dengan Gilang sangat jelas sekali.
"Sudah selesai?" tanya Budiman.
"Sudah Kak. Ayo kita pergi dari sini," jawab Adinda sambil mengajak Budiman pergi dari sana.
Untung saja Adinda memakai kamera yang tidak ada cahaya kedipnya. Jujur Adinda juga memiliki bakat fotografer dadakan. Meskipun jauh bidikan Adinda sangatlah tepat dan indah. Terkadang jika keluarganya sedang berkumpul, Adinda sering diminta untuk menjadi fotografer secara mendadak.
"Itu bukannya Netty?" tanya Budiman.
"Memang benar itu Netty," jawab Adinda yang merasa curiga terhadap Netty. "Kok gue merasa curiga ya. Kenapa Neti bisa mengobrol dengan Gilang seperti itu? Padahal Netty sendiri tahu, kalau Gilang adalah musuh bebuyutanku. Jadi aku bisa menaruh curiga besar terhadapnya."
"Mereka sudah tunangan. Tapi untuk menikah Paman Herman belum memiliki rencana. Aku nggak tahu kenapa Paman Herman tidak memiliki rencana apapun. Padahal dulu dia sangat menggebu-gebu untuk menjadi suami dari Netty. Entah beberapa bulan belakangan ini, hubungan Paman Herman sepertinya retak. Aku tidak bertanya secara terperinci. Takutnya nanti menimbulkan suatu masalah," jawab Adinda dengan tegas.
"Kalau ada Nda, pasti dilabrak Netty. Aku tahu adikku itu terlalu barbar," sahut Budiman.
"Untungnya Nda tidak berada di sini. Jadi Netty aman bersama Gilang," ucap Adinda.
"Ya masih untung. Tapi kamu masih berteman sama dia?" tanya Budiman lagi.
"Masih. Dia kan asistenku. Lalu kenapa?" tanya Adinda balik.
"Kenapa kamu nggak cari asisten lain? Kok aku merasakan ada feeling yang tidak beres? Siapa tahu Netty diam-diam ingin menusukmu dari belakang," jawab Budiman yang mulai curiga kepada Netty.
"Kamu bener. Kenapa nggak terpikirkan olehku soal itu," ucap Adinda yang baru menyadari akan pertemuan antara Netty dengan Gilang.
"Nah masalahnya itu. Kamu harus mencari informasi terlebih dahulu. Kalau hanya untuk pertemuan biasa kenapa kita memusuhinya? Kalau dia menikam kamu dari belakang. Kemungkinan besar ada hubungan penghianatan Antara Kalian. Inilah yang membuat aku bertanya-tanya sampai detik ini," saran Budiman agar Adinda paham dengan pertemuan itu.
"Baiklah. Nanti aku cari informasinya terlebih dahulu. Aku juga sangat penasaran sekali. Kita nggak perlu membicarakan ini dengan panjang lebar. Aku mohon kamu jangan bilang sama Paman Herman terlebih dahulu. Aku takut Paman Herman akan kecewa dengan penglihatanku ini. Pelan-pelan akan aku berikan bukti-bukti itu satu persatu. Aku yakin Paman Herman dengan semua ini," jelas Adinda.
"Oke. Kamu jangan salah melangkah. Kamu juga membawa nama perusahaanmu itu. Jangan sampai Netty tahu akan hal itu.diam-diam saja kamu memberikan buktinya kepada Herman," pinta Budiman yang memberikan saran terbaiknya.
"Okelah Kak. Terima kasih atas sarannya. Ternyata kamu sudah sembuh ya. Aku bersyukur mendapatkan suami yang sudah mau bekerja sama denganku," bisik Adinda.
"Kalau aku nggak sembuh Bagaimana bisa menerimamu? Kamu adalah obat utamanya. Jujur kamu memang sangat lucu dan pemarah jika aku masih sakit. Memang yang namanya cinta itu buta. Sangking butanya aku tidak paham mana yang baik dan mana yang buruk. Kamu sekarang adalah pelita hidupku. Selamanya kamu menggandeng tanganku agar mendapatkan cahaya terang," puji Budiman sambil merangkul tubuh Adinda.
"Ayo kita ke sana. Mereka sudah menunggu kita. Besok kan tanggal merah. Kita akan menghabiskan waktu hari ini untuk bersenang-senang," ajak Adinda yang membuat Budiman semakin semangat untuk berkumpul dengan keluarga besarnya itu.
Mereka akhirnya bertemu dengan keluarga Adinda. Sebelum menonton, Tia mengajak mereka ke restorannya. Tia ingin sekali mereka mencicipi menu baru di restoran tersebut. Baru beberapa hari meluncur, menu itu laris manis.
"Ke restorannya aku yuk," ajak Tia sambil mempromosikan restoran itu kepada mereka.
"Memangnya ada apa di sana?" tanya Adinda yang pura-pura tidak tahu.
"Masa kamu nggak tahu sih ada menu baru di sana. Aku akan memberikan kalian makanan gratis untuk malam ini," jawab Tia sambil mengajak mereka berjalan.
"Ternyata Ibu sangat jago sekali ketika menawarkan menu baru ke anak-anaknya," puji Budiman yang membuat Tia tersenyum.
"Memang seharusnya aku menawarkan kalian untuk makan di sana. Siapa tahu nanti kalian bertemu klien dan mengajak mereka datang ke sana. Dengan cara itulah kalian membantu ibu sedikit demi sedikit untuk mempromosikan menu baru," sahut Tia.
"Tenang saja. Nanti aku bantu untuk mempromosikannya. Lagian teman-temanku pada doyan makan. Kalau enak akan dijadikan sebagai tempat favoritnya. Ditambah lagi jika restoranmu itu dibuat sekeren mungkin. Mereka bisa datang membawa keluarganya untuk makan-makan," kata Kamila yang tulus untuk membantu Tia.
"Apakah itu benar?" Tanya Tia yang tersenyum manis menatap wajah Kamila.