
"Yang harus kita lakukan adalah diam sementara waktu. Kalau kita nggak diam seperti ini, mereka akan mencari cara untuk menghancurkan kita dalam waktu dekat ini. Biarkanlah Adinda yang akan menanganinya. Memang sedari dulu Adinda sudah membuat nama Gilang menjadi musuh bebuyutan. Kamu kasih tahu kematian tentang Rizal? Adinda sampai saat ini masih dendam kepada Gilang. Semoga saja hal ini tidak terjadi untuk kedua kalinya," jelas Malik yang membuat Andra paham.
Mereka memutuskan untuk kembali ke kantor. Lalu bagaimana kabar tentang Netty? Gadis itu benar-benar sekarat. Tubuhnya rasanya sudah mau patah. Baru kali ini dirinya kalah telak dari Adinda. Ia sudah tidak bisa bangun lagi dan ingin membalaskan dendamnya. Namun dirinya masih berusaha untuk tetap bangun. Akan tetapi ia terjatuh dan terjatuh lagi. Bahkan dirinya memudahkan darah lagi.
Adinda tidak tahu kalau Budiman memiliki ilmu tenaga dalam. Sebab Budiman sering mengikuti ilmu pernafasan yang dipimpin oleh pamannya dulu. Untung saja Budiman melemparkan Netty tidak terlalu kencang. Jika saja Netty terbunuh, kemungkinan besar Budiman menjadi seorang tersangka.
Sesampainya di bandara, mereka sudah kembali tenang. Jujur Adinda sangat bersyukur sekali. Karena Adinda sendiri melihat sang ibundanya tidak terluka. Lalu bagaimana dengan Pak Gono? Untung saja saat ini kasus tentang penculikan Tia sudah ditangani oleh pihak kepolisian. Mobil yang dipakai oleh Tia sedang dilacak. Semoga saja Pak Gono beserta mobilnya baik-baik saja. Sebab mereka juga mengkhawatirkan keadaan Pak Gono. Karena Pak Gono sendiri adalah seorang sopir yang sudah lama ikut dengan mereka.
"Untung saja semuanya sudah beres. Andai kalau tidak beres, aku membatalkan perjalanan ini. Aku tahu sekarang Gilang sudah berada di Singapura. Gilang mencoba mencari alibi untuk lepas dari kasus ini," ucap Adinda.
"Aku nggak pernah mengira kalau kejadian ini akan terjadi. Jujur aku baru mengetahui tentang kamu. Kamu itu adalah CEO memiliki riwayat yang sangat bersih sekali. Sangking bersihnya kamu tidak pernah melakukan kecurangan. Aku nggak habis pikir deh sama mereka. Kenapa kamu diserang oleh Gilang tanpa ada alasan tertentu? Inilah yang menjadi pertanyaanku sendiri," tanya Budiman.
"Kemungkinan besar Adinda itu memiliki jiwa pemimpin yang baik di perusahaannya. Semenjak memimpin perusahaannya itu bisa menjadi besar Kak. Gilang yang berada di atasnya langsung jatuh ke bawah. Karena Adinda memimpin dengan ulet. Ditambah lagi Adinda memiliki cita-cita besar untuk membawa perusahaan ini kembali ke masa jayanya dahulu. Gara-gara itu gilang sangat marah sekali kepada Adinda," jelas Andara yang membuat Budiman paham.
"Sebenarnya aku nggak merasa begitu ya. Aku hanya menjalankan perintah dari almarhum kakekku," jawab Adinda. "Aku juga nggak merasa untuk menyenggol Gilang sama sekali. Aku nggak tahu apa yang harus dilakukan untuk saat ini."
"Jika kamu melepaskan tender tersebut," ucap Tio yang menggantung.
"Jika Adinda melepaskan tender itu. Kemungkinan terjadi para klien tidak akan percaya lagi pada SM Company. Itu hanya analisaku saja," kata Budiman yang beranalisis tentang tender tersebut.
"Apa yang dikatakan oleh kak Budiman benar. Itulah kenapa aku harus mempertahankan tender tersebut. Ditambah lagi, tender ini adalah hasil kerjasama bersama tim ku sendiri. Jujur dari pagi hingga pagi kami memikirkan, bagaimana caranya bisa mendapatkan tender tersebut? Memang cukup sulit buat kita. Kalau aku melepaskannya begitu saja. Para karyawanku akan kecewa. Soalnya mereka bersemangat sekali menerima tender tersebut," jelas Adinda yang tangannya mengepal dan tidak akan melepaskan bilang begitu saja.
"Sekarang aku butuh kekuatan. Jika kamu mau membantuku. Aku akan membantu perusahaanmu lepas dari Gilang. Aku tahu kamu juga jadi bulan-bulanannya Gilang. Aku tahu Gilang akan menghancurkan karirmu. Jika kamu nggak mau bekerja sama. Aku tidak akan memaksamu. Biar aku saja yang menghabisinya," imbuh Adinda.
"Masalahnya bukan itu Din. Ini juga menyangkut beberapa keluarga sekaligus. Jika aku hancur, ketiga keluarga besarku akan dihancurkan oleh Gilang. Mereka tidak pernah mau bekerja sama dengan dia. Jika saja mereka pro bersama Gilang, mereka tidak akan hancur begitu saja," sahut Budiman.
"Bingung sih. Ya sudah sembari menunggu kita makan terlebih dahulu. Aku yakin pesawatnya akan tiba sebentar lagi. Kita tidak perlu memikirkannya terlalu jauh. Percuma saja kalau dipikirkan sekarang. Ini menjadi air mengalir," balas Adinda.
Mereka memilih untuk diam dan tidak berbicara apa-apa lagi. Jujur apa yang dikatakan oleh Adinda benar. Karir Budiman sengaja dilemahkan oleh Gilang. Setahun belakangan ini, karir Budiman melemah. Banyak yang berasumsi, kalau Budiman tidak cocok sama sekali menjabat sebagai CEO Njawe Groups. Sebab yang mengatakan itu bukanlah orang biasa. Mereka adalah orang berbisnis sengaja dibayar oleh Gilang. Bahkan yang lebih parahnya lagi, Gilang membuang-buang uangnya hanya demi menghancurkan karir seseorang. Adinda berharap semuanya tidak akan terjadi lagi.
Tepat jam 03.00 sore mereka memutuskan untuk terbang ke Singapura. Adinda baru mengetahui kalau Budiman memiliki pesawat pribadi. Jujur dirinya tidak pernah mau mengusik kehidupan orang lain. Bahkan dirinya lebih memilih untuk bekerja dengan giat demi memajukan perusahaannya itu.
Di dalam pesawat Adinda masih diam. Bukan berarti Adinda marah kepada Budiman. Justru Adinda saat ini membongkar kebusukan Gilang. Ia sudah mengetahui tiga keluarga yang akan dihancurkan oleh Gilang. Diam-diam Adinda melancarkan aksinya untuk membuka data-data tersebut. Lalu Budiman? Budiman merasa tidak enak hati. Budiman sebenarnya tidak menolak jika Adinda yang melakukannya. Justru itu, Budiman sangat malu sekali kepada Adinda.
"Kakak kenapa? Kok dari tadi kakak hanya diam saja," tanya Andara.
"Sebenarnya Kakak nggak enak hati sama Adinda. Adinda harus terlibat dalam masalah ini. Aku sendiri nggak habis pikir dengan Gilang. Mau sampai kapan keluarga Gilang seperti ini? Apakah mereka memiliki hobi yang sama untuk menghancurkan orang-orang yang sedang berkembang? Padahal Adinda sendiri tidak pernah menyakiti keluarga Gilang," jawab Budiman sambil menghela nafasnya dengan kasar.
"Ya itu tadi Kak aku jelaskan. Masalahnya Adinda sendiri adalah wanita yang sangat cerdas sekali. Dia suka sekali berbisnis semenjak sekolah. Dalam dirinya memiliki bakat untuk berbisnis. Bahkan ketika waktu magang di perusahaan. Ayah Malik sengaja menyuruhnya magang di perusahaannya sendiri. Saat itu sekolah memberikannya waktu selama enam bulan. Dalam waktu sebulan, SM Company langsung mendapatkan beberapa tender kecil. Padahal saat itu Adinda hanya coba-coba saja. Aku sangat bersyukur sekali memiliki kakak ipar yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata," jelas Andara yang mengetahui sifat Adinda.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Budiman.