Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 191



"Ada udang di balik bakwan. Aku tahu kamu sangat menyukai makanan itu. Tapi kenapa kamu tidak pernah memasak makanan itu buat aku?" tanya Budiman.


"Kamu mau makan dadar jagung?Bagiku itu sangat aneh sekali," jawab Adinda.


"Sebenarnya yang kamu masak itu tidak menjadi masalah buatku. Jujur aku ingin memakan masakanmu itu. Masalah ini sudah selesai. Aku akan merobek surat perjanjian itu yang dipegang oleh papa. Aku tidak ingin berpisah darimu," jelas Budiman.


"Itu terserah kamu saja. Misiku sekarang sudah selesai. membantumu untuk lepas dari Kanaya maupun Gilang. Sekarang apa yang kamu lakukan tentang pernikahan ini?'' tanya Adinda yang sengaja membuat Budiman menjawab pertanyaannya itu.


"Kalau masalah udah selesai masak kamu ingin berpisah dariku sih? Sebenarnya Aku tidak ingin melepaskanmu lagi. Maafkanlah aku jika awal-awal pernikahan ini. Aku sering berkata kasar kepadamu," ucap Budiman.


"Jangan dilakukan lagi ya. Sekarang kamu harus hidup menjadi seorang pria yang sangat baik. Cepat atau lambat kita pasti akan memiliki dua orang anak. Aku berharap kamu bisa menjadi seorang ayah yang baik buat anak-anakmu kelak," pinta Adinda.


"Kalau begitu bimbinglah aku menjadi pria yang sangat baik. Aku tahu kamu sanggup melakukannya. Aku minta kamu jangan pergi dari hidupku lagi," ujar Budiman.


"Itu semuanya tergantung kamu. Ya sudah ayo kita mencari gaun yang bagus buat nanti malam. Semoga saja aku menemukan gaun yang cocok untuk malam ini," sahut Adinda.


"kalau kamu sudah mendapatkannya. Apakah kamu akan menjualnya lagi?'' tanya Budiman.


"Pasti. Meskipun rugi banyak ataupun untung uangnya akan kuberikan kepada orang-orang yang kurang mampu dalam perekonomian keluarganya. Aku harap kamu jangan marah," sahut Adinda.


"Kalau itu aku nggak marah sama kamu. Kenapa harus marah jika kamu melelang gaun-gaunmu dan uangnya diberikan kepada orang yang kurang mampu?" tanya Budiman.


Beberapa saat kemudian, ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya itu. Budiman segera membukakan pintu tersebut dan melihat Tio.


''Prasetyo Widodo. Anaknya Pak Salamun Widodo. Entah ada angin apa dia ke sini untuk menemuiku?'' ledek Budiman sambil menahan tawanya.


"Namaku hanya Prasetyo saja. Kalau Widodo itu nama kakekku. Apakah kamu membiarkan aku berdiri di sini?'' tanya Tio.


"Yang, Apakah Tio disuruh masuk ke sini?'' tanya Budiman sambil menatap wajah Adinda.


"Yang menjadi pemilik kamar ini siapa? Kok malah tanya sama aku sih. Ngapain juga Kak Tio disuruh berdiri di ambang pintu seperti itu?" tanya Adinda balik.


Budiman akhirnya memberikan jalan agar Tio masuk ke dalam. Tio masuk ke dalam sambil menyodorkan tabnya itu ke arah Budiman.


"Apa ini?'' tanya Budiman sambil meraih tab itu.


"Tunangannya Herman tertangkap polisi pagi ini juga. Ibu Tia baik-baik saja. Beliau hanya mengalami luka memar di bagian tangannya saja. Pak Gono dan mobilnya sudah diketemukan," ucap Tio.


"Yang jadi masalahnya, Apakah Pak Gono ikut terlibat dalam masalah ini?'' tanya Adinda.


"Jangan pernah berpikiran buruk kepada orang. Aku yakin Pak Gono tidak akan melakukan hal itu kepada keluargamu," jawab Budiman.


"Kalau aku memiliki firasat, Pak Gono tidak terlibat dalam masalah ini. kamu tahu sendiri Kalau Pak Gono itu sudah mengerti di keluargamu ketika kami masuk sekolah SMP. Jadinya Pak Gono tidak tahu apa-apa tentang masalah ini. Beliau menjadi korbannya Netty. Beliau dibuang bersama mobilnya di tepi sungai. Untung saja ada orang yang menemukannya. Lalu Pak Gono meminta orang tersebut menghubungi pihak kepolisian,'' jelas Tio.