
"Hmmp... mereka sengaja menceritakan semuanya kepada aku. Jujur aku sangat terkejut dengan pernyataan mereka. Tapi mau bagaimana lagi. Aku sudah memaafkan semuanya. Aku enggak ingin keluarga ini hancur berkeping-keping hanya karena Gilang," jawab Kamila tersenyum manis.
"Baguslah. Aku juga tidak akan marah sama mereka. Ada kalanya kita sebagai manusia saling memaafkan," puji Kartolo.
"Setelah ini kita memiliki program apa?" tanya Kamila.
"Program membuat anak," jawab Kartolo dengan asal.
Plakkkk.
"Kamu itu ada-ada saja. Bisa enggak kamu tidak menambah anak? Bukannya anak-anak kita sudah menjadi dewasa?" tanya Kamila.
"Memangnya kamu lupa dengan janji sebelum kita menikah dahulu?" tanya Kartolo sambil menatap wajah Kamila.
"Janji apa?" tanya Kamila balik yang mengerutkan keningnya.
"Jika anak-anak sudah besar. Kamu ingin memiliki adik bayi lagi," jawab Kartolo sambil tersenyum manis.
"Sepertinya itu tidak mungkin dech. Rasanya itu sangat aneh sekali. Masa aku disuruh hamil lagi. Usiaku sudah menua," kesal Kamila yang tidak ingin memiliki anak lagi.
Kartolo tersenyum melihat Kamila yang kesal. Jujur dirinya hanya bercanda saja. Jika saja ia tidak ingin memiliki seorang anak. Ia merasa kasihan sekali kepada sang istri karena usianya sudah menua.
Betapa bahagianya pasangan suami istri itu. Mereka hidup saling melengkapi satu sama lain. Mereka sangat kompak demi cinta dan kasih sayang abadi.
Sementara di kantor kepolisian, keluarga Gilang tidak bisa mengelak kejahatan yang selama ini telah dibuatnya. Mereka juga tidak bisa kabur dari sana. Pembunuhan demi pembunuhan semuanya terungkap satu persatu. Hingga akhirnya pihak kepolisian menyerahkan Gilang ke mereka.
"Semuanya sudah beres. Mama memintaku untuk ikut acara resepsi Kak Albert," ucap Rizal.
"Bagaimana dengan mereka?" tanya Yuki.
"Mereka akan terkurung disini. Tenang saja mereka tidak bisa melarikan diri dari sini," jawab Rizal.
"Tidak apa-apa kalau kita menemui mereka?" tanya Yuki.
"Kan aku sudah bilang sama komandan. Sebelum berangkat aku menceritakan apa yang ada di singapura. Aku memang meminta izin untuk datang ke pernikahan Kak Al. Jadi aku harus menemuinya terlebih dahulu," jawab Rizal.
"Lacak keberadaan Adinda dan juga Andara!" titah Rizal.
Yuki segera melaksanakan titah dari Rizal. Mereka ingin berbelanja bareng untuk membeli sebuah pakaian dan gaun yang akan dipakai di hari pernikahannya Albert.
"Aku sudah menemukan keberadaan mereka," sahut Yuki.
Mereka meminta izin terlebih dahulu kepada pengawalnya. Namun sebelum meminta izin, Rizal mengatakan kalau mereka boleh saja datang ke acara pernikahan sang kakak angkatnya.
Mereka akhirnya pergi meninggalkan kantor tersebut. Mereka segera menancap gasnya menuju ke pusat perbelanjaan. Lalu bagaimana dengan keluarga Gilang? Mereka tertunduk lesu di dua ruangan yang berbeda. Gilang bersama Gandi tidak bisa mengucapkan apapun. Kedua pria itu hanya menghela nafasnya.
Sedangkan Gina bersama Kanaya keduanya ribut. Mereka saling menyalahkan satu sama lain. Gina menuduh kalau Kanaya adalah pembawa sial. Sedangkan Kanaya mengatakan kalau Gina terlalu ambisi mendapatkan kursi CEO milik Njawe Group. Hingga penjaga yang berada disana mulai muak dan sengaja memisahkan mereka berdua dengan bantuan lainnya.
Benar apa yang dikatakan oleh mereka berdua. Semua kunci berada di tangan mereka. Lalu apakah mereka jera dengan kejahatan mereka? Jawabannya tidak tahu.
Bandara Changi Singapura.
Pesawat pribadi milik Faris sudah mendarat terlebih dahulu. Faris, Hernan, Irwan dan Roni segera turun dari pesawat itu.
"Semakin indah saja tempat ini," celetuk Roni.
"Kapan kita terakhir kesini?" tanya Irwan.
"Terakhir kesini bertepatan dengan ulang tahun aku. Aku tahu kalian sengaja menculik diriku ini ketika tidak ada jadwal," celetuk Roni.
"Enak ya... tinggal disini?" tanya Roni.
"Tapi kamu harus meninggalkan pekerjaan kamu," jawab Herman.
"Lha, berarti aku menganggur?" tanya Roni yang bingung.
"Ya... kamu bisa keluar dari pekerjaan kamu itu," jelas Faris. "Aku akan memberikan kamu pekerjaan sesuai dengan kemampuan kamu."
"Pekerjaan apa itu?" tanya Roni.