Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 73



"Keadaannya sudah membaik. Semoga saja Nonamu itu tidak kabur-kaburan dari rumah," jawab Tia yang berharap Adinda tidak pergi setelah keluar dari rumah sakit.


Mereka tersenyum mendengar jawaban dari Tia. Mereka sudah tahu kalau Adinda suka kabur-kaburan dari rumah meskipun fisiknya masih lemah. Namun ada beberapa orang ingat tentang Budiman. Mereka tahu ketika pada awal pernikahan. Mereka sering sekali mendengar pertengkaran antara Budiman dan Adinda di dalam kamar.


"Bu, Apakah Nona Adinda Masih bersama dengan Tuan Budiman?" tanya Mila yang sedikit ketakutan untuk mengetahui tentang Budiman.


"Iya," jawab Tia. "Memangnya ada apa?"


"Maaf nih ya Bu saya ingin mengatakan sejujurnya. Sedari dulu kamu tidak menyukai Tuan Budiman. Hampir setiap hari Tuan Budiman itu orangnya kayak es batu dan arogan. Terus sekarang ini Tuan Budiman telah menikahi Nona Adinda. Apakah ibu tahu? Kalau setiap malam mereka selalu bertengkar," tanya Mila balik.


Deg.


Tia baru sadar kalau Sang Putri sering sekali berantem dengan Budiman. Bahkan ia sendiri mendengarnya secara langsung. Namun anggapan Mila itu salah besar. Wanita itu tidak mengetahui bagaimana keadaan Budiman dan Adinda saat itu? Jadinya bila telah membuat khawatir sang Nyonya besarnya itu.


"Iya, nanti kalau udah pulang aku tanyain. Masalah pertengkaran itu biasa dalam pernikahan. Apalagi masih baru.Namanya juga menyatukan dua kepala menjadi satu. Jadi wajarlah jika mereka berantem," jelas Tia yang sengaja menutup-nutupi keadaan Budiman dan juga Adinda.


Tia tidak akan menanyakan hal tersebut. Tia tahu konsekuensinya tentang nikah paksa ini? Bahkan dirinya sudah mengalaminya. Ia akan menutup mulutnya ketika mengetahui jawaban sesungguhnya.


Bayangkan saja, jika masalah rumah tangga seseorang hingga keluar dan didengarkan oleh orang lain? Semua orang pasti sangat kesal. Budiman dan Adinda pada awal tidak pernah berantem. Malahan Adinda sendiri menyuruh Budiman tidur di ranjangnya. Jujur, Budiman sangat dingin sekali pada waktu itu. Tapi Adinda tidak menjadi masalah.


Tepat jam 07.00 malam, Adinda dan Budiman telah sampai ke rumah. Tak selang berapa lama, mobil Faris dan Herman pun sampai juga. Mereka juga keluar secara bersamaan. Budiman dengan cepat menggendong tubuh Adinda.


Jujur, kali ini Faris sangat terkejut sekali. Ia tidak sengaja menatap Budiman rela menggendong Adinda. Lalu Herman mendekatinya dan memukul lengan Faris. Ia menatap wajah Faris sambil menyimpulkan, kalau hubungan mereka semakin membaik.


"Sepertinya Budiman sangat serius sekali untuk menjalin hubungan percintaan dengan adikmu itu," ucap Herman yang tersenyum.


"Kalau kayak gini sih aku ikhlas melepasnya. Aku harap Budiman bisa menjaga Adinda. Aku juga tidak ingin Budiman kembali lagi ke Kanaya. Sekarang Adinda sendiri akan menjadi pelindung Budiman," ujar Faris.


Faris juga tidak ingin mengharapkan kalau Budiman kembali lagi ke Kanaya. Sudah cukup penderitaan Budiman hingga saat ini. Budiman harus merasakan kebahagiaan bertubi-tubi. Agar Budiman bisa menjadi kepala keluarga sangat baik buat Adinda dan anak-anaknya kelak.


"Berikanlah Budiman kesempatan. Jangan langsung men-judge orang memiliki kelakuan buruk. Budiman sendiri bukan orang yang sangat buruk. Budiman ingin menjadi orang baik," sahut Herman yang sekaligus memberikan nasehat kepada Faris.


"Kamu benar juga. Aku nggak boleh egois sedikitpun sama Adinda. Aku akan membiarkan Adinda bahagia bersama Budiman," kata Faris yang mulai membuka hati buat adik iparnya itu.


"Kalau begitu ayo kita masuk. Tio sama Andara udah ada di dalam. Setelah ini kita akan membahas tentang Gilang. Adinda harus tahu kalau Gilang sudah membuat ultimatum. Yang dimana ultimatum itu bisa membuat lawan kena mental," jelas Herman.


"Jangan sampai Adinda tahu soal ini," celetuk Faris.


"Sebaiknya masalah ini nggak usah ditutup-tutupi dari Adinda. Ingatlah, adikmu itu memiliki kelebihan di bidang teknologi. Sekalinya mengotak-atik website resmi milik Perusahaan kita. Nanti Adinda sendiri akan mengetahuinya satu persatu," jelas Herman.


"Maksudnya bukan begitu. Adinda masih sakit dan nggak boleh stres," kesal Faris yang terhadap adiknya itu.


Mendengar perkataan dari Herman, Faris langsung menelan salivanya dengan susah payah. Faris mengakui kalau Adinda adalah wanita yang sangat mengerikan sekali. Sekalinya marah bisa menghancurkan semuanya. Itulah kenapa Faris tidak mau membuat masalah kepada Adinda.


"Dengan terpaksa aku akan mengatakan sejujurnya di hadapan Budiman," kesal Faris.


"Nah makanya itu, aku bilang apa? Kalau soal urusan biasa Adinda nggak jadi masalah. Malahan Adinda sendiri nggak ikut campur dengan masalah itu. Sekarang masalah perusahaan. Kamu harus sadar akan hal itu. Kalau kamu nggak bilang nanti kamu tahu apa akibatnya," jelas Herman lalu masuk ke dalam rumah.


"Bener juga sih apa yang aku katakan. Kalau dalam dunia bisnis, adikku bukanlah adikku sebenarnya. Jika ada sedikit masalah aku yang akan menjadi amarahnya. Oh, ini sangat menyeramkan sekali. Jujur saja Aku sangat takut akan hal itu," batin Faris sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam.


Di sana Adinda langsung disambut oleh Malik dan juga Tia. Malik sangat bersyukur sekali ketika Kevin memberitahukan kabar Adinda sebenarnya. Sebenarnya Malik jarang sekali ke rumah sakit. Ia sangat sibuk dengan perusahaan maupun anak didiknya di salah satu kampus terkenal di kota Jakarta. Akan tetapi Malik selalu saja mengirimkan pesan kepada Adinda setiap satu jam sekali.


Selang beberapa menit kemudian, Faris menatap Adinda sambil memberikan kode. Faris mengajak Adinda ke ruangan kerjanya. Namun Budiman menahannya agar Adinda beristirahat. Akan tetapi Adinda menolaknya. Adinda memiliki feeling yang tidak enak di perusahaan. Adinda terpaksa mengajak Budiman ke ruangan kerja.


"Din, temui aku di ruangan kerja ayah. Ada banyak masalah yang harus kita bicarakan satu persatu," ucap Faris yang meminta Adinda untuk pergi ke ruangan kerjanya.


"Apakah nggak bisa besok?" tanya Budiman.


"Ini masalah sangat penting. Adinda harus mengetahuinya untuk saat ini juga," jawab Faris secara terang-terangan.


"Ya sudah deh kalau begitu. Kakak tunggu saja di ruangan kerja terlebih dahulu. Aku ingin bernegosiasi kepada Budiman. Agar malam ini aku lancar bekerja," ucap Adinda dengan serius.


Dengan terpaksa Faris pergi dan menggerutu sepanjang perjalanan. Memang benar apa yang dikatakan oleh Herman. Hubungan Adinda dan Budiman sekarang sudah membaik. Bisa dikatakan mereka sedang menjalin hubungan percintaan dengan serius.


Kembali lagi ke Adinda. Adinda sendiri tidak menyangka kalau Budiman sudah memberikan warning. Namun hatinya juga sangat bahagia sekali. Baru kali ini Budiman memberikan perhatian lebih. Lalu dengan cepat Adinda mendekati Budiman sambil memegang tangan kekarnya itu.


"Kamu tahu nggak? Aku memiliki firasat yang tidak enak buat perusahaan utama. Jadi mau tidak mau aku harus mencari cara untuk membicarakan ini sama Kak Faris dan juga Paman Herman," jelas Adinda.


"Tapi ini sangat malam sekali. Kamu juga harus istirahat," ucap Budiman yang sedang menahan emosinya.


"Ya nggak gitu kali. Lebih baik kamu ikut dan menanyakan ada apa sebenarnya? Ini pasti tentang Gilang," ujar Adinda.


"Ini masalah sangat gawat sekali. Kalau Gilang sudah bertindak. Maka kita tidak bisa ngapa-ngapain lagi," sahut Budiman.


"Memangnya kamu sudah tahu ya tidak langkahnya Gilang?" tanya Adinda.


"Aku memang sudah dari dulu sudah tahu. Aku memilih diam karena tidak mau berurusan dengan orang gila seperti dia. Tapi aku nggak nyangka kalau Kanaya telah menghianatiku. Tio sudah memberikan hasil investigasinya terhadap Kanaya. Apa yang kamu katakan itu benar. Hatiku sakit tak berdarah. Aku nggak tahu mereka sedang membuat rencana apa di belakangku," jelas Budiman yang menyesali perbuatannya dengan Kanaya.


"Nggak usah nyesel gitu. Buatlah pelajaran agar bisa menjalani hidup dengan berhati-hati. Aku memang sedari dulu ingin menyadarkanmu. Tapi aku nggak sanggup," tutur Adinda dengan lembut.


"Kenapa kamu nggak sanggup?" tanya Budiman.