Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 181



"Mending kamu laporkan masalah ini ke kepolisian. Tapi kamu enggak usah mengurus sama sekali. Kamu harus bisa membuat mereka tunduk dan taat dalam hukum," jawab Faris yang memberikan sebuah opsi.


"Berhubung kali ini ku enggak merasa kasihan sama mereka. Jiwa iblisku berkata. Aku ingin membunuhnya hari ini juga!" geram Herman.


"Jangankan kamu. Kami juga geram karena ulah mereka," sahut Malik.


"Lalu apa yang ayah lakukan kali ini?" tanya Faris.


''Yang ayah lakukan untuk sekarang ini, ayah tidak ingin meminta Herman mengurus mereka. Ayah sekarang memang ingin sekali meminta bantuan kepada Kak Husein," jawab Malik yang menghempaskan bokongnya di hadapan mereka.


"Apakah pihak kepolisian sudah menemukan mobil ibu?" tanya Faris.


"Untuk saat ini belum ditemukan sama sekali. Entah kemana Pak Gono berada," jawab Malik.


"Kasihan Pak Gono. Pak Gono tidak merasa bersalah sama sekali. Aku tahu ini pasti ada kecurangan dari Netty," kesal Herman.


"Bagaimana kalau Pak Gono terlibat?" tanya Faris.


"Tidak mungkin terlibat. Aku tahu Pak Gono bagaimana orangnya. Beliau adalah orang yang santun dan peduli pada keluarga ini," jawab Herman yang mengetahui Pak Gono.


"Kalau mobilnya hilang biarkan saja. Kalau Pak Gono kenapa-kenapa kasihan keluarganya. Yang aku tahu istrinya tidak baik-baik saja. Adinda juga tahu tentang masalah ini," jelas Malik. "Kami berdua pernah berkunjung kesana dan melihat keadaannya."


"Hmmp... aku akan menuruti keinginan Kak Malik dech. Aku juga tidak ingin berspekulasi tentang adanya Pak Gono. Kalau soal Netty aku akan mengangkat tanganku dan tidak ingin mengurusi kasus ini. Aku ingin semuanya berjalan lancar dan sesuai dengan keinginan kita. Istilahnya sekarang adalah orang sudah diberikan hati malah minta jantung," kesal Herman.


"Paman harus tegas dengan semuanya ini. Paman juga memiliki keluarga. Lalu apakah Paman harus mengalah dan membantu mereka?" tanya Faris. "Kami sangat marah sama paman jika sampai membantu mereka semuanya."


"Aku juga angkat tangan jika kamu membantu mereka. Kamu harus memikirkan nasib Adinda sekarang. Adinda kecewa dengan sahabatnya itu. Aku harap kamu paham ternyata semuanya ini," ungkap Malik yang tidak ingin Herman ikut-ikutan masalah ini.


Sebenarnya sangat berat buat Herman. Kita sudah tidak ada namun rasa kasihan itu yang bisa mengalahkan semuanya. Tapi mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Kasihan nanti ada yang membuat orang-orang kecewa. Inilah yang dinamakan kebingungan semata.


"Berikan dia pelajaran. Mana yang baik dan benar. Nggak usah membuat semua orang tunduk kepadanya. Kalau kita tunduk kepadanya, kita yang akan kalah dari mereka," ucap Malik yang sengaja memberikan nasehat kepada Herman.


"Bagaimana dengan Kak Tia?" tanya Herman.


"Tia sudah baik-baik saja. Untung saja kakak ipar begitu adalah mantan atlet karate. Jadi Kakak kamu itu memiliki keberanian yang luar biasa. Keberaniannya itu diturunkan kepada Adinda," jawab Malik. "Kapan kalian pergi ke Singapura?"


"Besok pagi bersama Roni dan Irwan. Mereka sedang mengambil cuti dalam beberapa hari kedepan. Mereka sangat malas untuk aku ajak liburan seperti ini. Mereka juga butuh hiburan. Makanya besok aku ajak sekalian. Ditambah lagi Albert adalah teman masa kecil kita bersama. Mau nggak mau mereka harus hadir dalam pesta pernikahan itu. Soalnya Albert berharap mereka itu hadir," jawab Herman.


"Kamu benar. Aku harap semuanya baik-baik saja dalam pernikahan itu. Aku tidak bisa datang dalam acara pernikahan itu. Ibu kamu masih memiliki cedera pada kulitnya. Jadi terpaksa kalian wakilkan lah kami," ucap Malik.


Mereka menganggukkan kepalanya tanda setuju. Mereka juga tidak memaksa kalau Malik tidak ikut bersamanya. Hal ini dikarenakan masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dan juga menjaga Tia.


Singapura, Singapura.


Tempat tengah malam jalanan masih ramai. Bintang-bintang masih menghiasi angkasa milik Singapura. Adinda yang sedang memakan waktu itu sangat menikmati indahnya malam ini. Sementara Budiman memutuskan untuk menatap Adinda yang sedang memakan waffle.


"Kita sudah menghabiskan banyak jajanan di jalanan seperti ini. Aku yakin nanti berat badanmu naik," celetuk Budiman.


"Jujur aku bingung bagaimana cara menaikkan berat badan yang ideal. Sementara aku memiliki berat badan tidak sepadan dengan tinggi badanku. Aku bingung untuk saat ini. Ingin gemuk dikit aja susah banget," ucap Adinda.


"Aku nggak peduli dengan tubuhmu itu. Itu sangat indah sekali jika tidak memakai baju," ungkap Budiman secara blak-blakan.


"Kenapa ya kalau setiap pria paling suka banget lihat istrinya tidak memakai baju? Padahal kalau sang istri tidak memakai baju, ujung-ujungnya masuk angin," tanya Adinda yang kesal.


"Nggak apa-apa. Kan ada Mas Budiman bisa menghangatkanmu sepanjang malam," jawab Budiman dengan centil.


"Astaga ini orang," ucap Adinda sambil tersenyum.


"Bagaimana perasaanmu setelah ketemu Rizal?" tanya Budiman yang sengaja mengambil waffle itu dan memakannya.


"Dia sangat mencintaiku. Tapi dia mau berusaha mengalah untuk kamu. Adik saja saat itu kamu nggak gila seperti itu. Kamu udah besar aku akan menikah dengan dia," jawab Adinda.


"Kenapa dia meninggalkanmu? Seharusnya dia mempertahankanmu sampai detik ini," tanya Budiman.


"Cinta itu tidak harus memiliki. Cinta itu tersimpan indah di dalam hatinya masing-masing. Aku tidak memintanya lagi. Aku berharap cintanya itu diberikan kepada Yuki. Aku tahu sorot mata Rizal kepada Yuki itu sangat berbeda. Rizal diam-diam mencintai Yuki. Tapi Rizal memiliki gengsi yang cukup tinggi. Sedangkan Yuki adalah seorang wanita yang lembut dan penuh kedamaian. Aku sangat suka dia jika sedang berkumpul. Aku sering-sering tentang dunia hacker. Makanya kalau kamu tahu aku tentang hacker, aku belajar dari Yuki," jawab Adinda.


"Seorang wanita modern memang dituntut untuk menjadi cerdas. Seiring berjalannya waktu kamu harus bisa mengimbangi teknologi yang semakin lama berkembang dengan pesat. Siapa tahu kita membuat perusahaan dan menciptakan apapun itu tentang semuanya," puji Budiman.


"Aku harap kamu nggak marah sama sekali. Aku harap kamu sabar menghadapi aku seperti ini," pinta Adinda.


"Justru seorang pria sangat menginginkan memiliki istri yang sangat cerdas. Apalagi seorang istri harus mengetahui tentang suaminya itu. Aku yakin kamu mampu mengimbangiku dalam segala hal apapun. Karena aku sendiri adalah seorang CEO. Yang di mana seorang CEO harus dituntut untuk berinovasi dan memimpin perusahaan menjadi sangat besar sekali. Aku ingin kamu mendampingiku dan berdiskusi tentang apapun itu," pinta Budiman.


"Lalu Bagaimana dengan rencana besok yang kita kerja sama dengan Rizal?" tanya Adinda.