
"Kabar Andrew baik-baik saja. Untung saja mereka sudah pindah ke Inggris. Jika saja mereka masih tetap tinggal di Indonesia. Kemungkinan besar Andrew akan hancur. Bukankah dia adalah adik kamu yang paling kecil sendiri?" tanya Kamila balik.
"Apakah Andrew masih marah tentang masalah tersebut? Jujur aku pengen menemuinya. Tapi saat ini aku belum bisa. Aku malu karena masalah besar ini," jawab Kartolo.
"Sebenarnya Andrew tidak pernah dendam sama kamu ataupun keluarga lainnya. Andre sudah mengetahui kalau konflik ini sengaja dibuat untuk menghancurkan kalian. Rencana besar ini sudah diketahui semenjak bertemu dengan Herman di London pada waktu itu. Sebenarnya Herman tidak mau mencampuri urusan keluarga ini. Berhubung Adinda kena getahnya, Herman geram dan membuka semuanya di hadapan Andrew. Akhirnya Andrew dan Lady paham semuanya. Andai saja Herman tidak membukanya, Andrew akan menyerang keluarga ini dengan menghancurkan Budiman," jelas Kamila.
"Aku sangat berterima kasih kepada Herman. Sebenarnya Herman ke London untuk mencari keberadaan Andrew. Niatnya, Herman itu ingin menyatukan Andrew dengan keluarga kita. Herman memang sengaja melakukannya demi kehidupan Adinda dan juga Budiman," sambung Kartolo.
"Apakah itu tidak bahaya? Jika Gilang mengancam nyawa Herman?" tanya Kamila.
"Sebenarnya nggak ada bahaya sih. Herman memiliki koneksi di mana-mana dibandingkan Gilang. Bahkan pengacara yang dimiliki oleh Gilang saja kalah berdebat sama Herman. Pengacaranya itu pernah dirujak bareng-bareng sama Adinda," jawab Kartolo.
"Apakah itu benar?" tanya Kamila yang terkejut atas jawaban Kartolo.
"Itu benar. Pada waktu itu pengacara tersebut menyindir Adinda di sosial media. Untung saja Herman orang yang pertama kali melihatnya. Dengan terpaksa dia memberitahukan kepada Adinda. Kamu tahu sendiri kan akhirnya mereka sindir menyindir di sosial media. Dengan beraninya Adinda membuka sebuah fakta. Kalau pengacara itu adalah pengacara kotor. Terungkap jelas kejahatan pengacara tersebut langsung merebak. Nggak cuma Adinda saja yang membukanya. Ternyata banyak orang-orang yang membuka kejahatannya satu persatu. Jadinya pengacara itu tertangkap dan sampai sekarang masih di penjara," jawab Kartolo.
"Keren banget ya Adinda. Seorang wanita yang memiliki banyak keunggulan dalam segala bidang. Energik dan sporty yang membuat Adinda menjadi semangat. Yah meskipun ke kantor nggak pernah memakai baju formal. Tapi Adinda tidak merasa malu. Bahkan seluruh perusahaan yang dipegang oleh Adinda membebaskan karyawannya untuk memakai baju apa saja. Aku sangat bangga itu. Untung saja Adinda sudah menjadi menantuku yang paling baik," ucap Kamila.
"Kalau begitu kamu beristirahat saja. Jangan ke mana-mana kalau tidak ada kepentingan khusus. Aku tahu keluarga Gilang menginap di hotel yang sama dengan kita. Sebentar lagi Adinda dan Budiman sampai di sini," pesan Kartolo.
Kamila pun menganggukkan kepalanya. Ia menuruti keinginan sang suami agar diam di kamar hotelnya. Ia tidak ingin bertemu dengan Gilang maupun keluarganya. Ia akan menunggu kedatangan putra-putrinya itu dengan sabar.
Bandara Changi Singapura.
Setelah pendaratan, Adinda mendapatkan sebuah pesan dari Yuki. Yuki akan datang ke acara pernikahan Albert. Karena Yuki sendiri mendapatkan undangan langsung dari kedua orang tua Albert.
"Akhirnya Yuki datang. Aku sudah tidak lama menemuinya," ucap Adinda yang membuat Andara terkejut.
"Apakah Yuki Karlina? Orang yang memiliki tinggi badan seperti tiang listrik? Terus Yuki sendiri adalah teman kamu ketika kuliah di Harvard? Terus Apakah dia sering memakai dialek bahasa Jawa?" tanya Andara bertubi-tubi.
"Ya kamu benar. Kamu bisa kok berkenalan dengan Yuki. Enak buat ngobrol dan santai. Aku dengar Yuki sudah menikah dengan seorang polisi dari Amerika. Tapi akhir-akhir ini aku kehilangan kontak. Gara-garanya hp-nya Yuki hancur terlindas truk," jawab Adinda.
"Apakah kita akan di sini dan mengobrol sampai larut malam?" tanya Budiman yang kesal terhadap sang adik yang selalu membooking Adinda.
"Susah juga kalau orang mau pacaran. Lama-lama aku ingin melemparkan bandara ke kamar mama dan papa. Agar anda tidak akan merusak rencana malam ini," bisik Budiman yang berjalan sambil merangkul Adinda.
"Kalian ini sangat kebiasaan sekali. Bukankah kalian sudah damai? Lalu kenapa kalian tidak damai seperti tadi? Jujur aku sendiri kesal sama kamu. Soalnya Andara tidak memiliki kekasih," kesal Adinda. "Jangan berdebat di sini. Aku capek harus menunggu kamu mengeluarkan kata-kata dan menguntainya satu persatu."
Budiman hanya tersenyum karena Adinda marah. Saat di luar area parkir, ada sebuah mobil SUV hitam menghampirinya.
"Ini mobil siapa?" Tanya Adinda.
"Ini mobil milik Papa yang sengaja dibawa dari Jakarta. Papa sangat males kali jika harus menyewa mobil di sini. Sebenarnya sih persyaratannya tidak susah. Berhubung ini mobil sudah menjadi mobil internasional. Jadi Papa merasa nyaman saja memakai mobil ini," jawab Budiman.
Mereka pun masuk ke dalam mobil. Memang benar mobil yang dipakai oleh Kartolo sudah memiliki surat izin dari beberapa negara. Jadinya Kartolo tidak perlu lagi menyewa mobil lainnya. Sebab Kartolo orangnya tidak ingin ribet.
Jakarta Indonesia.
Tia bisa tersenyum kembali setelah menjalankan perawatan. Untung saja selesai terjadinya penculikan, Malik membawa Tia pergi ke rumah sakit. Malik berharap dia tidak memiliki luka yang serius. Malik agak kecewa karena tubuh Tia mengandung luka memar.
"Kamu kok masih bisa senyum gitu sih? Tuh di tangan kamu ada luka memar," tanya Malik.
"Mulai lagi deh bucinnya setengah mati," kesal Herman yang sengaja menarik baju Faris dan meninggalkan mereka semuanya.
Namun sebelum Faris pergi, dirinya menarik baju Faris. Faris mengatakan kalau adegan itu tidak baik dilihat sama anak kecil yang belum tahu apa-apa. Jadinya Herman tertawa terbahak-bahak melihat wajah Andra yang masam.
Melihat kepergian mereka, Malik mengulas senyumnya. Malik memang sengaja melakukannya agar mengusir mereka dengan cara halus. Dengan begitu mereka berdua tidak akan terganggu oleh kehadiran Herman maupun Faris.
"Kamu ini selalu saja begitu. Mengusir orang hanya demi kepentingan pribadi saja," kesal Tia.
"Yah mau bagaimana lagi. Lagian juga mereka tidak boleh melihat adegan mesra yang telah tercipta selama puluhan tahun," bisik Malik yang sengaja mengajak Tia ke area parkir. "Bagaimana kalau kita berbulan madu ke langit yang biru tidak ada orang yang mengganggu kita?"
"Kamu ini aneh sekali. Mana ada bulan madu di langit yang biru. Sepertinya kita beristirahat saja. Aku tahu kamu sangat capek sekali. Mengurusi banyak para siswa di mana-mana," jawab Tia yang sengaja mengajak Malik untuk pulang ke rumah.
"Bagaimana kalau kita membuat adik bayi lagi buat Adinda?" tanya Malik yang memberikan sebuah opsi kepada sang istri.