
"Iya itu benar. Aku ingin membantu untuk mempromosikan semua menu yang telah kamu buat," jawab Kamila.
"Terima kasih," ucap Tia yang masuk ke dalam restorannya itu kemudian diikuti oleh semuanya.
"Jangan-jangan Ibu memblokade restoran ini untuk kami?" Tanya Malik yang mulai curiga atas sang istri.
"Tidak juga. Berhubung Hari ini adalah hari kerja. Jadi keadaan pusat perbelanjaan ataupun restoran sepi. Nanti di atas jam delapan malam para pengunjung akan menyerbu restoran ini," jawab Tia.
"Berarti sebentar lagi. Soalnya jam di tanganku menunjukkan waktu pukul delapan kurang sepuluh menit," ucap Malik.
"Nggak apa-apa. Lagian juga kalian nggak sering makan di sini. Ada satu ruangan VVIP yang berada di dekat ruanganku sendiri. Malam ini tidak ada yang memesannya. Jadi kita bisa makan di sana dengan bahagia," ajak Tia.
"Baiklah kalau itu maumu. Kami tidak akan memaksamu lagi," ucap Malik yang akhirnya mengalah pada istrinya itu.
Dia mengajak mereka menuju ke ruangan VVIP tersebut. Kamila yang masuk ke dalam restoran itu sangat kagum sekali. Ternyata restoran itu memiliki ornamen yang bisa dibuat foto-foto. Kenapa dirinya baru sadar? Kalau restoran itu sangatlah bagus.
"Jujur aku menyukai restoran ini. Kenapa tidak terpikirkan olehku? Kalau ada restoran semenarik ini," ucap Kamila yang menguji restoran itu.
"Semuanya ini yang mengatur adalah Adinda dan juga Herman. Mereka berdua memang sangat menyukai mengatur ruangan sendiri. Aku hanya mengatur menu dan masakan," ujar Tia yang memberitahukan siapa yang mengatur semuanya.
"Oh iya... Sedari dulu Adinda memang sudah berbakat mengatur ruangan. Aku sangat berterima kasih sekali kepada Adinda. Beberapa ruangan di rumah Adinda yang mengaturnya," sahut Kamila yang baru sadar atas kelebihannya Adinda.
"Benarkah itu? Sepertinya kamarku harus diatur oleh istriku ini," kata Budiman yang mendapatkan pukulan dari Malik.
"Berikan saja konsepnya. Nanti aku atur sedemikian rupa akan permintaanmu sendiri," ucap Adinda.
Sesampainya di ruangan VVIP, mereka pun masuk dan mengambil posisi duduk di beberapa kursi lainnya. Memang setiap kedatangan mereka selalu membuat heboh. Apalagi ada Adinda, Faris dan Herman selalu saja kompak dalam membuat lelucon di luar nalar mereka.
"Ada apa?" Tanya Tia.
"Nanti malam aku tidak akan pulang ke rumah. Aku akan menginap di kamarnya Pak Budiman ini," tunjuk Adinda ke arah Budiman.
"Tidak apa-apa. Di rumah masih ada Herman dan juga Faris. Dan ibu juga tidur bersama ayahmu," ucap Tia yang membuat Kamila menggelengkan kepalanya.
Baru kali ini, Kamila berkumpul dengan keluarga yang sangat mengasyikkan. Ia sangat mengagumi tentang keluarga Adinda.
Meskipun mereka tergolong orang kaya. Mereka tidak pernah kaku dalam bercanda. Mereka lepas dan tertawa terbahak-bahak. Menurutnya dalam kondisi seperti ini, bisa mempererat tali hubungan kekeluargaan satu sama lain.
Mereka akhirnya memesan makanan favoritnya masing-masing. Lalu mereka menunggu dan mengeluarkan candaan demi candaan dan membuat mereka tertawa.
Awalnya Budiman kaku, lalu mulai bergabung dengan mereka. Memang Budiman terkenal sangat pendiam sekali. Ketika melontarkan tebak-tebakan, semua orang pada tertawa. Tidak sengaja Kamila yang melihat putranya tertawa sangat bahagia sekali. Ia tidak menyangka kalau Sang putra sudah kembali ke zaman sebelum berkenalan dengan Kanaya. Tia yang melihat Kamila tersenyum paham akan situasinya. Ia tidak menyangka kalau situasi seperti ini bisa mencairkan suasana.
"Syukurlah Budiman sudah kembali lagi ke jaman-jamannya sebelum berkenalan dengan Kanaya," celetuk Tia yang membuat Kamila tersenyum bahagia.
"Kamu benar. Aku sangat berterima kasih sekali sama kalian. Jujur aku sangat sedih sekali melihat Budiman seperti mayat hidup. Diam tanpa ada suara. Jalan ya jalan saja tanpa berpamitan kepada aku apalagi sama papanya. Memang awalnya sangat menyakitkan. Budiman yang aku sayangi telah pergi ketika waktu itu. Kami sering sekali bertengkar hanya karena masalah sepele. Pas waktu kami menyindir Kanaya, dia selalu marah dan langsung pergi dari rumah," kata Kamila sambil mengingat kejadian yang telah lalu.
"Aku sendiri tidak tahu dengan Budiman. Setiap kali datang Budiman selalu saja wajahnya muram dan tidak berdaya. Ketika ditanya Budiman hanya mengangguk atau menggelengkan kepalanya saja. Ternyata itu masalahnya," ucap Tia yang mengerti perasaan Kamila.
"Iya itu benar. Aku nggak tahu harus bagaimana lagi. Aku sendiri tidak paham atas anak itu. Untuk sekarang ini Aku merasa bersyukur dan menemukan putraku kembali," jawab Kamila.
"Apakah Kanaya sangat berpengaruh pada Budiman?" tanya Malik yang tiba-tiba saja mendengar obrolan mereka.