
Pov Budiman.
Aku sengaja mendirikan pusat perbelanjaan ini ketika sedang gabut saja. Jujur aku memang sengaja melakukannya. Suatu hari nanti aku bermimpi bisa menjadi seorang yang hebat dan berdiri di atas awan.
Ketika aku menggambar gedung ini. Aku teringat Adinda dan juga Kanaya. Entah kenapa rasa cintaku kepada Kanaya hanyalah palsu belaka. Namun kepada Adinda semakin berat saja. Ketika sedang melamun membayangkan Adinda, Kanaya datang mendekatku dari belakang. Pikiranku langsung hilang dan tidak mengingat Adinda lagi. Rasa itu benar-benar tidak ada sama sekali. Jujur aku membiarkannya saja.
Hari berganti waktu berlalu Aku mengingat adanya Adinda setelah pulang dari London aku sempat mencari bidadariku itu. Tapi dia sudah pergi ke Amerika untuk membangun dan meraih cita-citanya. Jujur aku sangat kecewa sekali. Aku bersedih dan menangis. Lain halnya dengan Kanaya. Aku sudah muak dengan dirinya yang sangat manja. Manjanya itu membuat aku kesal. Dengan terpaksa aku berjanji dalam hati akan menunggunya pulang.
Setelah menjadi seorang CEO di perusahaan besarku, Aku mau minta kakek Jeremy membantu membangun satu pusat perbelanjaan di Singapura. Kenapa aku memilih Singapura? Karena Aku tidak mau kalau keluargaku dan juga Kanaya mengetahuinya kecuali Tio. Dengan begitu perusahaan tersebut masuk ke notaris milik kakek. Ini adalah suatu strategi yang di mana Gilang tidak akan menindasku begitu saja.
Seiring berjalannya waktu aku melupakan pusat perbelanjaan itu. Aku membiarkan kakek beserta asistennya yang mengurus tempat tersebut. Semakin hari pusat perbelanjaanku semakin membesar. Tapi kakek tidak memberikannya kepadaku secara cuma-cuma. Aku tidak tahu kenapa. Sampai saat ini kakek selalu bungkam akan hal itu.
Ketika melihat Adinda sedang makan, hatiku menjadi bahagia. Kebahagiaanku tidak akan aku lewatkan begitu saja. Aku ingin mengumumkan kepada dunia Kalau diriku sudah menikah. Aku berharap tidak ada lagi yang mendekatiku untuk dijadikan sebagai kekasih.
"Aku nggak tahu kenapa akhir-akhir ini sering makan banyak. Padahal diriku tidak makan terlalu banyak. Tapi ya sudahlah. Aku harap kamu tidak marah. Aku menjadi wanita yang sangat lapar sekali," ucap Adinda.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Budiman. Budiman sendiri tidak memperdulikan dengan tubuh Adinda. Bahkan Adinda sendiri menjaga image-nya ketika makan bersama Budiman. Entah itu bagaimana caranya? Adinda itu adalah wanita yang cukup unik sekali.
"Setelah ini kita pergi ke toko Alejandro. Di sana dia sudah menyiapkan beberapa baju untuk dipakai," jelas Adinda.
"Berarti kamu sering komunikasi dengan Alejandro?" Tanya Budiman.
"Hampir setiap hari kami bertukar pesan. Kami sering mencurahkan ide untuk dijadikan sebuah baju yang indah. Kadang-kadang Aku sengaja meminjam bajunya hanya untuk menjadi brand ambassador barang yang akan keluar," jawab Adinda.
"Aku sangka kamu nggak berkomunikasi sama sekali. Baguslah kalau begitu," sahut Budiman.
"Aku harap kamu nggak marah jika hidupku ini berhubungan dengan orang-orang luar. Banyak sekali yang harus aku kerjakan satu persatu. Jujur aku memang sering berkomunikasi dengan adik kelas maupun kakak kelas. Bahkan temen kuliahku masih," jelas Adinda.
"Ngapain harus marah? Bukankah aku sama kamu sudah ditakdirkan bersama? Kamu juga adalah seorang CEO dari perusahaan yang cukup terkenal. Hidupmu berhubungan dengan orang-orang banyak. Mulai dari kalangan bawah hingga atas. Jika mengekangmu aku pasti dibunuh sama Faris dan juga Herman. Bisa-bisa mereka memutilasiku dengan sangat kejam," balas Budiman yang terkekeh melihat Adinda.