
“Nangis kek, sedih,” jawab Tia. “Lha... Kamu kok malah tertawa seperti ini?”
“Ngapain juga aku harus menangis? Lagian ini hanya teror dari kekasihnya Budiman. Kenapa aku harus takut? Kenapa juga aku harus lemah seperti ini?” tanya Dinda. “Tenang... aku tidak akan takut dengan semua ini. Lagian juga Kanaya belum tahu siapa saya dan juga keluarga saya.”
Tia hanya menggelengkan kepalanya sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia tidak tahu apalagi yang dilakukan sang putri setelah ini. Ia takut akan menimbulkan keributan oleh kedua belah pihak.
Sebelum membuang kardus itu, Dinda membaca surat itu. Ia hanya tertawa dan menyimpannya untuk bukti, jika Budi marah soal kardus itu.
Tanpa pikir panjang Dinda langsung pergi ke kamar dan mengambil kertas lalu pulpen. Di sana ia menulis beberapa kalimat. Kalimat itu dibuat sedemikian rupa dengan nada santai. Namun tajam bagi yang membaca.
“Lo... bisa-bisanya meneror gue seperti ini! Teror ini tidak akan membuat gue takut sama sekali. Memangnya gue dikira gadis cupu apa? Maaf... memang penampilan gue biasa saja. Tapi gue memang nggak mau pamer. Gue pengen hidup sederhana sedari dulu. Mobil pun bukan mobil sport. Aku hanya memiliki mobil biasa. Yang harganya hanya sekian ratus juta. Sekarang gue balikin lagi tuh terornya. Jangan sampai Abang sama pamanku bertindak. Jika mereka bertindak. Maka habislah lu. Lu pasti kalah,” ucap Dinda dalam hati.
Dinda segera keluar dari kamar lalu menuju ke dapur. Ia memasukkan kertas itu dan membawa kardus keluar. Setelah keluar Dinda pergi ke tukang ojek yang berada di ujung gang. Ketika sampai sana Dinda melihat seorang pria paruh baya yang menunggu orderan. Ia lalu mendekatinya dan menyapa dengan hangat, “Pak.”
Untung saja si bapak itu tidak terkejut. Ia hanya memandangi ponsel sambil menunggu orderan dari aplikasi tersebut. Si bapak mengangkat wajahnya dan melihat Dinda sedang membawa kardus.
“Neng,” sapa si bapak itu.
“Pak Dirman, tolong antarkan kardus ini bisa tidak?” tanya Dinda sambil menaruh kardus itu ke meja.
“Bisa neng. Yang penting alamatnya jelas. Nanti bapak akan mengantarkan ke tempat tujuan,” jawab Pak Dirman sambil menaruh ponselnya di kantong.
“Ya... udah deh pak,” ucap Dinda yang mengambil uang dua lembar berwarna merah dan menyerahkan semuanya ke Pak Dirman. “Ini ongkosnya.”
Pak Dirman menganggukan kepalanya sambil melihat uang merah dua lembar. Ia mengerutkan keningnya sambil berkata, “Ini kebanyakan neng. Satu lembar saja masih kembali.”
“Enggak perlu kembali pak. Ambil semuanya buat jajan Ningrum,” Dinda menyuruh mengambil uang itu semuanya.
Dengan terpaksa Pak Dirman mengambil uang itu dan berdiri. Sebelum berangkat Pak Dirman mengucapkan terima kasih dan mendoakan kebaikan Dinda. Pak Dirman akhirnya berpamitan pergi ke alamat yang dituju.
Melihat kepergian Pak Dirman, Dinda tersenyum. Ia bergegas menuju pulang ke rumah. Ia tersenyum sumringah. Namun di dalam tubuhnya, Dinda mengeluarkan tanda bahaya. Yang di mana tanda bahaya itu akan terjadi dalam waktu dekat ini.
“Pasti di Budiman yang akan datang ke kantor sambil marah-marah ini. Ah... rasanya aku sudah tidak sabar melihatnya seperti itu. Lagian aku memiliki bukti kuat. Bisa nggak membuat si Budi jantungan dan akhirnya mati? Ih... kok aku jahat banget sama suamiku sendiri. Eits... suami... dari mana dia suamiku? Dia sendiri orangnya tidak hangat sama aku. Apakah itu bisa dikatakan sebagai suami?” tanya Dinda dalam hati.
Ketika sampai di rumah, Dinda masuk ke dalam dapur Di sana ia sudah melihat ada Tia yang sudah menghidangkan makanannya. Sedangkan ia menangkap sang ayah sedang membaca koran. Ia menghempaskan bokongnya di kursi. Seketika sang ibu terkejut sebab ada Dinda duduk dengan santai.
“Kamu bawa ke mana kardus itu?” tanya Tia yang membuat sang ayah terkejut.
“Kardus apaan?” tanya Malik yang menurunkan koran dan melihat Dinda lalu Tia.
“Kardus yang berisi kepala boneka yang berlumuran darah,” jawab Dinda.
“Apa?” pekik Malik.
“Iya ayah. Kardus itu berisikan kepala boneka yang berlumuran darah,” jawab Dinda.
“Siapa yang menerormu?” tanya Malik yang tidak terima dengan sang Putri diteror.
“Siapa lagi kalau bukan Kanaya. Sedari dulu memang Kanaya sering melakukan itu. Wajah kalem tapi memiliki hati yang menyeramkan,” jawab Dinda yang membuat sang ibu agak ketakutan.
Tiba-tiba saja Malik tertawa melihat Tia yang mengeluh. Ia malah mengacungkan jempolnya ke arah Dinda. Ia berterus terang memuji Dinda berani terhadap Kanaya.
Bagaimana dengan Tia sang ibu? Sang ibu masih sangat ketakutan. Jujur yang namanya ibu tidak mau sang Putri kenapa-kenapa. Mengingat ia pernah mengenal Kanaya yang memiliki sifat nekat seperti itu. Apa yang belum tercapai, maka dia akan melakukan segala cara agar semuanya tercapai. Walau ia harus melakukan dengan cara licik seperti itu.
“Apakah ayah pergi mengajar hari ini?” tanya Dinda.
“Pastinya,” jawab Malik. “Memangnya kenapa? Apakah perusahaan membutuhkan bantuan?”
“Tidak yah... aku masih bisa mengatasinya,” jawab Dinda.
“Kalau terjadi kendala hubungi ayah atau Paman Herman. Paman Herman akan membantu kamu menyelesaikan masalah perusahaan,” ucap Malik.
“Aku sudah lama tidak pergi ke rumah Paman Herman. Rasanya aku sangat merindukan pamanku itu,” ujar Dinda.
“Sepertinya Paman kamu ngambek. Karena diam-diam Paman kamu itu sangat marah,” ucap Malik.
“Aku memang salah yah. Seharusnya aku harus membicarakan pernikahan ini ke Paman,” ujar Dinda yang menunduk sedih.
“Jangan sedih begitu. Paman kamu enggak marah tapi ngambek. Dia sangat menyayangkan kamu menikah dengan Budi,” hibur Malik. “Jujur pamanmu tidak rela jika kamu menikah dengan seperti itu. Paman kamu sudah menyelidikinya dan melihat banyak kejanggalan dalam diri Budi. Bisa dikatakan Budi itu orangnya tidak beres. Dia sering menciptakan masalah dan tidak pernah menyelesaikan dengan jantan.”
“Lalu aku harus ngapain?’ tanya Dinda.
“Kamu tujuannya nikah apa?’ tanya Malik yang menatap sang Putri.
“Hanya demi menyelamatkan keluarganya saja. Dan aku tahu tujuan utama Kanaya itu apa? Memacari Budi hingga lama seperti itu. Sedari kecil aku sudah mengenal Andara. Dia teman baikku,” jawab Dinda.
“Baiklah. Sebaiknya kamu fokus menyelamatkan keluarga Andara saja. Jika kamu sudah enggak kuat bersama Budi lepaskan saja. Masih banyak pria yang mengejarku untuk dijadikan seorang istri. Contohnya saja banyak dosen muda di kampus ayah mengajar. Mereka menginginkan kamu untuk dijadikan seorang istri. Karena mereka menganggap kamu sebagai berlian yang mahal. Kalau Budi sadar dan mau berubah. Kamu enggak perlu bercerai. Kamu bisa melanjutkan hidup baru bersamanya hingga memiliki banyak keturunan,” jelas Malik sambil memberikan sebuah pesan untuk Dinda.
“Ibu setuju dengan pendapat ayah. Memang keluarganya Budiman itu sangat baik kepada kita. Ibu mohon jangan kamu sakiti kedua orang tuanya. Mereka berharap bisa terlepas dari jeratan Kanaya,” sambung Tia yang mengetahui kegelisahan besannya itu.
“Ya... sudah kamu sarapan dulu sana. Nanti telat loh ke kantornya,” Malik menyuruh Dinda makan.