Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 163



"Makan aja sendiri sana. Aku mau kembali ke habitatku," jawab Budiman yang berlari meninggalkan Herman.


Herman hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Budiman. Dengan terpaksa dirinya menghabiskan mie dua bungkus. Memang begitulah Budiman, sering sekali makan mie tidak pernah dihabiskan atau tidak dimakan.


Budiman masuk ke dalam kamar. Ia melihat Adinda yang masih tertidur. Sebelum tidur, Budiman berdoa terlebih dahulu. Lalu berharap bahwa mimpi berasal dari Adinda adalah sebuah ilusi.


Tepat jam 05.00 pagi, Adinda terbangun kesiangan. Kemudian Adinda melihat jam dan terkejut.


"Astaga," pekik Adinda. "Kita bangun kesiangan lagi."


Dengan rasa panik, Adinda langsung membangunkan Budiman. Untung saja Budiman mudah dibangunkan. Jadinya Budiman sendiri juga terkejut.


"Hey... bangun. Sudah siang. Ayo bangun," panggil Adinda sambil menggoyang-goyangkan tubuh Budiman.


"Apakah ada gempa bumi pagi ini?" tanya Budiman yang masih terpejam matanya.


"Apanya yang gempa bumi?" tanya Adinda balik.


"Kenapa ranjangnya bergoyang dengan sangat kuat sekali?" tanya Budiman sambil membuka matanya.


"Kita kesiangan. Kita belum mempersiapkan apa-apa. Bukankah kamu tiga kita bangun lalu mempersiapkan semuanya?" tanya Adinda yang mulai menuju ke lemari besarnya itu.


"Kamu mau ngapain?" tanya Budiman.


"Mau mempersiapkan baju-baju kamu," jawab Adinda dengan santai.


"Nggak usah bawa baju banyak-banyak. aku akan menghubungi Tio untuk memundurkan jam penerbangan pesawat pribadiku," ucap Budiman sambil meraih ponselnya di atas nakas.


Adinda menganggukkan kepalanya tanda setuju. Ia berharap jadwal penerbangannya mundur. Dengan cepat Adinda langsung mencari pakaian yang akan dibawanya itu.


Ketika Budiman sedang menghubungi Tio, Tio pun sangat terkejut sekali. Sebab dirinya juga sama-sama kesiangan. Mau tidak mau dirinya menghubungi seseorang untuk memajukan jadwal penerbangannya menjadi siang hari. Lalu Tio menghubungi lagi Budiman dan memberitahukan, kalau penerbangannya menjadi siang hari.


"Syukurlah," ucap Budiman yang penuh dengan rasa syukur.


Melihat Budiman lega, Adinda menatap wajah Budiman. Kemudian ia bertanya, "Sepertinya ada kabar gembira."


"Ada buat kamu. Seharusnya pesawat akan terbang jam tujuh pagi. Berhubung Tio dan juga Andara kesiangan. Tio langsung menghubungi pilot untuk memundurkan jadwal penerbangannya. Nggak selang berapa lama, Tio sendiri mendapatkan jadwal terbang di siang hari. Kita nggak akan mungkin terburu-buru seperti ini. Yang penting kita bisa santai dan menikmati hidup," jelas Budiman.


Di bawah, satu keluarga sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Herman dan Faris sering sekali membantu Tia dengan cara membersihkan rumah. Mereka memang sengaja melakukannya, agar mereka banyak bergerak sana kemari. Hal ini membuat para pelayan mendapatkan bonus ekstra. Bonus extra itu adalah mereka tidak perlu capek-capek lagi membersihkan rumah. Sedangkan para pelayan lainnya, memutuskan untuk mengerjakan pekerjaan lainnya. Ada yang membersihkan taman, garasi, mengelap guci dan lainnya. Di sinilah keluarga Adinda sangat kompak sekali membersihkan rumah. Mereka tidak malu sama sekali. Karena pekerjaan itu adalah pekerjaan yang sangat mulia sekali.


Selesai mengepak, mereka berdua langsung bergabung bersama Herman dan juga Faris. Budiman membantu Faris membersihkan rumah. Sementara Adinda sedang membantu Tia memasak.


"Katanya kamu jadi pergi ke Singapura?" tanya Tia.


"Maunya sih berangkat pagi. Berhubung kami kesiangan, jam penerbangannya pun dimajukan menjadi siang hari," jawab Adinda. "Tumben banget mereka bersih-bersih rumah?"


"Entah ada setan apa mereka seperti itu? Kalau lagi terkena setan baik. Mereka mengusir para pelayan untuk membersihkan rumah," jawab Tia. "Selama kamu di Singapura, kamu harus berhati-hati ya. Kamu nggak boleh lengah sedikitpun. Jaga diri baik-baik. Soalnya, Herman tadi bercerita. Kalau keluarga Gilang pasti akan hadir. Inilah yang membuat Ibu gelisah."


"Semoga tidak terjadi apa-apa. Yang paling bahaya bukan aku sih. Pak Budiman hidupnya dalam bahaya. Soalnya kalau di Indonesia, Pak Budiman banyak yang melindungi. Seperti Kak Irwan dan Kak Roni. Kalau di Singapura nggak akan ada yang melindungi. Kecuali Kak Tio. Terus yang aku dengar, seluruh keluarga besarnya mendukung keluarga Gilang. Nah ini yang jadi pertanyaanku sekarang. Kenapa mereka mendukung kejahatan? Sementara, keluarga Kak Budiman itu orangnya sangat baik sekali. Setiap ada acara, keluarga Kak Budiman sering sekali direndahkan. Bahkan mereka menganggap keluarganya Kak Budiman itu. keluarga yang tidak berguna sama sekali. Sampai sekarang aku bingung," jelas Adinda.


"Nggak usah bingung begitu. Nanti kalau kamu direndahkan. Jangan menangis sama sekali. Kamu itu dilahirkan untuk menjadi wanita tangguh. Apakah kamu paham?" tanya Tia sambil berpesan kepada Adinda agar kuat.


"Selalu Bu. Aku harap besok bisa membalikkan keadaan. Sudah saatnya keluarga Kak Budiman harus bangkit dari hidupnya sekarang. Biarkanlah mereka memakinya. Asal tidak merendahkan Kak Budiman. Memang terdengar sangat konyol sekali. Nanti dikira kalau aku bucin. Sebenarnya sih nggak. Aku memang sengaja memiliki visi untuk menyelamatkan orang baik. Karena semua kejahatan Gilang berada di tanganku. Gilang sendiri tidak tahu. Aku selalu menyembunyikannya," ungkap Adinda sambil membeberkan semua fakta.


Tia pun tersenyum bahagia. Sudah seharusnya kejahatan yang disembunyikan harus naik ke permukaan. Agar semuanya bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Mereka harus melihat Bagaimana keadaan sebenarnya. Memang sulit untuk membuka tabir rahasia. Akan tetapi Adinda harus melakukannya.


"Ma... kami selesai," seru Faris yang tersenyum bahagia.


"Kakak kesambet setan apa? Tiba-tiba saja kok bersih-bersih rumah,'' tanya Adinda sambil menatap Faris.


"Sebelum tidur, kami sedang membuat challenge. memang challenge ini sering kami laksanakan. Ketika kamu kuliah di Harvard sana. Hampir setiap hari kami melakukannya. Bahkan mbak-mbak di sana terkejut atas kegiatan kami. Kami hanya diam dan melanjutkan pekerjaan hingga selesai," jawab Faris.


"Aku kira Kakak sama paman terkena hukuman oleh ibu. Tapi syukurlah kalian tidak apa-apa," ucap Adinda sambil mengiris bawang.


"Sekalian kami berolahraga. Gara-gara kamu menarik tender baru yang berasal dari Australia. Kami harus bekerja sama lebih keras lagi. Agar semuanya bisa maksimal. Mau tidak mau kami memilih sering diam di dalam kantor hingga larut malam. Terpaksa deh, biasanya olahraga nge-gym bersama. Akhirnya batal total. Hanya inilah yang bisa aku kerjakan," jelas Faris.


Tia pun akhirnya tertawa. Makanya tadi pagi Herman sudah memanggil seluruh pelayan. Kemudian Herman memberitahukan kalau sapu menyapu adalah pekerjaannya bersama Faris. Untung saja Herman tidak terkena omelan sama sang kakak iparnya itu. Lalu tepat jam 06.00 pagi, mereka memulai aktivitasnya.


"Makanya tadi, habis sholat subuh pamanmu memanggil mereka. Ternyata ada pemberitahuan. Banyak-banyak berolahraga ya... Agar kamu tidak gendut. Nanti seluruh pacar kamu menjauhi," pesan Tia yang membuat Adinda terkejut.


"Memangnya Kakak punya pacar berapa?" tanya Adinda yang sangat penasaran sekali.