Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 101



"Apakah kamu mengizinkan aku?" tanya Adinda balik.


"Ya... aku mengizinkanmu," jawab. Budiman sambil membuka kamar tersebut. "Ayolah masuk ke dalam. sebentar lagi ini kamarmu juga. Tapi aku lebih menyukai kamarmu yang bersih dan wangi itu."


"Kamu mau minta kamar seperti itu?" tanya Adinda.


"Kamu benar," jawab Budiman yang menyuruh Adinda masuk ke dalam.


Mereka melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Budiman. Pertama kali Adinda melihat kamar Budiman langsung jatuh cinta. Kamar milik Budiman tidaklah terlalu banyak barang. Di tengah-tengah ada ranjang yang berukuran king size. Di sudut ruangan kanan, ada sebuah laptop dan beberapa berkas sedang menumpuk. Di sebelah kiri sudut ruangan, ada satu set sofa yang berwarna abu-abu. Warna dindingnya berwarna abu-abu muda dan didominasi putih. Aromanya pun sangat berbeda dari kamarnya. Aromanya terlalu maskulin membuat hidung Adinda menilai, inilah kamar pria sesungguhnya.


Beda dengan kamarnya Adinda. Kamar Adinda didominasi dengan berwarna biru muda. Ranjangnya juga tidak terlalu besar. kalau dibandingkan dengan kamarnya, kamar Adinda sangat kecil. Tapi Adinda sangat menyukainya. memang kamar Adinda sangat penuh dengan barang-barang. Namun Adinda suka sekali menata barang-barang tersebut menjadi rapi. Itulah kamar perempuan.


"Kamu itu sangat aneh sekali ya? Kamarku itu kamarnya perempuan. Kamarmu Ini adalah kamar khusus untuk pria. Kenapa kamu lebih menyukai kamar perempuan?" tanya Adinda.


"Tapi aku lebih suka cara penataannya," jawab Budiman.


"Gimana ya aku ngomongnya? Sebenarnya kamarku itu sangat kecil sekali. Beda dengan kamarmu ini. Aku lebih menyukai kamar yang sangat kecil itu. Ranjang yang dipakainya pun nggak sebesar punyamu. Yang menata barang-barangku juga aku. Aku nggak terbiasa menyuruh orang untuk masuk ke dalam kamarku. Kecuali Kamu. Kalau kamu ingin mendapatkan kamar seperti itu. Nanti akan aku tata. Jangan pernah menyesali jika kamarmu ini akan penuh dengan barang-barangku. Karena aku memang sengaja menaruh barang-barangku di kamar," jelas Adinda.


"tidak apa-apa. Aku tidak akan marah sama kamu. justru itu aku lebih menyukai kamar seperti itu. kalau kamu ingin meja untuk bekerja. nanti aku belikan. atau aku harus mengganti mejaku ini dengan yang besar?" tanya Budiman yang menyalakan AC agar dingin.


"Nggak masalah," jawab Adinda dengan cepat. "Memangnya kamu nggak bekerja di ruangan kerja?"


"Ya nggak gitu kali Yang. Terus kamu makan malam bagaimana? Jangan bilang kamu nggak makan malam ya?" tanya Adinda.


"Aku sering telat makan malam. Biasanya aku makan jam dua belas malam. Setelah itu aku tidur. Makanya tubuhku sangat kurus sekali. Tidak ada yang mengingatkanku dengan jadwal makanku sendiri. Pagi pun juga sama. meskipun di rumah aku jarang sekali makan. Aku langsung pergi ke kantor untuk mengerjakan tugas-tugasku lagi. Siang pun juga sama. Aku sering telat makan. Tapi aku sekarang menyesal. Aku memiliki kekasih tidak ada guna sama sekali. Dia datang hanya meminta sejumlah uang untuk dibelikan barang-barang branded. Dia datang nggak selalu menanyakan tentang keadaanku bagaimana? Sudah makan apa belum? Hari ini ngapain saja? sekarang aku baru menyesal tentang hubunganku bersama Kanaya. Aku dulu memang gila. Segila-gilanya orang jatuh cinta, masih ingat dengan makan. Aku sendiri tidak ingat apapun. Intinya adalah bekerja dengan giat. Demi membahagiakan wanita ular itu," jelas Budiman yang merasakan hatinya pedih karena dikhianati.


"Nggak semuanya orang itu baik. Kamu bisa menilai orang dari kepribadiannya. Kenapa kamu bodoh menjadi seorang pria Kak? Banyak sekali orang-orang di sekitarmu sudah memperingatkan. Aku pun juga sama. Aku sering marah-marah ke kamu ketika bertemu. Bukan berarti aku jahat sama kamu. Aku paham dengan situasi kamu dan kedua orang tuamu. Soalnya aku sendiri adalah korban dari Kanaya. Tapi kamunya tidak sadar. Kamu malah memilih untuk diam dan melawanku habis-habisan. Memang cinta itu buta. Membutakan semua perasaan dan hatimu. Kedua orang tuamu hingga menangisi keadaanmu. Kamu itu dijadikan robot sama Kanaya. Tapi kamu nggak sadar. Kamu tahu, kenapa Kanaya menjadikan kamu seorang robot? Karena ada Gilang di belakang. kamu nggak pernah sadar, kalau Gilang ingin sekali membuatmu jatuh miskin. Tapi Gilang tidak pernah berhasil. Paman Herman dan Kak Tio selalu menghalau Gilang melakukannya. mereka berdua sekuat tenaga agar Gilang tidak berhasil mengambil asetmu itu," jelas Adinda yang membuat Budiman langsung shock berat.


Memang benar apa yang dikatakan oleh Adinda. Adinda hanya memberikan sebuah informasi kepada mereka. Dengan kata lain Budiman sadar kalau selama ini hidupnya terancam bahaya. Adinda juga tidak sengaja membantu Budiman. Bukan karena cinta atau sayang. Adinda masih belum puas dengan Kanaya. sebab Kanaya sekarang masih berkeliaran di dunia. Dendamnya terhadap Kanaya semakin besar. Ia tidak akan lagi menghalaunya dan membiarkan dendam itu membara. Mulai saat ini Budiman harus melupakan semuanya. Budiman akan memilih Adinda untuk dijadikan teman dan pendamping hidup selamanya. Meskipun shock berat, Budiman langsung memeluk Adinda untuk meminta maaf.


"Aku sudah memaafkanmu. Ingatlah, suatu hari nanti persahabatan kalian tidak akan pernah pudar sedikitpun. Kalau masalah Gilang, nanti akan ada solusinya. Begitu juga dengan Kanaya. mereka berdua sedang dikejar oleh interpol di beberapa negara. Aku sudah mendengar kabar itu dari Yuki temanku. Tapi mereka masih membebaskan Gilang dan juga Kanaya. Mereka tidak akan menangkapnya sekarang. Kalau soal asetmu, semuanya aman dan terkendali. Paman Herman bersama Kak Tio tidak pernah memakai aset itu. Kamu tidak akan jatuh miskin karena kerja kerasmu. Tetaplah semangat untuk menjadi Budiman yang baik. Nama Budiman itu tidak sembarang orang memilikinya. Ada arti tersembunyi di namamu itu. Aku akan mendampingimu hingga selamanya. Ya Jika kamu nggak selingkuh. Kalau kamu selingkuh aku akan meninggalkanmu. Enak saja. para pria sering banget menyakiti seorang wanita. Aku tidak akan tinggal diam akan hal itu," tutur Adinda dengan nada kesalnya.


"Kok gitu Yang. Berarti kamu menghapuskan angan-anganku setinggi langit untuk memilikimu?" tanya Budiman yang melepaskan Adinda sambil menatapnya dengan sendu.


"Ya iyalah. Memangnya ada seorang perempuan yang terus-terusan dikhianati? Perempuan itu akan menjadi bodoh jika terlalu berharap dengan pria penghianat. Aku juga tidak mau seperti itu. Sebenarnya hidup di dunia itu untuk mencari kebahagiaan. Bukan untuk mencari penderitaan karena cinta. Kalau kamu tidak selingkuh kenapa aku harus pergi? Kamu ini aneh sekali," jawab Adinda sambil tersenyum manis.


"Baiklah. Aku tidak akan selingkuh. Aku berjanji kepadamu. Jadilah istriku selamanya," ucap Budiman yang berjanji dengan perkataannya itu.


"Sekarang kamu harus menuruti keinginanku," sahut Adinda.


"Apa keinginanmu?" tanya Budiman yang menuju ke tempat meja kerjanya.