Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 182



"Besok ya besok. Ngapain juga harus dipikirkan sekarang," jawab Budiman. "yang penting kamu bisa bernafas lega tentang masalah ini semuanya."


"Aku tidak menyangka kalau bisa bertemu dengan Rizal," jelas Adinda.


"Aku juga tidak menyangka kalau diriku bisa menikah dengan kamu," celetuk Budiman.


"Hmmp... sepertinya ada yang salah dengan kamu dech," jelas Adinda.


"Apanya yang salah?" tanya Budiman yang memegang tangan Budiman. "Oh... iya kabar ibu gimana?"


"Kabar ibu sudah baik-baik saja. Aku baru paham apa yang telah terjadi saat ini. Kejadian sehari penuh sudah membuat jantung berdetak kencang seperti ini," jawab Adinda.


"Ya... itu semuanya karena ambisi semata," ucap Budiman yang menggenggam tangan Adinda.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" tanya Adinda. "Jika Gilang sudah tertangkap?"


"Kalau Gilang sudah tertangkap, kemungkinan besar keluarga besarku bisa hidup dengan aman. Aku sendiri sudah tidak aman tinggal bersama mereka. Kadang hidup kami tertekan. Terutama mama yang merasakannya," jawab Budiman. "Bisakah aku memohon ke kamu?"


"Apa itu?" tanya Adinda.


"Jangan pernah kamu lepaskan tender besar itu. Jika kamu lepaskan tender tersebut, kamu yang merugi,' jelas Budiman.


"Aku tidak akan pernah melepaskannya lagi. Mencari tender sama saja mencari jarum dalam jerami. Aku enggak yakin akan memberikan tender tersebut ke Gilang. Karena Gilang sendiri bukan memegang perusahaan dibidang makanan," sambung Adinda. "Kanaya sudah mulai bergerak demi memdapatkan perintah. Kak Rizal sudah memberitahuka kalau Kanaya sudah keluar dari London dan sekarang tiggal di Paris. Kemungkinan besar, Kanaya akan mencari sekutu untuk menghancurkan kamu."


"Itu bukan ide yang sangat buruk sekali. Kenapa kita enggak melawan saja?" tanya Budiman sambil tersenyum sambil mengangkt tubuhnya merangkak naik ke atas tubuh Adinda.


"Ngapain lagi sih kamu?" tanya Adinda yang menyipitkan matanya.


"Ayo kita bercocok tanam lagi!" ajak Budiman yang membuat Adinda mulutnya menganga sempurna.


"Iya," jawab Budiman yang menaruh kepalanya di dada Adinda sambil memejamkan matanya lalu pergi ke alam mimpi.


Tak lama Adinda mendengar dengkuran dari Budiman. Ingin tertawa namun dirinya menahannya. Jujur baginya Budiman itu sangat lucu sekali. Memang benar apa yang dikatakan oleh Rizal. Kalau dirinya ditakdirkan untuk menolong Budiman.


Adinda menatap wajah Budiman. Ia melihat wajah tersebut tidak merasa bosan sama sekali. Ia sangat mengagumi ciptaan Tuhan yang sangat tampan sekali. Senyumnya yang manis dan wajahnya lucu membuatnya terhibur.


Adinda memutuskan untuk tidur. Ia tidak sengaja memeluk kepala Budiman sambil tersenyum manis.


Di kamar hotel, Rizal bersama Yuki sangat bahagia. Sepasang suami istri itu saling menatap dan tidak berkata apapun. Rizal yang dikenal pendiam akhirnya mau menerima Yuki. Yuki pun sama, dirinya sudah mengetahui masa lalu Rizal.


"Apakah kita akan berdiam diri seperti ini? Kalau kita diam seperti ini, tidak ada rasa romantis sama sekali," ucap Rizal.


"Aku tidak ingin berdiam diri seperti ini. Aku sangat bahagia sekali bisa bertemu dengan sahabat lamaku. Hanya dia yang mampu mengerti aku ketika kuliah di Harvard," jelas Yuki.


"Maafkan aku tadi. Aku harus mengatakan semuanya. Lagian Adinda juga bertanya. Ada apa dengan diriku ini yang menghilang tanpa jejak?" kata Rizal yang agak menyesal bertemu dengan Adinda.


"Nggak ada yang salah dari kamu. Aku malah suka kalau kamu jujur dari pihak a ke pihak b. Jadi semuanya itu tidak akan merusak rumah tangga ini," puji Yuki.


"Budiman dan paman Kartolo orangnya memiliki kesamaan yang sama. Sama-sama gila kerja. Sama-sama bucin dan overprotektif. Tapi Adinda aku lihat sangat nyaman sekali berada di samping Budiman. Aku tidak menyangka kalau Budiman bisa berubah dalam waktu dekat. Apa yang dilakukan oleh Adinda sehingga Budiman bisa berubah seperti itu?" tanya Rizal.


"Katanya sih. Yang aku dapatkan informasinya, Adinda sengaja memberikan sebuah map tentang kejahatan milik Kanaya. Di sana Budiman membaca semuanya dan tubuhnya langsung melemas. Malam itu juga Adinda mengajak Budiman untuk mencari keberadaan Kanaya. Benar saja Kanaya bersama Gilang. Bahkan yang lebih parahnya lagi Kanaya nempel terus bersama Gilang," jawab Yuki.


"Ternyata mereka sangat berbahaya. Apalagi mereka sudah membuat Budiman terkena mental. Untung saja Adinda menjadi seorang malaikat yang menolongnya walau terus-terusan terluka," jelas Rizal.


"Kamu benar. Udah malam ayo kita tidur. Kenapa kita begadang terus-terusan seperti ini? Aku jamin keluarga Gilang tidak akan pergi dari negara ini. Bukankah kamu sudah bekerja sama dengan pihak kepolisian di sini?" tanya Yuki.