
“Ya pastinya dimarahin,” jawab Faris.
“Kok bisa?” tanya Netty yang benar-benar terkejut. ]
“Bisa. Kamu harus tahu kalau Budiman sekarang bucin banget sama Adinda. Bahkan sekarang dia sangat protektif banget,” jelas Faris. “Oh.. iya Din... kamu enggak jadi kuliah di Helsinki. Kamu kuliah di London saja.”
“Kenapa enggak jadi disana?” tanya Adinda.
“Aku sudah membicarakan ini sama Paman Herman. Jika tinggal di Helsinki, bagaimana dengan SM Distributor? Aku tidak mungkin bisa menghandle semuanya. Ada salah satu yang berada disana. Jika tidak ada yang disana, maka bisa dipastikan tidak ada yang mengurusnya,” jawab Faris. “Selain itu juga kantor SM distributor sangat dekat sekali. Dari ujung ke ujung. Kamu sama Budiman enggak akan kehabisan energi. Jika kalian selesai kuliah lalu pergi ke kantor.” Jelas Faris.
“Benar juga ya? Apakah kakak enggak cerita tentang soal itu? Kenapa aku enggak boleh melanjutkan ke Harvard?” tanya Adinda yang masih bingung.
“Apakah Budiman tidak cerita? Kalau nyawanya dalam bahaya? Apakah kamu enggak tahu kalau Gilang bekerja sama dengan mafia tersadis di Amerika?” tanya Faris bertubi-tubi.
“Aku tahu akan hal itu. Aku memang mencari informasinya bersama Kak Roni,” jawab Adinda sambil membaca pesan dari Budiman. “Lalu apa masalahnya?”
“Masalahnya adalah nyawa kalian berdua sedang dalam bahaya. Bisa saja Gilang menyuruh mafia itu untuk menghabisi kalian. Untuk lebih jelasnya kamu tanyakan saja pada Budiman. Beberapa hari yang lalu Budiman mulai menyelidiki Gilang. Dia memang ingin memastikan dan mencocokkan hasil pencarianmu dengannya bagaimana? Seratus persen cocok sekali. Bahkan saking cocoknya, Budiman meminta temannya menyelidikinya. Alhasil penyelidikannya sangat mencengangkan. Aku belum sempat membacanya. Kalau kamu ingin tahu selengkapnya, Kamu bisa menanyakan kepada Budiman. Karena Budiman mengetahui kuncinya,” jelas Faris.
Adinda menganggukan kepalanya tanda setuju. Ia harus tahu soal ini. Ia tidak ingin ketinggalan berita soal ini. Ia juga akan mengantisipasi jika ada serangan dari Gilang.
“Tuh... kamu ke Njawe Groups,” ucap Netty yang memberikan berkas-berkas kerja sama dengqan Njawe Groups.
“Kapan ?” tanya Adinda.
“Kurang lebih jam setengah dua belas siang. Pihak Njawe Group akan menyambut kamu dan mengajak makan siang,” jawab Faris.
“Baiklah,” ucap Adinda yang mulai berdiri. “Aku mau berangkat dulu ya?”
“Hati-hati,” seru Netty yang membuat Adinda mengacungkan jempolnya.
Siang ini Adinda langsung berangkat. Ia langsung menuju ke perusahaan Njawe Groups. Panas matahari tak membuat Adinda surut. Ia juga tidak pernah menyerah sedikit pun.
Di dalam perjalanan menuju ke Njawe Groups, Adinda mendapatkan beberapa panggilan dari sang suami. Ia tidak mengangkatnya karena takut Budiman tahu kalau dirinya sedang keluyuran.
“Kenapa sih kak Budiman menghubungiku? Apakah jangan-jangan Kak Budiman tahu kalau aku tidak berada di rumah,” gerutu Adinda.
Untung saja saat itu Jakarta tidak terkena macet sama sekali. Ia lebih mengendarai mobilnya dengan tempo sedang. Bahkan dirinya tidak ada kendala saat berkendara.
Sesampainya di Njawe Group, Adinda mendapatkan parkiran khusus pengunjung. Sebelum keluar Adinda melihat perusahaan berlantai lima. Sungguh takjub ia melihatnya. Ia tidak menyangka kalau perusahaan itu sangat terkenal. Bahkan saat menjabat Adinda bersama Papa mertuanya melakukan persaingan sehat. Papa mertuanya itu memang mengakui kalau Adinda sangat jago sekali. Setelah menikah Adinda diberikan hadiah saham sebesar dua puluh lima persen. Ia mendapatkan kedudukan terhormat di komisaris pemegang saham tersebut.
Adinda langsung masuk ke dalam perusahaan tersebut. Ia berjalan dengan elegan. Para karyawan di sana sangat mengagumi kepandaian dan keramahan Adinda. Saat di lobby, Adinda melihat meja resepsionis. Sebelum menyapa, Adinda menyapanya terlebih dahulu. Sang resepsionis di sana langsung menyambutnya dengan ramah. Ia langsung memberikan tahu apa tujuannya kesini. Sang resepsionis tersebut langsung menyambungkan panggilannya ke Tio.
Tio yang berada di ruangan kerjanya sangat terkejut karena mendengar telepon desknya berbunyi. Ia segera mengangkatnya dan berbicara pada sang resepsionis. Ia sangat terkejut sekali ketika mengetahui siapa yang datang kali ini. Namun sang resepsionis tersebut tidak memberitahukan namanya.
Setelah itu Tio menyuruhnya masuk ke atas langsung. Ia tidak bisa menjemput Adinda saat ini. Ia sangat disibukkan oleh pekerjaan yang menumpuk. ‘
“Kamu dimana Din?” tanya Budiman dalam hati sambil menghisap rokoknya.
Selang beberapa menit kemudian datang Adinda sambil membawa berkas. Ia segera melihat Budiman yang sedang merokok. Dengan cepat Adinda membuang rokok itu dan menginjaknya di lantai.
Budiman sangat terkejut sekali. Ia menatap Adinda yang sangat cantik bak bidadari. Ia bingung harus berkata apa? Ia langsung memeluk tubuh. Adinda sambil bertanya. “Kamu itu kemana saja sih?”
“Aku berada di SM Company. Aku ingin membantu Kak Faris sebentar buat mengurusi proyek kerja sama Njawe Group,” jawab Adinda.
Sementara itu Tio keluar dan melihat Budiman sedang memeluk seorang perempuan. Ia tidak menyangka kalau perempuan itu adalah Adinda. Ia tersenyum manis melihat Budiman yang ternyata sudah sadar dari sakit gilanya bersama Kanaya. Ia memutuskan untuk masuk ke dalam. Agar tidak mengganggu kisah romantis mereka.
“Kak,” panggil Adinda.
“Apa?” tanya Budiman mengajak Adinda masuk ke dalam. “Sepertinya kamu harus di sini sampai aku pulang.”
“Rasanya tidak etis aku di sini sampai sore,” jawab Adinda.
“Memangnya kenapa kalau kamu di sini?” tanya Budiman. “Apakah ayah Malik marah sama kamu?”
“Aku tidak menjadi masalah seperti ini. Tapi aku bisa saja mengganggu kamu saat bekerja,” jawab Adinda.
“Hmmp.. sepertinya kamu tidak boleh menyerah dengan keadaan. Biasanya kamu suka diberikan laptop lalu bermain-main mencari informasi yang penting menurut kamu,” ucap Budiman.
“Lebih baik kamu harus bekerja dengan baik. Agar kamu bisa mewujudkan cita-citaku,” ujar Adinda.
“Memangnya apa cita-citamu?” tanya Budiman yang belum mengetahui sama sekali.
“Cita-citaku adalah ingin menjadi wanita baik,” sahut Adinda.
“Terus apa hubungannya?” tanya Budiman.
“Apakah kamu tidak ingin mengajakku ke Maldives?” tanya Adinda.
“Kamu mau kesana?’ tanya Budiman.
“Aku ingin kesana. Tapi kalau kamu enggak mau ya enggak apa-apa,” jawab Adinda.
“Bukannya enggak mau. Justru itu aku ingin kesana. Tapi aku kesana sama siapa? Aku sendiri bingung pada waktu itu. Apakah aku akan melihat orang pacaran?” tanya Budiman.
“Lalu sekarang?” tanya Adinda.
“Sekarang kalau kamu mau ayolah,” ajak Budiman.
“Ayo kemana?” tanya Adinda yang mengerjai Budiman.