
"Ya... aku tahu semuanya. Kami sering bercanda ketika berada di rumah. Papa Kartolo dan Ayah malik adalah kedua pria yang sangat kocak sekali. Bahkan mereka suka sekali bercanda. Makanya aku menyukai rumah kamu. Aku sangat betah di rumah kamu. Ketika ayah ibu sedang sibuk sekali," jelas Adinda.
"Hmmp... baiklah kalau begitu. Syukurlah kamu tidal marah sama sekali. Aku bisa tenang karena kamu bisa menerima kedua orang tuaku dengan tingkah kekonyolannya," celetuk Budiman yang membuat Adinda tersenyum.
"Besok ke Singapura?" tanya Adinda.
"Ya... kita akan terbang pagi hari. Kemungkinan Tio dan Andara akan berangkat terlebih dahulu," jawab Budiman.
"Syukurlah. Papa dan mama mengajak kita berdua esok hari. Sepertinya akan ada pembicaraan serius tentang masalah ini dengan paman Husein," kata Adinda.
"Ya... kita harus menemuinya," celetuk Budiman.
Sementara di perusahaan besar yang bernama The Crimson Groups sedang terjadi kekacauan. Kekacauan itu terjadi sebelum jam makan siang. Para karyawannya yang sedang sibuk bekerja langsung terkejut. Karena bos mereka sedang mebgeluarkan taring.
"Apakah kalian tidak merasa kalau pekerjaan ini salah semua!" bentak si bosnya dengan mata menyala.
"Semuanya sudah benar. Beberapa bulan terakhir pemasukkan hanya sedikit," jelas Wida sang karyawati benar-benar ketakutan.
"Bagaimana kalian bekerja? Ha!" hardik si bosnya dengan nada tingginya.
"Kami selalu bekerja dengan baik Tuan," jelas Wida sekali lagi.
"Tuan Gilang! Tuan Gilang!" teriak Dino nama sang asistennya itu.
Dino langsung masuk ke dalam sambil menyerobot barisan beberapa orang sedang menghadap bosnya. Ternyata bosnya itu adalah Gilang. Ia sangat marah karena mengetahui pendapatan beberapa bulan ini sedang menurun drastis.
"Ada apa Dino?" bentak Gilang masih emosi karena masalah belum selesai.
"Tuan Gilang... Nyonya besar dan Tuan besar akan kesini. Mereka meminta waktu untuk mengosongkan jadwal Tuan sekarang juga,' jawab Dino.
"Ya udah kamu kosongkan semuanya jadwal siang ini hingga malam hari!" perintah Gilang yang mengalah kepada kondisi sebenarnya. "Apakah mereka sedang menuju kesini?"
"Mereka sudah sampai lobi," jawab Dino.
"Kalau begitu, kalian bubar. Kali ini kalian selamat. Tapi ingat besok akan aku lanjut lagi!" titah Gilang yang menatap wajah mereka.
Mereka menganggukan kepalanya tanda setuju. Mereka langsung keluar dari ruangan itu dengan perasaan lega. Untung saja Gilang memberikan waktu bernafas selama sehari penuh dimulai dari sekarang hingga esok hari. Mereka juga berharap. besok Gilang tidak semarah ini.
"Kenapa kalian sangat pucat sekali?" tanya Gilang yang sengaja meledek kedua orang tuanya itu.
"Kami enggak pucat!' seru Gina sambil menatap tajam ke arah Gilang.
"Lalu apa?" tanya Gilang yang mengerutkan keningnya.
"Kamu tahu Adinda? Dia sudah berhasil membuat para pemegang saham lainnya tunduk," jawab Gina.
Seketika Gilang sangat terkejut sekali. Ia bingung langsung merasakan jantungnya berdebar dengan cepat. Ia menatap ke arah mamanya sambil memegangi jantungnya itu.
"Apakah itu benar?" tanya Gilang.
"Ya itu benar. Jadi Budiman saat ini masih menduduki jabatan CEO di Njawe Groups," jawab Gandi yang memberikan kabar buruk buat Gilang.
Gilang langsung jatuh tersungkur. Ia tidak menyangka kalau ambisinya ingin menduduki jabatan CEO di Njawe Groups akhirnya gagal total.
Melihat Gilang jatuh tersungkur, Gina dan Gandi panik setengah mati. Gina sebagai seorang ibu langsung keluar dari ruangan itu untuk memanggil Dino.
Dino yang sedang mengecek tugas-tugasnya itu terkejut. Pria bertubuh lunak itu bergegas meninggalkan ruangannya. Ia melihat Gina sang nyonya besarnya sangat panik sekali.
"Ada apa nyonya?" tanya Dino yang mengerutkan keningnya.
"Gilang pingsan!" teriak Gina di dekat telinga Dino.
Dini yang mendengar teriakan dari Gina merasakan telinganya berdengung. Jujur suara Gina seperti suara seperti bom atom yang sedang meledak di depannya itu.
Dengan cepat Dino masuk ke dalam dan melihat Gilang yang masih pingsan sambil memegangi jantungnya. Namun Dino segera mendekatinya. Ia jongkok dan meraih pergelangan tangannya. Sebelum mengecek nadi milik Gilang, Gandi dan Gina berteriak secara bersamaan.
"Hey... kamu apa-apaan? Seharusnya kamu memanggil dokter buat Gilang! Bukan memegangi pergelangan tangannya itu!" seru mereka dengan kompak.
Asli ini sangat ribet buat Dino. Kenapa sedari tadi salah satu dari mereka seharusnya menghubungi dokter? Malah si nyonya besarnya itu memanggil dirinya.
Mau tidak mau Dino segera menuju ke phone desknya. Ia langsung menghubungi dokter keluarga. Setelah menghubungi dokter langganan mereka, Dino jongkok lagi.
"Dino!" bentak Gandi yang melihat Dino tidak mengangkat Gilang.