Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 48



"Sejak sekarang Din. Kita kan sudah resmi menjadi suami istri," jawab Budiman.


Beberapa saat kemudian Budiman seketika berhenti. Ia tidak sengaja melihat beberapa preman bertubuh kekar mendekatinya.


Sedangkan Adinda yang melihat Budiman berhenti, ia mengerutkan keningnya. Ia juga tidak sengaja menangkap kehadiran para preman tersebut. Ia tidak menyangka bahwa malam ini akan bertemu dengan preman.


"Ini pasti kerjaannya Kanaya. Kalau enggak Kanaya pasti Gilang. Mereka memang suka dengan adegan kekerasan. Mereka dibayar dengan harga murah lalu disuruh melakukan tindakan anarki. Yang dimana Kanaya ataupun Gilang berada di dalam mobil. Jika berhasil maka dia akan tertawa terbahak-bahak melihat musuhnya terkapar," bisik Adinda kepada Budiman.


"Apakah itu benar?" tanya Budiman.


Seluruh preman itu mulai membuat lingkaran dengan rapat. Mereka sengaja tidak memberikan celah untuk Adinda dan Budiman untuk kabur. Salah satu preman yang berkepala plontos itu masuk ke dalam lingkaran. Ia mendekati Budiman dan Adinda.


Sebelum mengeluarkan suaranya, Preman itu tertawa. Ia memang sengaja menakuti mereka. Terutama kepada Adinda. namun Adinda tidak takut sedikit pun. Ia malah santai menghadapinya.


Malam ini terjadilah negoisasi antara mereka dan preman itu. Preman yang mulai mengeluarkan kata-kata pedasnya seperti bon cabe level lima puluh membuat Adinda tidak gentar. Ia malah santai mendapatinya,


Preman itu tidak terima dengan permintaan Adinda. Ia malah mengeluarkan sebilah pisau dari kantong celananya lalu mendekati Budiman. Ia mulai mengayunkan tangannya ke arah perut Budiman. Akan tetapi Adinda yang dalam bahaya langsung masuk ke antara mereka. Hingga terjadi...


Jleb!


Preman itu menusuk perut Adinda berkali-kali sebanyak tujuh kali. Adinda yang merasakan perutnya ditusuk langsung diam dan menatap wajah kepala preman itu dengan tatapan sendu.


Preman yang menusuk tadi sudah ditandai oleh Adinda. Ia akan mengingat wajah preman itu. Jika ia diberikan kesempatan hidup maka terjadi pembalasan dendam secara besar-besaran.


Adinda jatuh tersungkur dan memegang perutnya. lalu Budiman yang melihat Adinda jatuh tersungkur langsung mengeluarkan amarah. Ia mulai menangis dan melihat keadaan Adinda tidak baik-baik saja. Ia memutuskan untuk menolong Adinda ketimbang harus berantem sama preman tersebut.


Bagaimana dengan preman itu? Preman itu memilih untuk pergi. Mereka menghilang di kegelapan malam. Mereka takut kalau tertangkap sama pihak aparat terkait.


Saat menggendong Adinda, Budiman ingin memberhentikan salah satu mobil yang sedang berlalu lalang. Namun mobil-mobil itu tidak ada berhenti sama sekali. Malahan mereka menancap gasnya karena takut terseret hukum.


Tiba-tiba saja ada sebuah mobil SUV putih berhenti di depan Budiman. Sang pemilik mobil itu keluar dan melihat Budiman yang tidak baik-baik saja. Kemudian ia menatap wajah Adinda yang mulai pucat


"Dinda," ucap sang pemilik mobil itu.


Budiman yang baru saja tersadar dengan sang pemilik mobil itu langsung memohon kepadanya. Ia memintanya untuk diantarkan ke rumah sakit terdekat. Dengan cepat sang pemilik mobil itu langsung membuka pintu belakang dan menyuruhnya masuk ke dalam.


"Masuklah!" suruh sang pemilik mobil itu.


Budiman masuk ke dalam dengan menggendong Adinda. Ia memangku Adinda sambil menepuk-nepuk pipi sang istri agar bangun. Akan tetapi Adinda tidak sadar. ia terus memanggil nama Adinda dengan suara parau ya.


Sang pemilik mobil itu melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit. Ia menancapkan gasnya hingga kecepatan tinggi. Ia tidak perduli lagi dengan pemilik mobil lainnya. Yang penting sampai ke rumah sakit.


"Panggil terus namanya! Jangan buat dia terlelap tidur!" bentak sang pemilik mobil itu ke Budiman.


Budiman terpaksa melakukannya. Ia terus saja memanggil nama Adinda berulang kali. Namun apa daya, Adinda tidak mendengarnya sama sekali.


Sesampainya di rumah sakit, sang pemilik mobil itu membantu Anda untuk dibaringkan ke atas brangkar. Ia meminta sang suster untuk menanganinya.


Para suster yang berjaga baru sadar atas kedatangan pasien. Dengan sigap mereka membawa Adinda ke unit gawat darurat. Di sana Adinda mulai dirawat.


Budiman bersama sang pemilik mobil itu mengejar Adinda pergi menyusul Adinda. Baju putih yang dipakaoi oleh Budiman terkena darah Adinda. Ia tidak perduli pada keadaannya.


"Besok Pak Kartolo memintamu kembali ke kantor," ucap sang pemilik mobil itu.


Budiman yang baru sadar atas kehadiran Tio yang ternyata adalah sang pemilik mobil. Ia menunduk sambil menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Aku tidak akan kembali ke kantor sebelum Adinda pulih."


"Itu urusan kamu sama Pak Kartolo. Aku hanya menyampaikan amanatnya ke kamu. Bapak tadi menghubungi kamu tetapi tidak bisa," ucap Tio yang secara blak-blakan.


"Aku tadi sengaja mematikan ponselku. Agar semua orang tidak bisa menghubungi aku dan juga Adinda," jelas Budiman.


"Kamu gila ya? Kalau begini kamu bisa apa?" tanya Tio yang benar-benar marah.


Budiman menyadarinya kalau dirinya memang gila. Ia sadar kalau dirinya sedang mematikan ponselnya. Ia ingin mencoba hidup bersama Adinda tanpa ada gangguan apapun.


Tapi nyatanya masalah ini menjadi sangat besar. Ia baru menyadari kalau kehadiran Adinda sangat tepat di hidupnya. Ia mengaku salah kepada Tio. Tidak seharusnya ia mematikan ponselnya dan memberitahukan keberadaannya di mana.


"Hubungi segera kedua orang tuanya. Suruh ke sini dan ceritakan bagaimana asal muasal kejadian ini. Semoga saja Herman mau membantu kita," jawab Tio yang memberikan saran kepada Budiman.


"Apakah mereka tidak marah sama aku?" tanya Budiman yang benar-benar menyesali perbuatannya.


"Paling kamu diceramahin selama dua jam tanpa henti. Mereka bukan keluarga pendendam. Kejadian ini adalah Di luar batas kita. Kita nggak tahu siapa yang akan menjadi korbannya? Seperti Adinda untuk saat ini," jawab Tio sambil menyodorkan ponselnya.


Budiman hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar. Ia harus menghadapi kedua orang tuanya Adinda dan juga pamannya itu. Mau tidak mau dirinya harus menerima kenyataan pahit ini. Budiman akan terkena masalah besar di hidupnya.


Budiman meminta Malik untuk pergi ke rumah sakit. Namun ia tidak memberikan informasi tentang Adinda. Ia sangat takut sekali jika Malik memarahi Budiman habis-habisan.


Saat waktu bersamaan, Malik menolaknya. Karena Malik saat itu sedang beristirahat. Dengan terpaksa Malik mematikan sambungan telepon itu dan memaki Budiman.


Melihat Budiman yang berputus asa, Tio mulia kesal dengan sahabatnya itu. Tio ingin memarahi Budiman habis-habisan. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Budiman.


"Kenapa kamu tidak cerita tentang keadaan Adinda? Kamu malah menyuruh ayah mertuamu kesini tanpa ada alasan apapun. Aku yakin ayah mertuamu pasti malas kesini," kesal Tio yang sudah menahan amarahnya.


"Kamu hubungi saja dech. Ketimbang aku yang kena omel. Aku belum siap mendapatkan omelan dari ayah mertua," jelas Budiman yang membuat Tio ingin menghajarnya saat ini juga.


"terserah apa katamu. Kamu memang brengs*k jadi orang. Harusnya kamu bertanggung jawab terhadap Adinda. Malah aku yang bertanggung jawab," ucap Tio dengan malas.


"Please.. tolonglah... aku memang lemah dengan masalah ini. Kamu harus membantuku saat ini juga," Budiman mencoba merayu Tio agar segera membantunya.


"Baiklah... kali ini aku akan membantumu," ujar Tio yang terpaksa.


Malik yang sudah terbaring di ranjang sangat kesal kepada Budiman. Bisa-bisanya ia disuruh ke rumah sakit. Namun dirinya sekarang masih bersabar untuk menghadapi Budiman.


Tak selang beberapa lama datang Tia. wanita paruh baya itu segera mendekati Malik sambil menghempaskan bokongnya di tepi ranjang.


"Kamu lagi apa?" tanya Tia.


"Sedang kesal," jawab Malik.


"Apakah masakanku tidak enak?" tanya Tia yang mencari penyebabnya ketika sang suami kesal.


"Enak. Rasanya pas. tidak manis dan asin berlebihan. Aku ingin makan kepala kakap merah ya," jawab Malik.


"Baiklah. Aku buatkan. Adinda juga sangat suka dengan menu kepala kakap merah," ucap Tia yang mengetahui makanan favorit Adinda.


"Oke," sahut Malik yang memegang tubuh Tia dari belakang. "Aku kesal Budiman menyuruhku ke rumah sakit."


"Ngapain kamu kesana? Apakah ada sesuatu?" tanya Tia yang penasaran dengan Budiman.


"Alasannya aku enggak tahu itu. Aku sendiri ingin menghajar itu bocah," jelas Malik.


"Kamu itu selalu saja membuat keonaran. Nggak anaknya nggak bapaknya sama saja. Bisa nggak sih kamu nggak membuat onar sedikit saja," kesal Tia.


"Aku tidak membuat masalah sayangku. Kamu tahu nggak kalau Budiman itu memang brengs*k. Selalu saja membuat masalah dari SMA hingga detik ini," sahut Malik yang tidak terima dengan kekesalan Tia.


"Bukannya Budiman dulu adalah siswamu?"


"Iya ya kok aku baru sadar kalau Budiman itu bekasnya anak didikku di kampus tersebut. Kenapa juga aku memberikannya dia nilai bagus saat lulus kuliah?" Kesel Malik.


"Ya Itu tergantung kamu. Kamu bilang sendiri kalau dia memang cerdas.


"Cerdas sih cerdas. Tapi kelakuannya selalu saja membuat onar di tempat kuliahan. Beberapa cowok tiba-tiba diajak berantem. Kalau nggak cewek-ceweknya dikerjain habis-habisan."


"Berarti Budiman saat itu?"


"Dia aslinya memiliki sifat yang hangat. Herman mengatakan kalau Budiman itu memiliki sifat yang baik dan sopan santun kepada orang yang lebih tua. Gara-gara kenal Kanaya, Budiman tidak karu-karuan."


"Apa sih peran pentingnya Kanaya buat Budiman? Kok selama ini aku sangat penasaran sekali," tanya Tia yang penasaran sekali dengan Kanaya.