
“Itu semuanya terserah kamu. Adinda akan memberikan ilmu-ilmunya dengan free ke kamu. Tapi perlu kamu ingat. Belajarlah dengan serius jangan suka bercanda. Aku yakin kamu akan bisa menjadi seorang CEO yang sukses dan memegang perusahaan ini,” jawab Tio sambil berdoa kepada Tuhan agar Andara menjadi orang sukses.
“Terus kita nggak menikah gitu?” tanya Andara sambil menatap wajah Tio.
“Yang namanya menikahi itu akan terjadi pada waktunya. Kalau berjodoh kita akan menikah dan hidup bersama dengan bahagia. Sekarang nikmatilah dirimu sebagai seorang karyawan milik kakakmu sendiri. Aku yakin kamu bisa melakukannya,” ucap Tio.
“Bagaimana hasil keputusan rapat kemarin?” tanya Andara yang memegang ponselnya sambil berkirim pesan kepada Adinda.
“Rapat yang sangat membingungkan. Kalau kamu memiliki beberapa persen saham. Kamu pasti bisa ikut rapat tersebut. Aku yakin itu semuanya. Karena aku percaya denganmu,” jelas Tio.
“Jika benar-benar membingungkan, berarti ada udang di balik batu. Aku yakin Gilang ikut rapat di sana,” celetuk Andara.
“Gilang tidak pernah ikut dalam rapat ini. Kalau rapat telah tiba, Gilang meminta kedua orang tuanya datang dan mewakili dirinya. Makanya setiap rapat, Adinda tidak pernah hadir dalam acara tersebut. Adinda sangat muat sekali ketika bertemu dengan kedua orang tuanya Gilang,” jawab Tio.
“Aku takut Kak Budiman lengser dari kursinya itu. Setelah kepergian Kanaya, Kak Budiman mulai kembali ke dalam mode dulu. Yang di mana mode itu ingin meraih cita-citanya setinggi langit. Analisisku apa yang dikerjakan oleh kak Budiman itu sudah benar. Aku tidak memihak kepada kakakku sendiri. Sebab aku mengatakan ini fakta sesungguhnya,” jelas Andara.
“Mereka tidak tahu tentang apa artinya fakta. Mereka hanya bisa memprovokasi banyak orang untuk mengikuti keinginannya,” jelas Tio. “Kenapa sih kita bahas tentang orang itu? Bukankah kita sedang berdua dan merajut kasih agar saling mengenal? Oh... ya satu lagi, buatin aku kopi.”
“Apa?” pekik Andara. “Kakak belum minum kopi ya?”
“Aku bangun kesiangan. Kamu tahu jam beker kesayanganku rusak. Ponselku mati karena kehabisan daya. Untung saja aku dibangunin sama ibu untuk berbelanja ke pasar,” jelas Tio. “Makanya aku sendiri tidak sempat membuat kopi.”
“Okelah. Kita barter. Aku akan membuatkan kopi. Tapi nanti aku pulang nebeng sama kamu,” pinta Andara.
“Lha terus? Bukankah setiap hari kita pulang bersama?” tanya Tio yang sengaja menghentikan pekerjaannya.
“Tapi kamu itu kaya es batu. Kamu jarang sekali berbicara sama sekali,” kesal Andara.
“Aku masih mengerjakan tugas yang berat dari kakakmu untuk mengantarkan kamu sampai ke rumah," jelas Tio yang sebenarnya menahan tawanya.
“Jaga image banget sih kamu. Bisa-bisanya kamu tidak pernah mengeluarkan suara. Lebih baik aku akan mengajukan kepada papa. Biar Kang Asep yang akan mengantarkan aku,” kesal Andara yang langsung berdiri dan meninggalkan Tio sambil membanting pintu dengan kasar.
Saat keluar dari ruangan, Andara langsung cemberut. Ia merasakan dirinya seakan tidak berarti di mata Tio. Ia harus mencari cara agar Tio berbicara sepanjang perjalanan.
“Dasar es batu! Untung saja Kak Budiman tidak menjadi es batu lagi! Kalau sampai Kak Budiman menjadi es batu. Kemungkinan Adinda akan menendangnya hingga jatuh dari ranjang,” kesal Andara yang tidak sengaja didengarkan oleh Budiman dan juga Adinda.
“Nda,” panggil Adinda yang mengerutkan keningnya.
Seketika Andara terdiam dan berhenti sambil mendengarkan suara Adinda. Ia merasa horor dan mencoba menutup wajahnya sambil komat-kamit. Dalam hati Andara, jangan sampai tahu jika Adinda mendengarnya.
“Nda,” panggil Adinda.
“Eh... kakak ipar,” sahut Andara sambil pura-pura tidak mengerti.
“Kamu ngapain bawa-bawa nama aku?” tanya Adinda yang mengerutkan keningnya.
"Hehehe... maaf kak. Aku tidak sengaja dan sekarang lagi kesal terhadap asistennya suami kakak itu,” jawab Andara.
“Ngapain kamu kesal terhadap Tio?” tanya Budiman yang masih berdiri menatap Andara masih memunggunginya.
“Aku kesal karena Kak Tio orangnya sering banget menjadi es batu. Masa setiap pulang ke rumah, Kak Tio hanya terdiam dan membiarkan aku tidak berbicara sedikit pun,” kesal Andara.
“Oh... ya hanya itu saja?” tanya Budiman.
“Iya kak. Aku mau mengajukan kalau pulang dijemput sama Kang Asep saja,” pinta Andara.
“Lalu bagaimana dengan Kak Tio? Bukannya kamu bisa ikut pulang bersama? Terus Kak Tio kan serumah dengan kamu,” tanya Adinda yang membuat mata Budiman membulat sempurna.